
Jakarta, Itech- Pemerintah Indonesia cq Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) mengundang Badan Tenaga Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk melakukan misi Emergency Preparedness Review (EPREV) terkait kesiapsiagaan dan kedaruratan nuklir dengan mengunjungi sejumlah tempat mulai 19-28 September 2016.
Tugas EPREVMission melakukan analisa dan identifikasi yang berhubungan dengan kesiapan dalam membangun dan mengoperasikan sistem kesiapsiagaan nuklir seperti efektivitas regulasi, koordinasi dan sinergi serta prasarana maupun respon kedaruratan nuklir nasional Hasilnya, IAEA menilai baik kinerja pengawasan kesiapsiagaan dan kedaruratan nuklir.
Direktur Keteknikan dan Kesiapsiagaan Bapeten, Dedik Eko Sumargo kepada wartawan di Jakarta, (28/9), mengatakan, misi EPREV IAEA ini merupakan misi ketiga setelah sebelumnya pernah dilakukan tahun 1999 dan 2004.Bagi Indonesia hasil EPREV mission sangat penting untuk mengukur dan menilai kesiapsiagaan dan kemampuan tanggap darurat nuklir sesuai dengan standar internasional.
Sementara itu, Ketua Tim EPREV Mission IAEA, Toshimitsu Homma, mengatakan bahwa Indonesia masih perlu memberi prioritas sistem manajemen kedaruratan nuklir dan radiologi di level nasional dan terintegrasi. Menurutnya, peran BNPB perlu dioptimalkan karena memiliki BPBD agar kesiapsiagaan dan kedaruratan nuklir meluas secara nasional.
Tim misi sudah meninjau 10 lokasi. IAEA melihat perihal persyaratan keselamatan dan paduannya. Dalam kategori kaji diri, IAEA menilai komplit, komprehensif dan objektif. Sejumlah instansi tersebut antara lain, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Detasemen Kimia Biologi Radiasi Satuan I Gegana Brimob Mabes Polri, fasilitas nuklir Serpong, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangerang Selatan, Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, rumah sakit (RS) Siloam, RS Kanker Dharmais, RS Fatmawati dan PT Relion Cikarang. (red/ju)














