Penulis: Nurdian Akhmad
Sebagai perusahaan ‘pelat merah’, PT Jasa Raharja memiliki dua fungsi dan tugas utama yakni pertama memberikan santunan kepada masyarakat yang mengalami kecelakaan lalu lintas sesuai ketentuan Program Asuransi Kecelakaan Penumpang Alat Angkutan Umum dan Lalu Lintas Jalan.
Selain itu, Jasa Raharja juga menghimpun dan mengelola dana dari masyarakat guna memenuhi pemberian hak masyarakat atas santunan sesuai UU No 34 Tahun 1964 tentang Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan.
Untuk melaksanakan tugas tersebut, Jasa Raharja berupaya meningkatkan layanan kepada masyarakat dan performa bisnis perusahaan, salah satunya adalah melalui transformasi digital yang intens dilakukan sejak 2020.
Jasa Raharja sudah memiliki ICT (Information and Communication Technology) Roadmap tahun 2020 hingga 2023. Ada lima hal yang menjadi perhatian utama dalam ICT Roadmap ini, yakni Pengembangan Sistem dan Aplikasi, Cyber Security & infrastruktur Layanan TI, Tata Kelola Teknologi Informasi, Pengembangan Kompetensi Pegawai, dan Data Management.
“Pada 2022, kita sudah bisa menyelesaikan hampir seluruh rencana roadmap yang seharusnya diselesaikan pada 2023. Contohnya seperti knowledge management system yang sekarang ini di tahun 2022 sudah diimplementasikan di Jasa Raharja,” kata Dwi Sasono, Kepala Divisi Teknologi Informasi dan Komunikasi PT Jasa Raharja dalam presentasi penjurian TOP Digital Awards 2022 yang dilakukan secara daring, Senin (12/12/2022).
Untuk pengembangan kompetensi pegawai, menurut Dwi Sasono, pihaknya sudah bisa menambah pegawai yang memiliki kompetensi ITIL, TOGAF dan COBIT. “Kita juga bisa mempercepat di area Data Management dan Cyber Security,” ujar Dwi dalam presentasinya yang membawakan materi berjudul Insurance 4.0 and Digital Transformation.
Saat ini, kata Dwi, sebanyak 33 pegawai di divisi TIK (teknologi informasi dan komunikasi) Jasa Raharja sudah memiliki sertifikasi ITIL, 6 pegawai bersertifikat MCP, 2 pegawai memiliki sertifikat COBIT, 7 pegawai bersertifikat TOGAF, 1 pegawai bersertifikat VCPDC, dan 2 pegawai bersertifikat CRGP. “Itu untuk IT certification,” ucapnya.
Sedangkan untuk data science skill & certification, Divisi IT Jasa Raharja memiliki 9 pegawai yang sudah mengikuti IYKRA Data Science dan 5 pegawai mengikuti Telkom TUV Data Science.
Tak hanya di kantor pusat, Jasa Raharja juga berupaya meningkatkan kompetensi TIK untuk pegawai cabang. Pihaknya sudah mengikutkan 1.493 pegawai cabang dan pusat dalam data driven team training, 392 pegawai mengikuti data driven executive training, dan 35 pegawai mengikuti data analytics specialization. Para pegawai ini tersebar di 29 kantor cabang dan 1 kantor pusat.
“Harapannya ini bisa memperkuat strategi divisi TIK dalam menunjang digitalisasi untuk mentransform perusahaan ini bisa lebih berkembang,” kata Dwi Sasono.
Menurut dia, Divisi TIK Jasa Raharja memiliki semangat untuk merespons semua kebutuhan dan ingin selalu berinisiatif. Itu terlihat dari struktur kepegawaian divisi TIK Jasa Raharja di mana lebih dari 74 persen adalah milenial dengan rentang usia 18-40 tahun, sisanya berusia 41 tahun hingga di atas 50 tahun.
Secara total, jumlah pegawai PT Jasa Raharja berjumlah 2.100 orang. Perusahaan memiliki satu Kantor Pusat, 29 Kantor Caban, 63 Kantor Perwakilan, 36 Kantor Layanan, dan 1.584 Samsat.
Platform JRku
Inovasi terbaru Jasa Raharja di tahun 2022 adalah mengembangkan platform aplikasi JRku. JRku merupakan salah satu platform digital yang ada dalam JR Center. Untuk pengembangan JRku sebagai platform application, menurut Dwi Sasono, pihaknya sudah mengembangkan beberapa fitur di dalam aplikasi JRku. Aplikasi JRku mulai 2022 ini sudah dapat memberikan informasi terkait integrasi dan redspot.
Selain itu, kata dia, pihaknya sudah melakukan kerja sama dengan Korlantas Polri untuk informasi tilang elektronik melalui JRku. “Jadi ini satu-satunya aplikasi yang bisa me-remind penggunanya bahwa kendaraanya tertangkap pelanggaran lalu lintas. Saat ini baru JRku yang memberikan informasi tersebut,” ujar Dwi.
Platform lainnya yang ada di JR Center adalah JR Care, SIVERA, HighBond (GRC Audit analytics), SMDD (sistem manajemen dokumen digital), HRIS (sistem informasi human capital), SiDita (penandatanganan elektronik), serta ERP JR sebagai core system.
“Dulu kita masih bicaranya interaksi antara Jasa Raharja, BPJS, Dukcapil dan Kepolisian, tahun ini kita masukkan RS. RS sebelumnya hanya melaporkan data kecelakaan lalu lintas, saat ini juga sudah bisa mengajukan penggantian perawatan melalui JR Care ini,” tutur dia.
Dwi Sasono menjelaskan, transformasi digital di PT Jasa Raharja sudah dilakukan secara end to end baik di internal perusahaan maupun berkolaborasi dengan ekosistem di luar Jasa Raharja.
“Kita sudah berkolaborasi dengan ekosistem di luar Jasa Raharja seperti rumah sakit, Dukcapil, Samsat, Bank, Korlantas, Angkasa Pura I/II, BPJS-TK, BPJS Kesehatan, KAI/KCI, ASDP, Asabri, Dishub, AD Medika dan lainnya,” ujar Dwi.
Menurut dia, realisasi atau output dukungan TI bagi perusahaan ini terbukti oleh kinerja layanan Jasa Raharja yang semakin cepat. Misalnya untuk proses santunan meninggal dunia, pada 2022 ini sudah bisa diselesaikan hanya dalam waktu 1 hari 6 jam. Tahun 2016, proses santunan meninggal dunia di Jasa Raharja bisa memakan waktu hingga 30 hari.
Demikian pula untuk kecepatan berkas di rumah sakit (RS) meningkat sangat signifikan. “Yang sebelumnya pada 2016 membutuhkan waktu 5 jam, pada 2020 berkurang menjadi 2 jam dan saat ini hanya dalam waktu 12 menit 3 detik,” kata Dwi Sasono.
“Ini membuktikan TI yang dideliver benar-benar bisa mempercepat layanan dan meningkatkan kualitas layanan yang diberikan perusahaan kepada stakeholder utama kami,” tuturnya lagi.
Perbaikan juga terlihat di overbooking RS saat ini secara persentase sudah mencapai 95,71 persen. Selain itu, kerja sama dengan RS juga terus meningkat dan saat ini ada 2.4657 RS yang bekerja sama dengan Jasa Raharja. “Meskipun skup kerja sama meningkat, tapi kita bisa meningkatkan kualitas layanan dengan dukungan TI,” ucapnya.
Seiring percepatan transformasi digital yang sebagian besar sudah diimplementasikan pada 2022, manajemen pun menurunkan belanja modal atau Capex IT pada 2023. Total Capex IT 2023 dianggarkan Rp 59,5 miliar, turun 19,93 persen dibandingkan Capex IT 2022 sebesar Rp 74,3 miliar. Anggaran tersebut terutama untuk standardisasi dan modernisasi aplikasi IT, IT Cybersecurity Improvement, dan IT Service and Computation Enhancement. “Memang peaknya di tahun 2022 ini,” ucap Dwi Sasono.
Meski demikian, kata dia, untuk total biaya operasional (Opex) IT 2023 tetap ada sedikit kenaikan dari Rp 87 miliar pada 2022 menjadi Rp 89,8 miliar.
Untuk mengukur tingkat keberhasilan pengelolaan IT di perusahaan, Jasa Raharja pada awal Desember 2022 ini sudah menuntaskan assessment IT maturity berbasis COBIT 2019 dengan score IT Maturity Level yang dicapai 3,46 untuk 24 proses IT. “Kami sangat bersyukur dan semakin confidence karena dengan percepatan transformasi digital ini, kami masih tetap bisa mencapai tata kelola dan kebijakan IT yang baik,” tuturnya.
Keberhasilan pengelolaan IT di Jasa Raharja ini juga sejalan dengan pencapaian perusahaan di sisi governance, risk management dan compliance management alias GRC di tahun 2020.
“Kita baru menyelesaikan BCMS (business continuity management system) berdasarkan ISO 22301 di kuartal III 2022. Jadi kelangsungan layanan TIK tentunya menjadi garda terdepan dalam pengelolaan business continuity Jasa Raharja ke depan,” kata Dwi Sasono.
Peningkatan Tata Kelola IT ke Depan
Untuk meningkatkan tata kelola IT agar bisa jauh lebih baik dari tahun 2022 ini, Jasa Raharja juga sudah memiliki IT Maturity Roadmap untuk tahun 2023-2025. Dalam roadmap ini, untuk tahun 2023 ada Program Management dan Data Management.
Tahun 2023, divisi TIK Jasa Raharja juga akan meningkatkan IT service management baik SC, SLA, INC, REQ, PRB, CMG, RLS, CMOB, dan KNW.
“Tahun depan hingga 2025 kita juga ada rencana memperluas surveillance & recertification ISO 27001 dan ISO 20000. Kemudian memperbaiki IT governance, process measurement, people development dan continues improvement,” tutur Dwi Sasono.
Menurut Dwi Sasono, program kerja prioritas Jasa Raharja tahun 2023 banyak hal yang menjadi tantangan khususnya terkait perubahan sistem pencatatan keuangan, yaitu menerapkan PSAK 74. “Ini menjadi chalenging untuk persiapannya. Kemudian tetap meningkatkan keamanan sistem IT atau IT Cybersecurity,” kata dia.
Tantangan lainnya adalah persiapan implementasi UU No 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi. Ini sangat signifikan karena ada konsekuensi administrasi.














