ItWorks- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Penerbangan terus mendorong penguasaan teknologi kunci dalam pengembangan pesawat udara nasional. Salah satu inovasi andalannya adalah Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Alap-Alap, yang kini memasuki tahap pengembangan lanjutan.
Periset Pusat Riset Teknologi Penerbangan, Muhammad Amanta menjelaskan, BRIN menargetkan penguasaan teknologi UAV secara mandiri melalui berbagai kolaborasi riset lintas bidang. Ada tiga komponen teknologi kunci yang menjadi fokus utama, yakni sistem kendali (control system), communication data link, serta unmanned aircraft itu sendiri.
“Untuk sistem kendali, riset mencakup pengembangan on board system, on ground system, dan ground support. Sementara untuk communication data link, fokusnya pada communication system dan telemetry system. Adapun untuk unmanned aircraft meliputi pengembangan platform, payload system, dan propulsion system,” terang di Kawasan Sains Jacob Salatun Bogor, (7/7/25) dilansir Humas BRIN.
Saat ini, tim riset BRIN sedang mematangkan sistem on board, terutama pada pengembangan Flight Control Computer (FCC) yang menjadi “otak” kendali UAV. Dengan FCC, pesawat Alap-Alap diharapkan dapat beroperasi secara autopilot dan menjalankan misi dengan akurasi tinggi.
Tak hanya itu, riset juga meliputi pengujian material ringan untuk mendukung platform UAV agar semakin efisien, memiliki daya jelajah lebih jauh, sekaligus tetap tangguh di berbagai kondisi operasi.
Dari sisi muatan, Synthetic Aperture Radar (SAR) sedang dikembangkan sebagai payload utama. Teknologi radar ini akan menghasilkan citra beresolusi tinggi yang dapat mendukung misi pemetaan detail, pemantauan wilayah terpencil, hingga penanganan kebencanaan.“Dengan SAR, UAV ini diharapkan bisa memaksimalkan berbagai misi, mulai dari pemetaan, monitoring lingkungan, hingga mitigasi bencana,” ujarnya.
Di sisi darat, para periset juga memfokuskan pengembangan on ground system, terutama sistem penerimaan dan pengolahan data agar informasi yang dikirimkan UAV dapat diterima secara real-time dan akurat. Komponen pendukung seperti antena, Radio Frequency (RF), radom, serta transmisi video juga terus disempurnakan untuk memastikan komunikasi stabil di berbagai kondisi cuaca.
“Sejauh ini, UAV Alap-Alap telah menunjukkan performa menjanjikan. Pesawat ini pernah diterjunkan untuk pemetaan pasca gempa di Lombok pada 2018, serta mendukung pengamatan erupsi Gunung Anak Krakatau di tahun yang sama,” bebernya.
Amanta menambahkan, Alap-Alap memiliki beberapa keunggulan utama, yaitu desainnya yang kompak membuat operasionalnya efisien dan tidak memerlukan banyak personel. “Di sisi lain, UAV ini terbukti tangguh, mampu menyelesaikan berbagai misi monitoring dan pemetaan di kondisi medan yang menantang. Dari perspektif biaya, Alap-Alap juga lebih ekonomis dibandingkan UAV di kelas sejenis, sehingga dinilai efisien untuk dioperasikan dalam jangka Panjang,” tambahnya.
Hingga kini, Alap-Alap telah melalui lebih dari 10 kali uji terbang dengan hasil yang memuaskan. UAV ini mampu terbang hingga 6 jam dengan jangkauan 100 kilometer dalam garis pandang langsung (line of sight).














