ItWorks- Riset bertajuk ‘Digital Frontiers 4.0 Study’ yang dilakukan bersama VMware, pengembang global bidang peranti lunak kelas enterprise pada bulan April 2022 menunjukkan, konsumen di Asia Tenggara (SEA) paling siap menyambut masa depan digital.
Riset untuk mengungkap perilaku, preferensi dan sikap terhadap layanan dan pengalaman digital dilakukan terhadap 9.728 konsumen di sejumlah negara. Di antaranya Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Filipina, Korea, Jepang, dan juga Amerika Serikat, Inggris Raya, Jerman, Italia dan Prancis.
Menurut riset, kalangan konsumen di Asia Tenggara (SEA) dianggap sebagai yang paling siap dalam menyambut hadirnya masa depan digital. Digambarkan bahwa responden di kawasan Asia Tenggara adalah yang paling antusias dalam menyambut peluang-peluang baru dalam transformasi digital maupun manfaat-manfaat yang dibawa melalui kehadiran aplikasi-aplikasi baru, seperti Metaverse.
Namun di sisi lain, muncul pula kekhawatiran yang menyangkut kerahasiaan dan keamanan data pribadi. Ini sekaligus memperlebar kesenjangan antara kalangan yang sudah mafhum dengan teknologi dengan mereka yang punya kerentanan tinggi. Karena itu, dibutuhkan peran serta dari pihak organisasi maupun konsumen agar dapat bersama-sama merealisasikan bagaimana teknologi bisa makin membawa manfaat bagi kemaslahatan masyarakat.
Hasil riset juga menunjukkan bahwa Konsumen dari Asia Tenggara menunjukkan antusiasmenya dalam menerima kehadiran transformasi digital. Ini diindikasikan dari banyaknya (51%) responden yang menyatakan kesiapan mereka menyambut hadirkan layanan kesehatan dan kedaruratan berbasis robot.
Sementara itu, 40% konsumen dari Asia Tenggara juga yakin bahwa metaverse akan diminati masyarakat. Angka ini 10% lebih tinggi dari rata-rata global (27%). Yang lebih mengejutkan lagi adalah responden dari kawasan ini (36%) merasa tidak masalah jika harus menghabiskan waktu lebih untuk menyelami dunia metaverse dari pada dunia nyata.
Digitalisasi Jadi Pilar Pertumbuhan Ekonomi Pasca Pandemi
Disenbutkan, lebih dari tiga perempat (76,2%) responden di AsiaTenggara yakin bahwa teknologi lebih dianggap sebagai enabler dari pada sebuah kendala bagi masyarakat selama pandemi COVID-19 melanda dunia – ini 4% lebih tinggi dari angka rata-rata global. Angka persentase dari responden di Asia Tenggara juga yang tertinggi di kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ) dengan sebanyak 77% konsumen melihat ada kemajuan dari proses digitalisasi. Ini terlihat terutama dari pangsa kerja baru dan kehidupan mereka sehari-hari hari ini, dibandingkan dengan tahun lalu. Sementara itu untuk responden Korea sebesar 66,5% dan Jepang 48%.
Korea Selatan dianggap sebagai yang paling antusias dan siap (64%), kemudian disusul oleh kawasan Asia Tenggara (62), dalam merasakan adanya pengalaman digital yang kian baik dalam kehidupan mereka. Angka ini menempatkan konsumen dari kawasan APJ menjadi kawasan dengan persentase tertinggi dibandingkan dengan kawasan-kawasan lain di dunia, seperti US (35%), Inggris Raya (37%), Jerman (46%), Perancis (37%), Italia (50%) dan Spanyol (47%).
Bagi dunia bisnis, tren ini juga harus menjadi perhatian tersendiri. Transformasi digital bukan sekadar menjadi kriteria dalam sebuah bisnis masa kini. Bagi bisnis, maknanya lebih ke filosofis. Agar pertumbuhan terus melaju, perusahaan harus mendukung terwujudnya inovasi digital dengan kendali penuh di tangan enterprise dengan memberikan otonomi bagi para pengembang, meningkatkan produktivitas karyawan, serta dengan kontrol yang tinggi bagi bisnis.
“Memasuki dekade baru di mana bermunculan inovasi-inovasi baru yang disruptif di sektor industri maupun bangsa-bangsa di dunia, perusahaan perlu lebih ketat dalam menghadirkan penawaran-penawaran digital yang aman dan lancar bagi pengguna akhir mereka,” tutur Paul Simos, Vice President and Managing Director, Southeast Asia and Korea, VMware dalam keterangan yang dirilis kepada pers, baru-baru.
Secara khusus hasil riset juga menyoroti fenomen yang ada di Indonesia. Berikut sorotan pada temuan riset khusus untuk Indonesia yang berhasil dirangkum:
• 78% responden Indonesia yakin bahwa teknologi punya andil penting dalam kemajuan digital bangsa melalui terciptanya peluang-peluang kerja baru maupun taraf kehidupan yang meningkat.
• 60% konsumen Indonesia meyakini akan pentingnya peran teknologi-teknologi mutakhir dalam turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
• Sekitar tujuh dari sepuluh konsumen di Indonesia (78%) yakin bahwa selama ini teknologi justru punya peran sebagai enabler penting bagi terkoneksinya masyarakat selama pandemi berlangsung, alih-alih sebagai hambatan.
• 64% konsumen Indonesia yakin bahwa peningkatan kualitas dalam menikmati pengalaman digital di kehidupan sehari-hari membawa kegembiraan tersendiri bagi mereka, alih-alih kekhawatiran. Persentase responden Indonesia ini tertinggi kedua di regional Asia Tenggara, setelah Thailand.
• Indonesia menaruh kepercayaan tinggi pada institusi pendidikan (60%), disusul pada organisasi yang menyelenggarakan model kerja di ruang digital (47%), kemudian pada institusi pemerintahan (40%)
• 34% responden Indonesia antusias untuk melakukan konsultasi medis secara virtual. Ini terutama apabila layanan tersebut mampu memangkas waktu tunggu di klinik. Angka yang disampaikan oleh responden Indonesia menjadi yang tertinggi kedua di regional, setelah Malaysia.
• 63% responden Indonesia berharap penyedia-penyedia layanan keuangan mulai menggunakan teknologi, seperti artificial intelligence dan machine learning dalam melindungi data maupun dana mereka. Angka ini merupakan tertinggi kedua di regional, setelah Thailand.
• 38% konsumen Indonesia yakin bahwa Metaverse akan membawa manfaat bagi masyarakat di masa depan. Angka ini 9% leibh tinggi dari angka rata-rata global.
• 58% responden Indonesia merasa antusias dengan makin meluasnya penggunaan kendaraan elektronik dalam turut memangkas emisi di bidang transportasi di wilayah-wilayah urban. Angka ini tertinggi di regional.
• Bagi masyarakat Indonesia, kekhawatiran terbesar mereka pada teknologi adalah terkait kerahasiaan data akibat terlalu banyak akses ke data pribadi oleh organisasi (29%), kemudian kekhawatiran soal hilangnya data akibat ulah-ulah kejahatan (24%)
• 81% konsumen Indonesia sepakat bahwa dalam rangka terwujudnya masyarakat yang serba digital, konektivitas di wilayah-wilayah rural harus ditingkatkan. Angka ini tertinggi di regional. (AC)














