Bank BPD Bali dalam tansformasi digital punya master plan (rencana induk) tertentu. Pada saat ini, yang sedang dilakoni oleh BUMD tersebut adalah IT master plan 2023-2025.
Dalam presentasi untuk Dewan Juri Top Digital Awards 2024 gelaran Majalah It Works berkolaborasi dengan sejumlah lembaga/pakar (20/11/2024), Kepala Divisi Teknologi Informasi Bank BPD Bali, I Gede Arya Purusa Dhana, merinci isi master plan tersebut.
Poin yang pertama adalah penguatan IT governance, risk, and compliance. Di sini, pengelolaan TI didasarkan pada praktik tata kelola nan efektif dan ada tujuan tingkat kematangan pengelolaan TI per periode.
Juga, pengelolaan risiko TI menjadi bagian dalam mengelola TI untuk menciptakan layanan dan kinerja TI berbasis risiko. Pula, ada pengelolaan TI berdasarkan tingkat kepatuhan terhadap ketentuan regulator dan internal perusahaan dalam mencapai kinerja optimal.
Kedua, pengembangan dan standardisasi pedoman TI. Dalam fase ini, ada langkah pengembangan TI berdasarkan arsitektur dan roadmap dengan mengacu ke praktik terbaik dan ketentuan regulator.
Langkah lainnya adalah bahwa Bank BPD Bali harus memiliki pedoman TI sesuai ketentuan regulator dan praktik terbaik. Pedoman TI harus ditinjau berkala berdasarkan perkembangan kompleksitas, arah bisnis, dan ketentuan regulator.
Selanjutnya, yang ketiga, adalah tahap pengelolaan aplikasi dan infrastruktur. Dalam lingkup ini, ada langkah bahwa aplikasi yang dikembangkan berorientasi ke perwujudan rencana stategis Bank BPD Bali, serta memberikan nilai ke pemangku kepentingan.
Infrastruktur itu haruslah dikelola dengan berorientasi terciptanya layanan yang mengedepankan availibility, security, kapasitas, performa, dan skalabilitas memadai seusai layanan TI yang akan diwujudkan.
Keempat, pengelolaan organisasi, SDM, dan kultur. Dalam lingkup ini, salah satu langkah adalah menggelar organisasi TI yang orientasi ke peran yang akan diwujudkan dengan mengakomodir seluruh siklus pengelolaan TI.
SDM pun harus cukup dalam kualitas atau kuantitas berdasarkan strategi pengelolaan teknologi informasi.
Adapun budaya pengelolaan TI mengacu ke penerapan manajemen pengetahuan, sehingga ada sinergi dalam team work mencegah ketergantungan pada orang per orang.
Kelima, implementasi advance digital banking. Di fase ini, ada implementasi teknologi yang didasarkan pada teknologi terkini yang sudah mature untuk dapat meningkatkan keunggulan kompetitif. Itu dengan tetap memertimbangkan aspek kepatuhan dan kebutuhan konsumen.
Tata Kelola TI
Pada kesempatan tersebut, Arya pun menjelaskan sejumlah hal mengenai tata kelola TI di BUMD tersebut. Antara lain, ia menjelaskan bahwa saat ini ada 30 buah kebijakan yang dijalankan oleh Divisi Teknologi Informasi Bank BPD Bali.
Sebagai contoh adalah keputusan direksi mengenai SOP penggunaan dan penanganan masalah TI sehari-hari; SOP terkait pengembangan produk TI; SOP terkait rencana pemulihan layanan TI; SOP terkait ketahanan dan keamanan aset TI; dan lain-lain.
Tata kelola Kebijakan investasi dan belanja TI pun sudah ada di Bank BPD Bali. Dalam hal tersebut, ada alur/proses/peran dari direksi, pengadaan TI, manajemen investasi dan implementasi TI, Komite Pengarah TI, pengelolaan aset TI, dan kebijakan TI berbasis manajemen risiko.
Generative AI
Arya pun menjelaskan dalam tanya-jawab dengan Dewan Juri Top Digital Awards 2024 tersebut, bahwa Bank BPD Bali kini menjajaki penggunaan generative AI (generative artificial intelligence). Dalam hal ini, ada rencana bahwa generative AI digunakan menaikkan tingkat compliance pada bank tersebut.
AI akan digunakan menaikkan interaksi tentang implementasi regulasi. Tatkala karyawan bank tersebut mencari sebuah regulasi, kelak akan dibantu oleh AI. “Hal ini kami harapkan bisa mengurangi gap saat input data, dan lain-lain,” kata Arya.
Kini, Bank BPD Bali sedang mengkaji profil risiko penggunaan AI. Termasuk di situ adalah mengkaji penggunaan tersebut berdasarkan Undang-undang Perlindungan Data.
“Jadi, dalam hal tersebut, kami ada kajian bisnis, teknis, compliance, dan legal,” demikianlah Arya menambahkan.
Bank BPD Bali pun sedang menjajaki hubungan dengan kalangan eksternal untuk penggunaan AI tersebut. Mereka merupakan pihak yang sudah teruji dalam mengimplementasikan AI.
“Sebab, kalau kami memgembangkan sendiri AI tersebut, akan repot dan tertinggal dengan cepatnya perkembangan teknologi itu,” ia menjelaskan.














