Kapasitas data center untuk penyedia layanan cloud besar diproyeksi akan meningkat hampir tiga kali lipat dalam enam tahun ke depan. Demikian menurut laporan yang dikeluarkan Synergy Reseach Group.
Seiring dengan itu, berbagai upaya inisiatif dilakukan oleh sejumlah perusahaan teknologi, termasuk mengembangkan data center bawah air.
Microsoft, misalnya, pada tahun 2018 perusahaan ini telah memulai tahap kedua Project Natick. Dalam proyek ini, Microsoft memasukkan ke dalam laut data center Northern Isles, sebuah fasilitas berbentuk kapsul yang menampung 846 server pada kedalaman sekitar 36 meter di laut timur lepas pantai Inggris. Inisiatif ini disebut memiliki tujuan untuk memanfaatkan sifat pendingin air laut, memangkas biayar, memitigasi bencana alam, serta memanfaatkan tenaga angin pasang-surut lepas pantai sebagai energi.
Penempatan data center di bawah air disebut memberikan keuntungan, seperti dari sisi dekatnya dengan wilayah pesisir. Selain itu, langkah ini juga disebut bisa mengurangi latensi transfer data dan memastikan jaringan yang lebih stabil untuk tugas komputasi tinggi seperti bermain game dan streaming video.
Sukses membangun data center bawah laut selama dua tahun, Microsoft meningkatkan data center Northern Isles dengan tingkat kegagalan yang hanya 1/8 dari data center tradisional yang berbasis di daratan. Departemen Energi Amerika Serikat pun memberi pengakuan untuk Project Natick dan mengusulkan energy laut, dikombinasikan dengan penyimpanan dan energy terbarukan lainnya dapat menjadi sumber listrik yang layak untuk data center.
Seperti dilansir laman DigiTimes, saat ini Microsoft disebut tengah menjajaki integrasi data center bawah air dengan tenaga angin lepas pantai. Perusahaan juga disebut mempertimbangkan kabel serat optic bawah air untuk meningkatkan transmisi data.
Untuk diketahui, kabel data bawah laut sendiri sudah mengantarkan hampir 99% trafik internet antarbenua. Menurut data TeleGeography, lebih dari 550 kabel bawah laut aktif dan atau terencana yang membentang lebih dari 1,4 juta kilometer.
Tidak hanya Microsoft, China juga sudah melakukan inisiatif yang serupa. Disebutkan China telah mengerahkan data center bawah air komersial pertama di dunia, dengan bobot 1300 ton dengan kekuatan 6 juta PC di lepas pantai kota Sanya di Pulau Hainan. Instalasi ini diharapkan bisa menghemat 122 juta kWh listrik. China juga disebut tengah menjalankan pembangunan data center bawah air di Yangtze River Delta. Lalu ada juga proyek aktif di engera tersebut, yakni di wilayah Pearl River Delta.
Terlepas dari potensi manfaatnya, data center bawah air juga menimbulkan sejumlah tantangan. Sebut saja pemeliharaan dan perbaikan data center bawah air dinilai lebih kompleks karena lokasinya di laut dalam, sehingga memerlukan desain yang memperhitungkan arus laut.
Konektivitas ke sumber energy terbarukan seperti tenaga angin lepas pantai dan tenaga pasang surut cukup menjanjikan, walaupun bergantung pada cuaca variasi pasang surut. Kemudian masalah lain juga datang dari soal perolehan izin, potensi dampak lingkungan, dan konektivitas antara pusat data bawah air dan darat masih menjadi perhatian.
Meskipun data center bawah air menjanjikan efisiensi engergi, pengurangan jejak karbon, dan peningkatan kinerja, industry ini menghadapi kendala, termasuk pertimbangan desain yang rumit, dan peningkatan biaya konektivitas. (Namun) dengan terjunnya Microsoft dan China ke sektor ini, masa depan data center bawah air terlihat cerah.
Dengan demikian, kemampuan industry untuk mengatasi tantangan-tantangan in akan sangat penting untuk penerapan dan kesuksesannya secara luas. Teknologi tinggi dan tensi geopolitik yang semakin tegang mengubah kabel bawah laut menjadi aset ekonomi dan hal yang strategis.














