Jakarta, Itech- Deputi Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut (BRG) Dr Haris Gunawan mengatakan, restorasi gambut merupakan agenda nasional yang bertujuan menyehatkan kembali lahan gambut yang terdegradasi akibat terbakar.
Penyelamatan gambut tropis memerlukan teknologi yang tepat dan BRG pun kedepan akan mewajibkan perusahaan pengelola konsesi di gambut untuk menggunakan teknologi SESAME atau Sensory Data Transmission Service Assisted by Midori Engineering (alat pengukur sensor online) sebagai alat deteksi dini terhadap kondisi lambut di lokasi restorasi yakni kubah gambut berkanal dan gambut berkanal.
BRG menargetkan melakukan pemasangan alat tersebut sebnyak 836 unit di beberapa lokasi atau titik titik yang diperioritaskan pada areal terbakar pada 2015 lalu. Pad APBN 2017, tersedia dana untuk 500 unit dari total 2.300 unit yang rencananya akan dipasang di 7 provinsi area kerja BRG. Selain itu, ke depan BRG juga mewajibkan pengelola konsesi di gambut yang jadi obyek resorasi untuk memasang SESAME.
‘Kubah gambut perlu dipelihara untuk menjamin ketersediaan air. Karena itu diperlukan pengaturan tata air yang baik sehingga tidak mengeringkan dan menimbulkan konflik dengan masyarakat. Kesalahan dalam pemanfaatan gambut selama ini adalah pengeringan melalui pembangunan kanal yang masif.’ katanya dalam Jica Sesame Project, second workshop for the sesame system di gedung BPPT Jakarta, (27/9). Pembicara lainnya, Ketua Dewan Riset Nasional (DRN) Bambang Setiadi.
Nah, untuk restorasi lahan gambut ada dua cara, yakni restorasi Fegetasi dengan cara menanam plasma nutfah atau menanam pohon yang dapat memulihkan kembali lahan gambut. Cara restorasi kedua, restorasi hidrologi yakni mengelola tata air di dalam gambut dengan menjaga lahan gambut agar tetap basah. Diantaranya membuat sekat kanal, bukan membuat kanal.
Ketua DRN Bambang Setiadi mengatakan teknologi Sesame bisa digunakan ketika sekat kanal yang dirancang pemerintah selesai. Dengan begitu, akan terukur seberapa basah gambut di suatu daerah sehingga bisa dilakukan pencegahan kebakaran gambut secara efektif. “Kami sangat mendukung pembuatan sekat kanal di daerah bergambut karena gambut harus basah agar tidak terbakar. Namun, saya dengar pembuatan sekat kanal itu ternyata tidak begitu sukses di lapangan,” katanya.
Sesame berguna untuk memantau kadar air lahan gambut. Selain untuk memantau kebasahan gambut, alat ini juga bisa digunakan untuk mengetahui gerakan air. “Alat Sesane ini nantinya akan terkoneksi dengan pusat data di Serpong, sehingga, BRG dan para koordinator pengendali kebakaran gambut lain punya info yang seragam soal kondisi gambut, akan cepat pula pembasahan gambutnya jika terdeteksi kering,” ungkap Bambang Setiadi yang juga ahli gambut dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
“Misi restorasi gambut terdegradasi yakni menjaga agar permukaan gambut tetap lembab dan basah.. Alat pemantau berbasis sensor ini dapat memberikan data secara real time setiap 10 menit. “Kadar air dalam gambut perlu dimonitor setiap saat. Ini dalam rangka mencegah kebakaran di lahan gambut. ,” tambahnya.
Lebih lanjut Bambang menambahkan, dengan Aplikasi Sistem Sesame maka dimungkinkan untuk melakukan pengukuran tinggi permukaan air, temperature dan emisi karbonnya. Aplikasi ini juga dapat memprediksi kondisi permukaan air untuk tiga hari ke depan, sehingga apabila terindikasi terjadi penurunan air pada tiga hari mendatang maka bisa direncanakan hujan buatan untuk peringatan dini kebakaran gambut.
“Kebakaran di lahan gambut tahun 2015 menjadi isu yang besar. Pada lahan gambut, 95% adalah air”. Gambut jika kering akan mengambang dan sensitif terhadap api. Inti masalah gambut adalah mengetahui apa yang terjadi dengan permukaan air gambut. Hal ini sangat penting sehingga data harus akurat,” paparnya.
Diketahui alat Sesame ini sudah ditemukan sejak tahun 2007 silam. Yakni hasil riset antara Indonesia dengan Universitas Hokkaido Jepang. Namun baru di tahun 2015 alatnya bisa dibawa ke Indonesia. Sebab berpapasan dengan momentum terjadinya kebakaran hutan. Alat Sesame, ini menghabiskan dana sebesar Rp 10 Miliar. Dimana dana totalnya merupakan bantuan dari Jepang sepenuhnya. (red/ju)













