PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) kembali menjadi salah satu finalis ajang TOP Digital Awards 2022 yang digelar setiap tahun oleh Majalah It Works. Seiring dengan itu, Bank BSI yang merupakan hasil merger tiga bank syariah, yakni Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah, dan BNI Syariah itu telah berhasil melewati fase penjurian yang digelar secara virtual pada 7 Oktober 2022 lalu. Di sesi penjurian inilah banyak terungkap berbagai hal menarik dari Bank BSI. Apa saja, berikut petikannya.
Untuk diketahui, sebagai bank syariah, BSI memiliki visi menjadi ‘Top 10 Global Islamic Bank’. Adapun misi yang dicanangkan antara lain memberikan akses solusi keuangan syariah di Indonesia; menjadi bank besar yang memiliki nilai terbaik bagi para pemegang saham; serta menjadi perusahaan pilihan dan kebanggaan para talenta terbaik Indonesia.
Sejak merger dan resmi beroperasi pada 1 Februari 2021, Bank BSI disebut telah menggapai sejumlah pencapaian dan mendominasi market share untuk kategori bank syariah.
”Jaringan kami sudah mencapai 1000 lebih. Kemudian basis nasabah ini 14 juta dan user mobile banking 4,3 juta danterus bertambah sampai hari ini. Dan jaringan ATM kita sudah lebih dari 2400-an. Untuk market share sendiri untuk syariah, kami sudah mendominasi di 60% dan menjadi Top 10 Bank Domestik di Indonesia,” ungkap Umi Kawiryani Tjiptoningsih, selaku Department Head of Digital Strategy and Customer Experience Bank BSI.
Tidak berhenti sampai di situ, sesuai dengan visi yang diusungnya, Bank BSI berharap bisa bertengger sebagai ‘Top 10 di Global Syariah’. Sejurus dengan itu, beberapa inisiatif pun telah dilakukan Bank BSI, seperti dengan membuka kantor representative di Dubai. ”(Selain itu) kami juga sudah berdiskusi juga dengan Kedubes di Uni Emirat Arab, (guna) mencari potensi-potensi pembukaan kantor representative di Uni Emirat Arab,” ujar Umi Kawiryani.
Fokus Bertransformasi Digital
Soal bagaimana seriusnya Bank BSI dalam melakukan transformasi digital, hal itu bisa dilihat dari berbagai sisi, seperti dari anggaran yang dialokasikan serta dari strategi yang dicanangkan perusahaan. Dari sisi anggaran, misalnya, Umi Kawiryani mengatakan bahwa rasio anggaran IT dengan pendapatan itu sekitar 1,4% dan rasio anggaran IT dengan total biaya 29,13%. Sementara anggaran IT dibandingkan dengan total laba 7,58%.
Singkatnya, disebutkan bahwa dengan total pendapatan Rp16 triliun dan Capex/Opex sekitar Rp700-an miliar, dan total laba Rp3 triliun, biaya IT di Bank BSI sebesar Rp229 miliar.
Adapun dari sisi strategi bisnis di tahun 2022, Bank BSI membaginya dalam empat kategori utama utama, dengan salah satu strategi yang dicanangkan berupa Inisiatif Digital. Adapun tiga strategi lainnya seperti Distribusi dan Efisiensi, Profitabilitas, dan Ekosistem Islam.
“Dari sisi Digital Inisiatif, kami akan launching Super Apps. Kami juga akan mengkonversi beberapa cabang yang ada (existing) menjadi digital box atau bionic banking. Kemudian kami juga (akan) meningkatkan kapabilitas pada layanan non-banking. Jadi, kami akan menambahkan untuk produk investasi dan asuransi yang akan kami tambahkan di Super Apps,” ungkap Umi Kawiryani.
Selanjutnya dalam paparan di hadapan dewan juri, Umi Kawiryani juga menegaskan bahwasanya Bank BSi sangat concern dan fokus untuk mengembangkan transformasi digitalnya. Salah satunya adalah dengan melakukan re-organisasi pada struktur organisasinya. ”Jadi, sekarang itu untuk IT sendiri tidak hanya IT (saja), tetapi didukung dengan Digital Banking. Jadi, rumahnya tidak hanya satu pilar saja, tetapi sudah ada pilar sebelahnya. Jadi, IT oke, digital banking oke,” ujarnya.
Selain itu, untuk mendukung pengembangan platform digital banking yang lebih agile, Bank BSI juga mengembangkan apa yang disebut sebagai Agile Squad. ”Karena tidak dipungkiri untuk pembangunan Super Apps dan Bank as a Service dibutuhkan tim yang Agile yang dipimpin oleh Direktur Bidang Product Owner, IT, and Risk. Kemudian Squad Leader oleh Group Head Product Owner, dan Scrum Master untuk nanti sebagai project leadernya dengan membawahi beberapa spot member,” ungkap Umi Kawiryani.
Menariknya lagi, dalam paparan selanjutnya Umi Kawiryani juga mengungkap bahwa untuk mendukung strategi bisnis bank di tahun 2022, Bank BSI juga sudah menerapkan 7+ IT Stars yang terdiri dari Security, Risk and Fraud: Core System Modernisation; Infrastructur & Connectivity; Integrated Data Management Monitoring & Reporting; Organisation, Corporate Support & Internal Improvements; Unified Platfor & Customer 360; Digital Expansion & Open Banking; serta Enviromental Social & Governance.
Lebih lanjut, dikatakan bahwasanya dalam rangka mengukur sejauh mana IT Maturity Level yang telah diterapkan, Bank BSI juga telah melakukan assessment untuk itu. “Nah, untuk IT Maturity Level sendiri kami melakukan assessment mengadopsi parameter Cobit 5 secara high level. Jadi, kalau misalnya itu standarnya 3, Bank BSI (skornya) itu sudah lebih dari 3, yaitu 3,3,” ujar Umi Kawiryani.
Tingkatkan Keamanan Siber
Keamanan siber menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan, terlebih di sektor perbankan. Dengan aktivitas keuangan dan transaksinya yang besar, keamanan siber menjadi hal yang mutlak diperlukan. Menariknya, pada paparannya, Bank BSI juga tidak mengenyampingkan hal yang berkaitan dengan keamanan siber.
Seperti dikatakan Umi Kawiryani, mengenai kapabilitas keamanan, Bank BSI memiliki beberapa tahap atau bagian. ”Yang pertama, peningkatan kapabilitas keamanan dari mulai untuk impelementasi thread intelligence-nya, (dengan) mempelajari beberapa jenis thread-thread yang mungkin terjadi. Kemudian (yang kedua) kapabilitas SOAR (Security Orchestration Automation and Response) itu juga kami miliki, lalu impelementasi Fraud Service Monitoring kami juga terapkan, dari mulai data loss prevention untuk mendeteksi potensi-potensi pelanggaran data atau transmisi (pencegahan kebocoran data),” ungkap Umi Kawiryani.
Selanjutnya ada juga yang disebut sebagai Privileged Access Management, di mana hanya beberapa orang yang tertentu saja yang memiliki akses. Bank BSI juga telah menerapkan IT Governance atau tata kelola keamanan (security). Sebagai kesiapannya juga dalam menghadapi tantangan cyber security, Bank BSI juga menerapkan National Institute of Standard and Technology terhadap IT Security BSI.
“Jadi, sudah bertaraf internasional dengan Security Operation Center 24 jam tentunya. Dan tiga bulan terakhir berhasil mengidentifikasi dan memblok terhadap serangan itu sekitar 102 juta (diblok) dari eksternal. Jadi, kita berhasil memblok sekitar 250 ribuan (serangan). Inilah peranan Security Operation Center kami. Kemudian (kami) juga dengan menerapkan IT Security yang mencakup identity, proteksi, deteksi, respon, dan recovery,” tutupnya.














