Sebagai salah satu finalis ajang TOP Digital Awards 2022, PT Bank Pembangunan Daerah Bali (Bank BPD Bali) telah menyelesaikan satu rangkaian acara, yakni sesi penjurian. Di sesi yang mempertemukan peserta dan dewan juri TOP Digital Awards 2022 ini hadir segenap pimpinan dari Bank BPD Bali, di antaranya I Nyoman Sudharma sebagai Direktur Utama, Ida Bagus Gede Yasa sebagai Direktur Operasional, dan A.A. Indraprasta Yasa selaku Kepala Divisi Teknologi Informasi.
Di awal paparan, secara singkat dikatakan bahwa sesuai dengan visi dan misi yang diusungnya Bank BPD Bali memiliki fokus untuk melayani UMKM. Visi Bank BPD Bali sendiri adalah Menjadi Bank Yang Kuat, Berdaya Saing Tinggi, dan Terkemuka dalam Melayani UMKM serta Berkontribusi Bagi Pertumbuhan Perekonomian Daerah yang Berkelanjutan.
Adapun misi yang dicanangkan Bank BPD Bali, antara lain:
- Memberikan solusi produk, layanan, dan/atau jasa keuangan yang inovatif melalui pengembangan ekosistem digital.
- Memberdayakan sektor UMKM dalam rangka menggerakkan pembangunan daerah.
- Meningkatkan kualitas SDM, teknologi dan informasi serta budaya perusahaan.
- Meningkatkan penerapan tata kelola yang baik, manajemen risiko, dan pengendalian dalam operasional organisasi.
- Meningkatkan kepedulian sosial bagi komunitas dan lingkungan.
“Tentunya visi dan misi ini menjadi satu kesatuan dan inline (dengan) program digitalisasi yang ada di internal kami Bank BPD Bali. Dan tentunya visi dan misi kami didukung oleh strategi bisnis kami dengan penguatan GCG, profil resiko yang (perlu) bagi kami untuk mendapatkan izin-izin dari regulator, utamanya untuk produk-produk baru yang kami luncurkan. Di luar itu kami tentunya meningkatkan daya saing dalam rangka melakukan digitalisasi, terutama untuk memperkuat ekosistem keuangan yang ada di Bali,” ujar I Nyoman Sudharma dihadapan dewan juri, pada Selasa (27/9).
Selain untuk pengembangan Bank BPD Bali sendiri, I Nyoman mengatakan bahwa upaya digitalisasi yang dilakukan juga dalam rangka membantu pemerintah daerah menumbuhkan ekonomi berkelanjutan. Untuk itu, Bank BPD Bali disebut telah membuat kebijakan dan tata kelola IT yang mengacu pada blueprint transformasi digital yang telah diluncurkan OJK.
“Tentunya ini menjadi basic bagi kami, dan kami juga didukung oleh blueprint manajemen resiko. Karena kalau digitalisasi dan teknologi kaitan dengan resiko operasional tentunya harus didukung oleh secara matang di dalam blueprint teknologi informasi, blueprint manajemen resiko, dan kami juga didukung oleh blueprint sumber daya manusia yang kami telah buat, inline dengan program-program pengembangan daripada transformasi digital yang telah dikeluarkan oleh OJK,” kata I Nyoman.
Dari sini, lanjut I Nyoman, telah ada beberapa roadmap yang harus dilakukan berkaitan dengan upaya percepatan transformasi digital termasuk pengembangan digital culture, digital talent, dan digital leadership.
“Ini yang sudah kita promote ke dalam transformasi digital yang kami buat di SDM (sumber daya manusia) juga. (Jadi) tidak hanya (transformasi) digital itu di teknologi, (tetapi juga) tentunya di pengelolaan sumber daya manusia,” tandasnya.
Lebih lanjut di katakan I Nyoman bahwasanya dari sisi pengelolaan infrastruktur ada beberapa aspek yang telah Bank BPD Bali perkuat, tentunya dalam mendukung pengembangan dan terutama juga untuk pengembangan di bidang security system.
“Kami telah bekerja sama dengan BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara), tentunya dalam rangka memperkuat security system. Dengan pengembangan teknologi dan pengembangan produk yang berbasis teknologi tentu inilah yang akan menjadi fokus kita ke depan untuk melakukan mitigasi resiko operasional yang lebih komprehensif. Dan tata kelola monitoring keamanan informasi tentunya didukung oleh perangkat-perangkat yang kami kelola sendiri di Bank BPD Bali, termasuk perangkat DC & DRC yang memang secara komprehensif kami terus lakukan update, dan kami telah melakukan uji coba, melakukan hal tersebut mengacu pada POJK yang mengatur mengenai manajemen resiko di bidang teknologi informasi,” ujarnya.
Lalu, dalam bidang inovasi dan transformasi pada proses bisnis internal, Bank BPD Bali disebut telah melakukan upaya digitalisasi yang bisa meningkatkan atau melakukan efisiensi dari sisi cost yang ada. ”Dan ini bisa kita optimalkan karena di Bali dalam rangka jangkauan layanan teknologi, pemerintah provinsi telah (memberikan) dukungan melalui Bali Smart Island dalam transformasi ekonomi Bali dan saat ini telah membuat Tower Turyapada yang bisa meng-cover jaringan internet 5G yang kuat,” jelasnya.
Sejalan dengan pemerintah Provinsi Bali yang juga sudah memberikan pada setiap desa internet gratis, hal ini disebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah yang bisa dimanfaatkan untuk bisa dioptimalkan dari sisi layanan termasuk dalam rangka untuk penjualan produk-produk berbasis digital.
Menyinggung soal Bank BPD Bali yang fokus melayani UMKM, I Nyoman mengungkap bahwa pihaknya telah melakukan evaluasi atau efisiensi dengan membuat program untuk mendukung di perkreditan terutama di UMKM karena kami fokus ke UMKM. Di mana sampai dengan saat ini disebutkah bahwa porsi kredit UMKM Bank BPD Bali sudah mencapai angka 46% telah melewati rasio yang ditentukan oleh pemerintah/BI yang di tahun 2024 wajib 30%. “Dan kami di tahun 2022 ini sudah mencapai posisi di 46%. Sehingga posisi inilah kami manfaatkan dan fokus kami juga melayani UMKM dengan KUR dan kami dikuatkan ekosistem digitalisasi pembayaran oleh nasabah termasuk digitalisasi proses bisnis melalui Digi Loan yang ada di Bank BPD Bali,” kata I Nyoman.
Selanjutnya, sesuai dengan dengan Inpres No.2 Tahun 2022 mengenai pemberdayaan UMKM dalam pengadaan barang dan jasa, Bank BPD Bali juga sudah melakukan kerja sama dengan e-marketplace yang ada di Bali yang telah mendapatkan sertifikasi dari LKPP tentunya dalam rangka optimalisasi pembiayaan pada UMKM termasuk UMKM on boarding yang ada di Bali.
Solusi Unggulan & IT Maturity Level
Bicara mengenai solusi unggulan, Bank BPD Bali diketahui telah mengembangkan sejumlah inovasi. Misalnya, karena Bali merupakan daerah pariwisata, Bank BPD Bali telah membuat apa yang disebut sebagai e-ticketing pariwisata.
Selanjutnya ada juga solusi untuk implementasi QRIS, yang termasuk di dalamnya QRIS Cross Border. Dalam hal ini, I Nyoman mengatakan bahwa Bangk BPD Bali telah melakukan uji coba dengan Bank of Thailand dan berhasil serta sudah mendapatkan izin.
Selain itu, dengan digelarnya program We Love Bali, di mana di dalamnya ada donasi pariwisata, Bank BPD Bali menjadi backbone untuk transaksinya. ”Sehingga ini bisa memperkuat ekosistem pengembangan sektor keuangan yang ada di Bali dan sejalan dengan transformasi ekonomi Bali, yaitu Bali Smart Island, khususnya berkaitan dengan ekonomi kreatif dan digital,” ujar I Nyoman.
Adapun solusi lain yang juga sudah diterapkan Bank BPD Bali di antaranya E-Retribusi Wisata dan E-Retribusi Pasar dan Sampah.
Hal terakhir yang tidak kalah penting disampaikan saat presentasi penjurian adalah mengenai Digital Transformation Maturity Assessment dalam rangka kesiapan menuru Industry 4.0 dan Society 5.0. Dalam hal ini, Bank BPD Bali telah melakukan assessment, baik untuk Digital Transformation Maturity Assessment maupun Cyber Security Maturity Assessment dengan skor yang baik.
“Berkaitan dengan Maturity Digital Transformation yang dilakukan oleh pihak ketiga oleh Vendor IT khusus yang terpercaya, kami masuk dalam maturity level 3. Dan di luar itu, untuk Cyber Security Maturity Assessment yang dilakukan oleh BSSN kami berada dalam maturity level 4 ‘Dynamic’, yang tentunya menjadi bagian dari upaya kami menjaga kepercayaan masyarakat menggunakan Digital Banking yang ada di Bank BPD Bali,” tutup I Nyoman.














