ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Bukan Sekedar ‘Anjing Penjaga’, Data dalam Lingkungan AI Butuh Pengamanan Unik

Fauzi
7 July 2025 | 16:29
rubrik: Expert
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia, Cloudera

AI sedang mendorong revolusi dunia bisnis, membantu berbagai perusahaan mengotomatiskan berbagai tugas, menghasilkan insight, dan mendorong inovasi dalam skala besar. Namun, ketika pemanfaatan AI meningkat, risiko yang terkait dengan cara AI dalam menangani dan memindahkan data semakin besar. Menurut laporan oleh McKinsey, risiko keamanan siber AI adalah salah satu kekhawatiran terbesar karyawan dan pemimpin perusahaan. Laporan Global GenAI dari NTT Data, mengungkapkan bahwa keamanan siber dan masalah privasi dalam implementasi AI adalah dua masalah kepercayaan terbesar yang memengaruhi penggunaan AI oleh industri-industri global, termasuk Indonesia.

Dengan semakin banyaknya data mengalir di seluruh ekosistem AI yang kompleks, para pemimpin IT harus memahami bahwa mengelola dan mengamankan data membutuhkan pendekatan perlindungan data holistik, baik melalui arsitektur data lakehouse modern atau strategi pengelolaan data multi-cloud. Ketika AI semakin terintegrasi dalam proses bisnis, metode tata kelola data tradisional sudah tak cukup. Perusahaan-perusahaan harus berusaha meraih visibilitas, kontrol dan resiliensi yang berkelanjutan – atau mereka berisiko kehilangan kendali ketika lingkungan yang digerakkan AI semakin kompleks.

Tidak seperti sistem data tradisional, di mana informasi biasanya disimpan dan diakses dengan cara-cara yang bisa diprediksi, AI bekerja dengan cara yang jauh lebih cair dan cepat. Model AI akan terus-menerus menarik, memproses, dan menghasilkan data di berbagai lingkungan – on-premise, platform cloud, dan bahkan layanan AI eksternal – dengan kecepatan dan skala yang melampaui pendekatan keamanan tradisional. Pergerakan data yang konstan di berbagai tim, departemen dan sistem, membuat pekerjaan melacak asal data, bagaimana data itu diubah, dan siapa yang memiliki akses ke data tersebut menjadi sulit. Tanpa perlindungan yang tepat, perusahaan-perusahaan berisiko kehilangan kendali atas aset mereka yang paling berharga, yaitu data.

Banyak organisasi masih mengandalkan langkah-langkah keamanan reaktif yang sudah ketinggalan zaman, atau ‘anjing penjaga’, yang hanya memberikan respons setelah ancaman sudah terdeteksi. Dalam kasus AI, menunggu sampai munculnya masalah bukanlah pilihan. Perusahaan-perusahaan membutuhkan perlindungan yang proaktif untuk memastikan data AI terlindungi sejak awal, kemana pun data tersebut bergerak.

BACA JUGA:  AI: Visi Red Hat untuk Masa Depan Open Source

Tantangan Perlindungan Data AI: Lebih Banyak Data, Lebih Banyak Risiko

AI berkembang karena data. Semakin banyak data yang diakses AI, semakin kuat dan bernilai pula insight yang dihasilkannya. Aliran data yang semakin besar ini juga memberikan tantangan serius dalam hal keamanan dan kepatuhan pada regulasi. Banyak organisasi mengirimkan data sensitif ke model AI tanpa visibilitas penuh ke mana data tersebut bergerak atau bagaimana data itu digunakan, sehingga menciptakan risiko data terekspos tanpa diinginkan.

Ketika pengadopsian AI meningkat, semakin banyak tim di organisasi yang mulai mengandalkan insight yang dihasilkan oleh AI, sehingga data bergerak ke banyak sistem dengan cara yang sulit dilacak dan dikendalikan. Tanpa pengawasan yang jelas, informasi sensitif, seperti data personal pelanggan atau informasi milik organisasi, yang dibenamkan ke model AI atau laporan, dapat terekspos, disalahgunakan, atau dibagikan kepada pengguna yang tidak berhak, tanpa disadari.

Selain itu, ketika tim-tim yang berbeda mensuplai data baru ke model AI, error, bias, atau informasi yang ketinggalan zaman, dapat mendistorsi output yang dihasilkan oleh AI, sehingga mengurangi keandalan output tersebut. Dengan pelacakan asal usul data yang kuat, perusahaan-perusahaan bisa memastikan akurasi semua data mereka, dengan menggunakan tools seperti Octopai dari Cloudera, solusi manajemen metadata otomatis untuk melacak aliran data dan mencegah error sebelum berdampak terhadap keputusan berbasis AI.

Di luar risiko data terekspos ke luar, banyak model AI berfungsi sebagai kotak hitam, di mana perusahaan-perusahaan kesulitan memahami bagaimana data diproses dan diubah. Ketidakjelasan ini menimbulkan kekhawatiran terkait kepatuhan dan bisa berisiko terhadap reputasi jika pembuatan keputusan berbasis AI tidak bisa dijelaskan atau dibuktikan kebenarannya. Pada saat yang sama, langkah keamanan tradisional terbukti tidak efektif dalam lingkungan AI. Model-model AI bersifat dinamis, terus belajar dan beradaptasi, yang artinya langkah keamanan statis tidak cukup untuk melindungi alur kerja yang terus bergerak ini.

BACA JUGA:  Jorma Ollila: Sistem Operasi Windows Gagal Selamatkan Nokia

Tanpa pengamanan yang tepat, perusahaan-perusahaan tidak saja berisiko menghadapi pelanggaran keamanan – mereka bisa terkena penalti regulasi, mengalami disrupsi dalam operasional, dan kehilangan kepercayaan pelanggan.

Dari Keamanan Reaktif ke Tata Kelola yang Proaktif

Untuk mengamankan data AI secara efektif, perusahaan-perusahaan harus beralih dari keamanan reaktif ke tata kelola yang proaktif. Alih-alih berusaha menyelesaikan masalah setelah terjadi pelanggaran, mereka harus mengintegrasikan langkah-langkah keamanan ke dalam alur kerja AI sejak awal. Hal ini penting untuk industri-industri seperti keuangan dan kesehatan, di mana data sensitif tersimpan dalam jumlah besar. Menurut laporan 2023 Metadata Management in the Digital Age dari Gartner, 60 persen organisasi mengakui bahwa mereka tidak tahu di mana data mereka disimpan. Hal ini adalah masalah yang krusial di Indonesia, di mana Undang-undang Perlindungan Data Pribadi mengharuskan perusahaan untuk menjaga keamanan dan kerahasiaan data pribadi.

Ini adalah masalah serius – tata kelola AI dimulai dengan visibilitas, dan wajib bagi berbagai perusahaan untuk memahami bagaimana model AI memproses dan berbagi data melalui pelacakan riwayat data mereka secara menyeluruh. Hal Ini akan memastikan waktu respons terhadap insiden yang lebih cepat ketika masalah muncul.

Tata kelola juga harus diotomatiskan. Pengendalian keamanan harus diintegrasikan ke dalam alur kerja AI, sehingga memastikan bahwa keamanan data dan kebijakan-kebijakan yang tak melanggar aturan senantiasa mengikuti setiap pergerakan data – baik di on-prem, di cloud atau dalam ekosistem AI pihak ketiga. Kebijakan keamanan tidak bisa statis; ia harus berkembang secara dinamis bersama aliran data berbasis AI. Berbagai organisasi membutuhkan kontrol akses yang terperinci, sehingga meskipun mereka berusaha untuk berinovasi, data hanya bisa diakses oleh orang yang tepat pada waktu yang tepat, beradaptasi secara real time berdasarkan pola penggunaan.

BACA JUGA:  Virtualisasi Bisa Hemat Pengeluaran Perusahaan USD 15 miliar

Shared Data Experience (SDX) dari Cloudera membantu perusahaan-perusahaan mengimplementasi keamanan, tata kelola dan kepatuhan yang konsisten di semua pipeline data berbasis AI, memastikan data AI tetap terlindungi dan bisa dilacak dari saat penyerapan data sampai menghasilkan insight.

Mitra kami di kawasan ini berperan penting dalam menghadirkan keamanan yang konsisten untuk mendukung AI tepercaya bagi perusahaan. Corrie Briscoe, Head of Partner Sales, Asia Pasifik dan Jepang, AWS, mengatakan,

“Dalam lanskap digital yang berkembang pesat saat ini, keamanan bukan hanya soal perlindungan – ini tentang memungkinkan terciptanya inovasi dengan percaya diri. Ketika berbagai perusahaan di kawasan ini mengimplementasikan AI di dalam organisasi mereka secara cepat, mereka harus memiliki keamanan dan kepercayaan diri di setiap lapisan AI generatif. Mereka harus mampu mengamankan infrastruktur untuk melatih model-model AI, membangun secara aman menggunakan tools untuk menjalankan model AI, dan menjalankan aplikasi yang menggunakan model dasar dengan keamanan dan privasi bawaan yang dapat mereka percaya. Sejak awal, infrastruktur dan layanan AI kami sudah dilengkapi dengan fitur-fitur keamanan dan privasi bawaan yang memberi pelanggan kendali atas data mereka, sehingga mereka bisa bergerak dengan cepat sekaligus tetap aman.”

Keamanan AI adalah Sebuah Keharusan Bagi Bisnis

Keamanan AI bukan lagi sekadar tantangan IT – ini adalah kebutuhan bisnis. Perusahaan yang gagal mengelola data AI mereka secara benar, berisiko terkena denda regulasi, terkena masalah hukum, dan ketidakpercayaan pelanggan – semuanya bisa memberikan konsekuensi keuangan secara langsung.

Ketika pengadopsian AI terus tumbuh, perusahaan-perusahaan memiliki dua pilihan: mengandalkan pendekatan keamanan yang sudah ketinggalan zaman dan bereaksi terhadap ancaman saat mereka muncul, atau mengambil kendali dengan mengimplementasikan tata kelola data AI yang kuat sejak awal. Masa depan keamanan AI bukanlah tentang menunggu masalah muncul – namun terkait mencegah masalah sebelum terjadi. Perusahaan-perusahaan yang membangun pengamanan AI yang proaktif hari ini adalah pemimpin di masa depan.

Tags: Agentic AIAIClouderaGenerative AI
Previous Post

Awas, SparkKitty Trojan Spy Baru Di App Store dan Google Play

Next Post

Inovasi Alap-Alap: Langkah BRIN Menuju Kemandirian Teknologi UAV Nasional

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

hanwha-life-top-digital-awards-2025-level-stars-5

Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Teguh Imam Suyudi
23 December 2025 | 16:00

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen TOP Digital Awards 2025

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Bergengsi TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
7 December 2025 | 09:00

Moratelindo TOP Digital Awards

Moratelindo Perkuat Kepemimpinan Transformasi Digital Lewat Dua Penghargaan Nasional TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
6 December 2025 | 09:00

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Fauzi
5 December 2025 | 13:58

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

Ahmad Churi
5 December 2025 | 11:14

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Acer Rilis Jajaran Laptop Aspire AI Copilot+ PC dan All-in-One Terbaru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Inovasi Digital Jadi Fokus Strategi Komunikasi Indonesia Re di Tahun 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • SailPoint Perkuat Keamanan Identitas AI Melalui Integrasi dengan Claude Compliance API

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Umumkan Core Compute Regions Baru, Jaringan Cloud Akamai Paling Tersebar di Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni
cover it works
cover it works

ICT PROFILE

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Fauzi
7 April 2026 | 11:46

Intel Corporation mengumumkan penunjukan Santhosh Viswanathan sebagai Vice President and Managing Director untuk kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ). Dengan...

EXPERT

Red Hat Berambisi Capai Target Net Zero Emisi Gas Rumah Kaca di 2030

Titik Infleksi AI Selanjutnya: Mengubah Agen AI Menjadi ‘Superusers’ di Enterprise

Fauzi
21 May 2026 | 14:39

Oleh: Matt Hicks, President and CEO, Red Hat Jika Anda menyaksikan keynote di hari pertama Red Hat Summit 2026, Anda...

Seiring Jaringan yang Kian Cerdas, Ketahanan Telekomunikasi Akan Bergantung pada AI yang Tepercaya

Fauzi
20 May 2026 | 10:35

Oleh: Athul Prasad, Global Director, AI Industry Solutions, Telco, Media & Entertainment, Cloudera Ketahanan dalam industri telekomunikasi dulu berarti menjaga...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto