ItWorks- Kemajuan teknologi telah mempermudah siapa saja untuk melakukan kegiatan finansial termasuk dalam berinvestasi di pasar modal. Kini, cukup dengan ponsel dan koneksi internet, investasi saham, reksa dana, dan aset lainnya bisa dilakukan dari mana saja. Namun, kemudahan ini juga diiringi dengan meningkatnya risiko ancaman kejahatan penipuan berkedok investasi.
Fenomena penipuan ini sering kali menyasar masyarakat melalui pesan pribadi, grup WhatsApp, hingga promosi masif di media sosial seperti Facebook. Pelaku memanfaatkan minimnya literasi keuangan untuk mengelabui korban dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat.
Dengan kemajuan teknologi, berinvestasi di pasar modal bisa dilakukan dengan mudah melalui aplikasi dan perangkat digital. Namun dibalik kemudahan itu, juga ada kerawanan penipuan, sehingga memerlukan kewaspadaan ekstra. “Dengan kemajuan teknologi digital belakangan ini, penipu juga menyasar calon investor dengan cara yang juga makin canggih dan terorganisir dengan berbagai modus dalam aksinya,” ungkap Direktur Retail Markets & Technology PT BNI Sekuritas (BNI Sekuritas), Teddy Wishadi, dalam pernyataan yang dilansir dalam siaran pers (25/06/2025), di Jakarta.
Ia menybutkan beberapa modus yang kerap digunakan antara lain:
• Promosi yang “Too Good to Be True” di Media Sosial atau Aplikasi Pesan Instan
Penipu kerap kali membuat iklan berbayar atau unggahan menarik di media sosial atau grup aplikasi pesan instan seperti Facebook, Instagram, Telegram, dan sebagainya. Iklan tersebut menjanjikan imbal hasil tinggi dalam waktu singkat, lengkap dengan testimoni dan visual profesional yang menyesatkan.
• Kontak Langsung Melalui DM atau WhatsApp
Setelah tertarik dengan promosi, calon korban biasanya akan dihubungi oleh akun yang mengaku sebagai perwakilan perusahaan sekuritas. Pelaku biasanya sangat persuasif dan meyakinkan, bahkan menggunakan logo dan nama institusi resmi.
• Mengaku Sebagai Karyawan Perusahaan Tertentu
Modus lain yang sering muncul adalah pelaku yang mengklaim sebagai karyawan resmi, namun tidak dapat memberikan bukti identitas yang sah. Tanda-tanda mencurigakan bisa berupa alamat email yang tidak resmi, akun media sosial palsu, atau nomor WhatsApp pribadi.
• Meminta Data Pribadi atau Akses Akun
Beberapa pelaku mencoba mendapatkan informasi sensitif seperti data KTP, kode OTP, atau akses ke akun finansial. Data ini kemudian disalahgunakan untuk mengakses atau mencuri dana dari akun korban.
• Modus Mengulur Waktu Demi Meningkatkan Jumlah Deposit.
Oknum penipu biasanya terus menjanjikan keuntungan besar tanpa pernah memberikan bukti nyata. Mereka cenderung menunda-nunda dengan berbagai alasan, sambil terus mendorong korban untuk menambah jumlah deposit yang disetorkan.
Ia menandaskan bahwa bagi investor yang akan berinvestasi dengan aman adalah memahami bahwa tidak ada keuntungan besar tanpa risiko. Edukasi keuangan dan verifikasi informasi adalah dua hal krusial yang harus dilakukan setiap calon investor. “Investasi bukan sekadar mengejar keuntungan, tapi juga soal memahami risiko dan memilih platform yang kredibel. Jangan pernah menyerahkan dana sebelum melakukan pengecekan menyeluruh terhadap legalitas dan sumber informasi,” tegasnya.
Agar terhindar dari penipuan berkedok investasi, berikut beberapa langkah yang disarankan:
- Jangan tergiur tawaran imbal hasil tinggi dalam waktu cepat.
- Verifikasi identitas pihak yang menghubungi Anda, termasuk email, nomor, dan akun media sosial.
- Jangan membagikan data pribadi, kode OTP, atau informasi login ke siapa pun.
- Hindari melakukan transaksi ke rekening pribadi atau yang tidak tercantum di situs resmi.
- Datangi kantor cabang untuk informasi yang lebih kredibel.
- Laporkan aktivitas mencurigakan ke pihak berwenang atau layanan pelanggan.
“Berinvestasi secara digital menawarkan banyak kemudahan, tetapi juga memerlukan kewaspadaan ekstra. Jangan hanya fokus pada potensi keuntungan, pastikan setiap langkah yang Anda ambil didasari informasi yang valid dan kontak resmi. Investasi yang cerdas dimulai dari keputusan yang aman dan terinformasi,” tutup Teddy.














