Jakarta, Itech- Dalam rangka menjalankan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hujan buatan pada 2017, BPPT akan menggunakan drone untuk memecahkan persoalan TMC yang sering terkendala saat kondisi tidak normal atau saat malam hari. Peningkatan kekuatan struktur drone menjadi 6,7G dilakukan agar pesawat tanpa awak ini mampu menghadapi guncangan saat memasuki awan, meski proses penyemaiannya sebenarnya bisa juga dilakukan di atas awan.
Deputi Kepala BPPT Bidang TIRBR Dr Ir Erzi Agson Gani MENg mengatakan, proses penggunaan TMC untuk hujan buatan dengan pesawat terbang merupakan langkah yang sangat berisiko. Karena itu, kami akan menggunakan drone yang akan digunakan dengan menambahkan parasut. Penambahan parasut ini tidak mudah tetapi tetap harus dikembangkan karena keamanan menjadi faktor penting dalam pemanfaatan pesawat tanpa awak untuk pembuatan hujan buatan. TMC berupaya melakukan pengendalian sumber daya air di atmosfer untuk menambah curah hujan (rain enhancement) dan/atau mengurangi intensitas curah hujan (rain reduction) pada daerah tertentu untuk meminimalkan bencana alam yang disebabkan oleh iklim dan cuaca dengan memanfaatkan parameter cuaca.
“Dengan bantuan teknologi, bisa mengupayakan untuk mempercepat terjadinya hujan. Atau membuat hujan tidak turun di satu daerah, tetapi malah terjadi di daerah lain,” kata Kepala TMC BPPT Tri Handoko Seto, serta Deputi Kepala Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Wimpie Agoeng Noegroho, saat membuka acara Partner Gathering Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BB-TMC) 2016, di Gedung BPPT Jakarta, Rabu (21/12).
Sementara itu, Wimpie Agoeng Noegroho, menambahkan, partner gathering dalam rangka menjalin sinergi yang lebih erat lagi disamping mengevaluasi apa saja yang sudah kita laksanakan di 2016 dan untuk kdepean menjadi lebih baik dengan mitra-mitra strategis. “Kami juga melauncing early early warning system untuk diteksi banjir dengan menggunakan radar untuk memonitor intensitas hujan sehingga monitor untuk banjir melalui aplikasi android,” tegasnya.
Patut diketahui, TMC di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 1977 dan memiliki berbagai tujuan, antara lain menambah curah hujan untuk mengatasi kekeringan, pengisian air waduk/danau untuk kebutuhan irigasi dan PLTA, mengurangi curah hujan untuk mengatasi banjir dan longsor, serta mengurangi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Secara umum BB-TMC memiliki tiga fokus utama yaitu TMC untuk pengisian waduk/danau, TMC untuk penipisan asap akibat kebakaran lahan dan hutan, dan TMC untuk mereduksi curah hujan. (red/ju)













