Jakarta, Itech- Pemerintah saat ini tengah mendorong pengembangan energi tenaga nuklir yang diklaim ramah lingkungan terutama di luar pulau Jawa yang seiring meningkatnya kebutuhan terhadap energi sangat besar. Bahkan, beberapa Gubernur/kepala daerah telah berkirim surat kepada Presiden Jokowi untuk mengusulkan pengembangan energi nuklir sehingga pasokan listrik dapat terpenuhi.
Namun sayangnya, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Sebagai lembaga yang berada langsung di bawah Presiden, dengan koordinasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, tidak diberi kesempatan dan ruang untuk membuktikan bahwa lembaga ini mampu mengembangkan energi nuklir, mengingat kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat.
Di sisi lain, tanpa mengandalkan tenaga nuklir Indonesia akan sulit memenuhi kebutuhan energi masyarakat di masa depan. Seiring dengan semakin tingginya kebutuhan energi, dibarengi dengan tinggi bahan bakar minyak (BBM), atau energi fosil yang semakin lama semakin habis. Karenanya, energi harus diciptakan sehingga pasar pun juga tumbuh.
Mengapa nuklir perlu masuk menopang kebutuhan energi dan listrik di Tanah Air ? Menurut Tumiran, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), ada sejumlah alasan, antara lain pertama terkait keseimbangan energi. Kedua, adanya jaminan pasokan skala besar. Ketiga, aspek keekonomian. Keempat, pertimbangan lingkungan. Kelima, aspek continuity. Keenam, sisi keamanan. Ketujuh, aspek penguasaan teknologi dan kemandirian bangsa.
Sementara itu, Kepala Batan, Djarot Sulistio Wisnubroto mengklaim radioisotop yang dihasilkan Reaktor Serba Guna GA. Siwabessy (RSG-GAS) telah diimpor ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Vietnam dan Jepang. reaktor RSG-GAS, selain bisa menghasilkan radioisotop juga digunakan untuk fasilitas pengujian bahan. Dimanfaatkan antara lain untuk pengujian struktur logam dengan menggunakan radiasi neutron. “Reaktor RSG-GAS dibangun untuk persiapan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN),” katanya di sela Seminar Nasional tentang Teknologi dan Aplikasi Reaktor Nuklir di Puspitek, Serpong, (23/8).
Selain itu, RSG-GAS di Kawasan Nuklir Serpong juga dilengkapi dengan laboratorium penunjang untuk penguatan kapasitas dan kapabilitas sumbe rdaya manusia di bidang nuklir, diantaranya adalah instalasi produksi radioisotop, instalasi fabrikasi bahan bakar reaktor, instalasi limbah radioaktif dan instalasi keselamatan reaktor. lnstalasi produksi radioisotop dimanfaatkan untuk memproses radioisotop yang diproduksi di reaktor, dikemas dan
kemudian dikirim ke pengguna.
“lnstalasi bahan bakar reaktor telah memproduksi elemen bakar yang diperlukan di RSG-GAS. lnstalasi limbah radioaktif digunakan untuk mengolah dan menyimpan limbah radioaktif yang dihasilkan dari reaktor dan limbah dari laboratorium lain, termasuk dari penghasil limbah di luar BATAN. Sedangkan instalasi keselamatan reaktor digunakan untuk melakukan simulasi pengoperasian reaktor, termasuk uji coba operasi pada kondisi abnormal (penyimpangan).” paparnya. (red/ju)














