Jakarta, Itech- Dalam rangka Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) Ke-22 yang dipusatkan di Makassar pada Agustus, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) memiliki rangkaian kegiatan untuk menggelorakan inovasi. Salah satunya kegiatan Bakti Teknologi untuk Negeri Tanam Serempak Padi Unggul di 22 titik di Kab/Kota Se-Propinsi Sulawesi Selatan dalam usaha menjadikan propinsi ini menjadi lumbung pangan nasional.
Demi terwujudnya Propinsi Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan, Kemenristekdikti mengawalinya dengan program Training Of Trainer (TOT) Implementasi IPAT BO (Intesifikasi Padi Aerob Terkendali-Berbasis Organik) kepada para PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) dan kelompok tani se-Propinsi Sulawesi Selatan.
Bagaimana memperkuat Sulawesi Selatan sebagai lumbung pangan sehingga kita bersama-sama menyusun program ini untuk membangun sinergi antara dunia perguruan tinggi, lembaga litbang, pemerintah daerah dan dunia usaha,” kata Direktur Sistem Inovasi Kemenristekdikti Ophirtus Sumule saat membuka acara TOT mewakili Dirjen Penguatan Inovasi Jumain Appe, di Hotel La Macca, Makassar, belum lama ini.
Ophirtus menambahkan kegiatan ini tidak berhenti di sini saja. Akan terus bergulir karena menjadi kontribusi dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa.
Ketua Panitia Gunawan Wiebysana menambahkan program kegiatan tanam serentak benih unggul padi di 24 Kabupaten Propinsi Selawesi Selatan, diawali dengan program TOT untuk melatih PPL dan kelompok tani untuk mengimplementasikan Teknologi IPAT BO yang memiliki berbagai keunggulan.
Tualar Simarmata menjelaskan Teknologi IPAT BO yang dikembangkan sejak 2006 hasil kerjasama Universitas Padjajaran (Unpad) dengan Kemenristekdikti. Kemudian teknologi ini berkembang cepat dari tahun 2006 sampai sekarang. Hasil dari teknologi IPAT BO ialah mampu mengurangi penggunaan air hingga 35%, mengurangi pemakaian pupuk anorganik sebesar 25%, serta menghemat bibit hingga 50%. IPAT BO juga mampu menaikkan produktivitas lahan sampai dua kali lipat.
Ia menambahkan, nilai ekonomisnya jika menggunakan Teknologi IPAT BO ini dibandingkan dengan teknologi konvensional lainnya bisa menaikan hasil hingga 25 persen. “Berdasarkan pengalaman, pada waktu yang sama jika yang lain bahannya sudah mulai berkurang kita masih 25 persen lebih tinggi, padahal dari sisi inputnya tidak jauh berbeda hanya lebih hemat, misalkan yang menggunakan teknologi konvensional 40 kg kita cukup 15 sampai 20 kg,” jelas Tualar.
Panyuluh petani Kabupaten Goa Sulawesi Selatan Mahsen Yahya telah menerapkan Teknologi IPAT BO ini sejak tahun 2008, tepatnya di Kecamatan Sunggobu, Teknologi IPAT BO ini memiliki banyak manfaat untuk petani. “Saat menerapkan teknologi ini dulu bisa mencapai tujuh sampai 10 ton. Saat penyuluhan respon petani sangat bagus karena mereka sendiri merasakan keunggulan dari teknologi IPAT BO ini,” ungkapnya. red













