
Jakarta, itech – Untuk mempermudah usaha mikro mendapatkan akses pembiayaan, Amartha meluncurkan Sistem Skor Kredit baru. Sistem skor kredit ini berbeda dengan sistem skor kredit konvensional. Jika sistem skor kredit konvensional dibuat berdasarkan sistem jaminan dan perlu mengetahui credit history seseorang di perbankan, maka Amartha menawarkan penilaian kredit berdasarkan kepribadian kreditur. “Kami mengukur bagaimana korelasi kemungkinan kredit macet dengan kepribadian seseorang seperti sikap, niat baik, dan kepercayaan diri peminjam,” jelas CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra.
Hal ini dilakukan lantaran menurut Amartha metode credit scoring yang ada seperti BI Checking hanya dapat melayani usaha dan perorangan yang sudah memiliki credit history di perbankan. Sistem ini tidak memungkinkan untuk melayani masyarakat unbanked dan tinggal di pelosok pedesaan. Padahal, sebagian besar pelaku usaha mikro di Indonesia saat ini masih didominasi oleh mereka yang masuk dalam kategori masyarakat unbanked (tidak memiliki akun atau tidak mendapatkan akses pada layanan perbankan).
Padahal usaha mikro dan UKM unbanked ini merupakan potensi besar terhadap GDP dan penyerapan tenaga kerja, jika dapat diberdayakan secara optimal. “Terdapat 57 juta UMKM di Indonesia pada tahun 2013 yang mampu menyerap 96% pekerja dan berkontribusi pada GDP Indonesia sebesar 58%,” jelas Vivi Alatas, Lead Economist Bank Dunia.
Penilaian perilaku
Lalu, bagaimana Amartha menilai kepribadian calon peminjam mereka? Amartha menggunakan hasil uji psikometrik untuk menilai kepribadian peminjam. mereka yang sudah memiliki usaha maupun mereka yang baru memulai usaha. Mereka juga memanfaatkan sistem berbasis big data dan machine learning. Keduanya digunakan untuk mempelajari mengenai kemampuan dan kemauan peminjam dalam membayar angsuran. Semakin bertambahnya populasi peminjam, sistem ini akan semakin akurat memberikan prediksi tentang si peminjam dalam membayar angsuran. Dengan sistem skor kredit ini, Amartha berharap bisa membantu calon investor untuk mengenali kemampuan dan kemauan bayar pelaku UMKM sebagai calon peminjamnya.
Machine learning ini juga digunakan dalam proses loan origination atau pemrosesan aplikasi. Dengan demikian, Amartha bisa memberikan simulasi jumlah plafon, rate, dan jangka waktu yang berbeda untuk setiap calon peminjam. “Secara real time dan obyektif kami dapat menyajikan tabel simulasi pinjaman kepada setiap peminjam yang berbeda-beda karakter,” jelas Taufan. Ke depan, tim engineer dan data science Amartha berkomitmen untuk bisa terus mengoptimalkan sistem yang ada saat ini untuk mempercepat proses administratif. Sehingga hal seperti kredit komite dapat ditiadakan. Dengan demikian, proses penyaluran dana bisa lebih cepat pula.
P2P lending
Amartha sendiri adalah platform P2P Lending untuk usaha mikro. Layanan P2P lending adalah layanan marketplace untuk memudahkan investor menemukan peluang investasi pada pembiayaan usaha mikro dan kecil (UMKM) di Indonesia. Platform ini adalah inovasi dan pengembangan dari konsep group lending (tanggung renteng) yang sudah dilakukan sejak 2010. Pada 2016, Amartha bertransformasi menjadi fintech P2P Lending.
Sejak 2010, Amartha telah melayani lebih dari 29.000 anggota dan menyalurkan lebih dari Rp. 65 miliar pembiayaan bagi pengusaha mikro di pelosok pedesaan di Indonesia dengan default rate (gagal bayar anggota) sebesar 0% selama 6 tahun.
Jika Anda tertarik menjadi investor, Anda bisa menaruh investasi mulai dari Rp. 3.000.000. Portfolio investasi bisa Anda kelola sendiri, jadi Anda bebas menentukan siapa pengusaha mikro dan kecil (UMKM) yang ingin dibantu. Amartha menyediakan informasi peminjam dengan menyeluruh, seperti peruntukan pembiayaan, latar belakang, hinggak skor kredit yang dimiliki. Investor dapat pula menginvestasikan kembali dana pengembalian dan return yang diterima dalam rekeningnya di Amartha (e-Wallet) atau menarik dananya secara fleksibel kapan saja.













