Jakarta, Itech- Pemerintah terus mendorong para peneliti maupun sejumlah lembaga Litbang di bidang sosial humaniora untuk melakukan inovasi dan model risetnya. Tujuannya untuk mempercepat hilirisasi produk-produk riset agar bermanfaat bagi kalangan petani.
Meskipun masih banyak teknologi yang dihasilkan namun ada faktor (x) yang menghambat produk riset pertanian itu, sehingga belum bisa menembus pasar dan kemudian dimanfaatkan petani. Dampaknya produktivitas petani menjadi rendah karena teknologi tersebut kurang dimanfaatkan.
“Kami belum dapat memastikan faktor apa yang menyebabkan teknologi yang diciptakan para peneliti Indonesia itu kalah bersaing. Sampai saat ini faktor penghambat tersebut masih diteliti dan dicari solusinya,” papar Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi Dr. Muhammad Dimyati, dalam temu media bertajuk ‘Membumikan Riset Strategis untuk Kesejahteraan Petani’, di Gedung Balitbang Kementerian Pertanian.
Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementan M Syakir mengatakan, keberadaan teknologi seharusnya mendorong peningkatan produksi berkualitas melalui varietas unggul. Balitbangtan bekerja sama dengan lembaga lainnya telah melakukan mapping ekosistem, aksesibilitas lahan. Sebab, penerapan teknologi hasil riset nantinya menyesuaikan kondisi lahan. Ia berharap teknologi hasil riset Balitbang dapat menjawab berbagai keterbatasan pada sumberdaya yang ada.
Pembicara lainnya, Deputi Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir Dr. Ferhat Aziz, Ditjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, dan Dr. Jumain Appe, Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Dr. Bambang Sunarko, Sekjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian Prof, Dr. Muladno. Para pembicara bertekad mempercepat perwujudan kedaulatan pangan sesuai potensi yang dimiliki masing-masing lembaga guna mempercepat terwujudnya kedaulatan pangan dan kesejahteran petani. (red/ju)














