Veda Praxis hadir di sesi penjurian TOP Digital Awards 2024, seiring perusahaan yang kembali menjadi salah satu kandidat penerima penghargaan bergengsi yang diselenggarakan Majalah It Works tersebut. Veda Praxis sendiri diketahui merupakan perusahaan konsultan manajemen yang berdiri sejak tahun 2005 lalu.
Syahraki Syahrir, selaku CEO Veda Praxis hadir dalam wawancara penjurian kali ini dan memberikan presentasi di hadapan dewan juri.
”Veda Praxis namanya kesannya India, tetapi Veda itu memang artinya Knowledge, (adapun) Praxis adalah Practicing. Jadi, kita secara nama, dari berdiri di tahun 2005 memang fokus kita adalah practicing dan knowledge. Kita sebagai management consulting firm, kita fokus kepada bagaimana sih kita terus menerus mengupdate knowledge di kita sendiri, dan bagaimana knowledge ini bisa kita terapkan ke klien-klien yang kami serve di layanan-layanan yang kami berikan,” ujar Syahraki mengawali paparannya di hadapan dewan juri pada Senin (18/11/2024).
Seiring perjalanan perusahaan yang cukup panjang, Syahraki mengakui bahwa tantangan yang dihadapi Veda Praxis cukup berat memasuki 20 tahun kiprahnya. ”Tetapi yang perlu saya tekankan adalah selama 20 tahun Veda Praxis berdiri kami belajar betul bahwa kita sebagai consulting firm tidak bisa memang hidup sendiri, kita fokus dalam men-develop ekosistem,” ujarnya.
Go Global
Secara tegas, Syahraki mengatakan bahwa visi Veda Praxis adalah ingin menjadi perusahaan yang Go Global, serta menjadi perusahaan layanan advisory terdepan di Asia yang fokus pada tata kelola bisnis.
“Jadi (Veda Praxis) ingin membantu berkontribusi di pengembangan Asia, khususnya untuk memastikan bahwa tata kelola bisnis di Asia ini juga bisa maju,” tandas Syahraki yang juga memiliki posisi sebagai Presiden di ISACA Indonesia sejak tahun 2021.
Sementara dari sisi misi yang dicanangkan, Veda Praxis memadukan atau mengintegrasikan in depth knowledge atau pengetahuan yang mendalam dengan solusi yang aplikatif.
“Jadi, kami selalu berusaha untuk memberikan layanan-layanan atau solusi yang konkret kepada klien-klien kami, kemudian sinergi dari layanan dan knowledge yang kami miliki kita pastikan bisa kita deliver ke klien dengan baik bahkan melebihi harapan klien-klien kami. Dan yang terakhir adalah kita ingin melakukan pertumbuhan bisnis dengan aktif dalam ekosistem bisnis. Jadi, kita ngga hanya mikir mencari klien, tetapi kita juga aktif dalam ekosistem-ekosistem bisnis yang ada,” jelas Syahraki.
Lebih lanjut dikatakan Syahraki bahwa sejak tahun 2018, Veda Praxis mengalami peningkatan yang cukup siginifikan dengan jumlah karyawan di tahun 2024 ini sudah lebih dari 200 orang.
Sesuai visi yang diusungnya, selain memiliki kantor di Jakarta dan kantor cabang di sejumlah daerah , seperti Semarang, Surabaya, dan Makassar, sesuai visi perusahaan yang ingin aktif di Asia, per tahun 2024 Veda Praxis telah membuka kantor di Singapura, menyusul sebelumnya perusahaan juga sudah punya kantor di Kuala Lumpur Malaysia dan Ho Chi Minh City di Vietnam.
“Untuk dalam rangka perkembangan seperti tadi saya bilang kemajuan Veda Praxis kita juga tidak berdiri sendiri, kita fokus kolaborasi dengan berbagai pihak. Kita punya partner-partner di Vietnam, kita juga partner-partner di Indonesia yang bekerja sama, bergandengan tangan dengan Veda Praxis untuk memajukan layanan-layanannya dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak,” ungkap Syahraki.
Sebagai wujud dari pentingnya kolaborasi dan ekosistem, Veda Praxis menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, baik dari kalangan akademisi maupun asosiasi. Dari kalangan akademisi, Veda Praxis berkolaborasi dengan sejumlah universitas, seperti Universitas Padjadjaran, Telkom University, Binus, dan universitas lainnya.
Sementara dari asosiasi, Veda Praxis bekerja sama dengan Asbanda (Asosiasi Bank Pembangunan Daerah, Perbarindo (Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia, serta ISACA Indonesia.
Tidak berhenti sampai di situ, Veda Praxis juga aktif bekerja sama dengan banyak konsultan. Salah satunya, Veda Praxis bekerja sama dengan Protiviti, yang merupakan salah satu global consultant yang terbesar di dunia. “Kita berkolaborasi dengan mereka, tukar-menukar expert untuk bisa saling bantu. Bahkan (bila) Protiviti ada pekerjaan di South East Asia, mereka juga meminta bantuan kami. Selain itu kita juga bekerja sama dengan ada Law Firm, ada Communication Firm, kita juga bekerja sama dengan Accounting Firm dan lain-lain,” tandasnya.
Sementara dalam rangka memberikan solusi digital, Veda Praxis juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan penyedia solusi, seperti IBM. Selain itu, Veda Praxis, seperti dikatakan Syahraki juga memiliki investasi di salah satu perusahaan sistem integrator bernama Inovdi yang bekerja sama dengan berbagai prinsipal-prinsipal yang ada diluar negeri dan bahkan di Indonesia, seperti ada Nintex, Archer, ada Diligent.
“Nah, ini adalah yang kita bilang ekosistem, kita bekerja sama dengan banyak pihak. Tujuannya adalah untuk sama-sama memajukan apa yang kita berikan kepada klien-klien kami,” jelasnya.
Punya Banyak Layanan
Sebagai perusahaan konsultan manajemen, Veda Praxis memiliki banyak layanan, antara lain jasa Business Continuity, Disaster Recovery & Organizational Resilience; IT Compliance & Governance; Governance, Risk Management & Assurance; IT Strategy, Digital Transformation & Enterprise Architecture; Process Improvement, Business Process Measurement & Lean; Security Governance, Cybersecurity & Data Privacy; Internal Audit & Controls; Data Governance & Data Management; Project Management & Quality Assurance.
“Jadi, kalau kita bicara apakah semua layanan ini kaitannya dengan digitalisasi, zaman sekarang sebenarnya kita tidak mengkotak-kotakkan, digital tidak digital, karena semua bisnis pasti akan ke digital dan semua layanan juga relevan dengan digitalisasi dan juga segala tantangan yang ada di masa sekarang. Nah, ini yang kami berikan selama hampir 20 tahun,” kata Syahraki.
Adapun untuk klien perusahaan, sebagian besar Veda Praxi memiliki klien yang sebagian besar dari sektor financial service industry.
”Kita memang sangat banyak pengalamannya di financial service industry. Kita bekerja sama dengan Asbanda, seluruh bank daerah sebenarnya adalah klien kami, walaupun proyeknya berbeda-beda. (Begitu pun) Perbarindo. Tapi selain itu, (kita juga bekerja sama) dengan bank-bank asing, dengan bank-bank BUMN seperti BRI, BNI itu juga kami banyak bantu, dan industri lain. Jadi, kalau bisa dilihat di sini memang sebagian besar klien kami ada di financial service industry, walaupun tidak menutup bahwa kami juga membantu seperti Starbucks, Grab, kemudian ada KAI dan lain-lain,” tandasnya.
Dan sebagaimana ditegaskan oleh Syahraki dalam paparannya, aktivitas usaha Veda Praxis sebagai konsultan manajemen fokus pada tiga area, yakni Digital, GRC (Governance, Risk, and Compliance), dan Cybersecurity. “Jadi, fokus kami di tiga area tersebut,” singkatnya.
Tidak ketinggalan dalam sesi penjurian kali ini Veda Praxis juga mengungkap sejumlah inisiatif dan inovasi perusahaan. Misalnya, seiring dengan fokus dalam kemajuan bisnis di South East Asia, Veda Praxis mencanangkan sampai 2030 akan fokusi di kawasan ini, selain tentunya di Indonesia.
Sebagaimana dikatakan Syahraki, Veda Praxis memiliki dua Cybersecurity Lab di Vietnam dan Jakarta. ”Itulah kenapa kita juga memastikan bahwa infrastruktur teknologi yang kita punya harus bisa mendukung itu dalam rangka kita melakukan pengujian-pengujian keamanan. Dan juga secara internal kita juga banyak melakukan riset-riset untuk bisa terus mempelajari probabilitas yang ada. Selain itu, tentunya seluruh karyawan kita juga kita pastikan memahami aspek-aspek keamanan yang perlu dijaga dalam rangka kita menjaga keamanan data dan informasi klien-klien kami,” jelas Syahraki.
Adapun dalam rangka memberikan layanan kepada klien, Veda Praxis menggunakan banyak tools, baik komersial maupun open source, serta mengadopsi standarisasi-standarisasi internasional yang juga menjadi acuan perusahaan dalam memberikan layanan kepada kliennya.
Masih bicara soal inovasi dan layanan, seiring dengan maraknya penggunaan Artificial Intelligent (AI), dalam waktu dekat Veda Praxis juga akan meluncurkan handbook yang berkaitan dengan AI.
“Nah, ini bicara mengenai keamanan TI dan generative AI, kita rencananya akan launching handbook masalah AI. Ini yang memang kita targetkan, dan sekarang kita punya tim internal yang sedang menggodok,” ujarnya.
Selain itu, inovasi yang dilakukan Veda Praxis, yakni perusahaan mengembankan ERP dan Augmentation Staff. Perusahaan juga terlibat dalam penyusunan cetak biru untuk Bank Pembangunan Daerah di Indonesia.
”Kita membantu bank daerah dalam menyusun cetak biru transformasi digital BPD SI. Ini saya rasa cukup penting, jadi kita tidak hanya bicara di level perusahaan ke perusahaan, tetapi kita bicara industry, itu pendekatan kami di Veda Praxis. Jadi, kita banyak membantu di level asosiasi bank daerah, kemudian Perbarindo, di AFTECH (Asosiasi Fintech) itu juga kita banyak bantu di level itu untuk memberikan impact yang lebih luas kepada industry,” ujarnya.
Nah, bicara soal AI, Veda Praxis juga bekerja sama dengan SGS, dalam rangka melakukan penguatan layanan sertifikasi AI, yaitu ISO 42001. “Nah, ini yang juga bagian yang akan kita launch dalam waktu dekat. Sekarang lagi dalam persiapan,” tandasnya.
Inisiatif lain yang juga telah dilakukan perusahaan adalah pada tahun 2024 ini Veda Praxis juga telah meluncurkan bisnis di Singapura, tujuannya untuk bisa menjangkau pasar Asia Tenggara.
Sementara terkait dengan mulai diberlakukannya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), Veda Praxis juga telah membuat apa yang disebutnya sebagai hand book (buku saku) yang bisa diakses secara gratis oleh semua orang.
”Untuk membantu berbagai perusahaan (dalam) implementasi UU PDP, kita mengeluarkan handbook-handbook dan melakukan webinar, kita juga mengeluarkan buletin-buletin yang kita sajikan secara gratis di website kami. Tujuannya tadi, untuk bisa membantu industri,” tutupnya.














