ItWorks.id- Sejumlah peneliti muda ikut menunjukan berbagai riset dan inovasi dalam pengembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence /AI).
Salah satunya, peneliti muda dari Universitas Sampoerna, Ariana Tulus Purnomo.
Ia memaparkan riset bertema deteksi asma menggunakan sistem radar berbasis machine learning dalam acara The 12th International Conference on Computer, Control, Informatics and Its Applications (IC3INA) yang diselenggarakan oleh Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OREI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), beberapa waktu lalu, di Jakarta.
Dalam presentasinya berjudul Non-Invasive Asthma Detection with FMCW Radar Using Imbalanced Learning Approach, Ariana menjelaskan bahwa riset ini bertujuan mengembangkan metode deteksi asma yang efisien, akurat, dan nyaman bagi pasien. “Deteksi dini penyakit pernapasan seperti asma sangat penting untuk mencegah gagal napas mendadak. Sistem radar noninvasif ini memungkinkan pemantauan pola pernapasan tanpa kontak langsung dengan tubuh pasien,” jelas Ariana dirilis Humas BRIN (21/10/2025), melalui portal web BRIN.
Penelitian tersebut dilakukan bersama tim kolaborator dari BRIN, National Taiwan University of Science and Technology, dan Pukyong National University Korea Selatan, dengan memanfaatkan teknologi Frequency Modulated Continuous Wave (FMCW) Radar serta algoritma machine learning seperti LightGBM, XGBoost, dan CatBoost. Melalui teknik adaptive synthetic sampling, kombinasi FMCW Radar dan LightGBM berhasil mencapai akurasi deteksi hingga 92,9 persen.
“Sistem ini berpotensi dikembangkan menjadi alat pemantau kesehatan yang praktis dan dapat digunakan di rumah. Pendekatan non invasif ini juga meningkatkan kenyamanan pasien tanpa mengurangi akurasi hasil deteksi,” tambahnya.
Selanjutnya, peneliti muda asal Indonesia, Daniel Hutapea, memaparkan riset tentang pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran Bahasa Inggris di Taiwan. Dalam presentasinya berjudul Blending Technology and Traditions: Perception on AI, Local and Native Teachers in English Learning in Taiwan, Daniel menjelaskan integrasi antara teknologi AI, guru lokal, dan guru native speaker dalam mendukung pembelajaran Bahasa Inggris tingkat sekolah menengah.“Melalui pembelajaran campuran atau blended learning, siswa dapat memperoleh umpan balik cepat dari AI, sementara guru lokal memperkuat pemahaman budaya dan tata bahasa, serta guru native speaker memberikan pengalaman komunikasi yang autentik,” jelasnya.
Hasil penelitian terhadap 357 siswa menunjukkan mayoritas merasa terbantu dengan pendekatan ini, di mana 341 siswa menilai kombinasi teknologi dan interaksi langsung dengan guru lebih efektif serta menyenangkan.
Mahasiswi Universitas Bina Nusantara, Rheisa Syahla Arzeta memaparkan hasil penelitiannya tentang peran teknologi digital dalam meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas layanan kesehatan.
Dalam presentasi berjudul The Use of Digital Technologies Features in Enhancing Efficiency and Accessibility of Mobile-Based Healthcare Applications, Rheisa menjelaskan bahwa fitur-fitur digital seperti telehealth (telemedicine), konsultasi virtual, rekam medis elektronik, dan otomatisasi tugas berperan penting dalam mengoptimalkan pelayanan kesehatan berbasis aplikasi mobile (mHealth).“Pemanfaatan teknologi digital memungkinkan institusi kesehatan merespons kebutuhan pasien dengan lebih cepat, akurat, dan efisien,” ungkap Rheisa.
Melibatkan 468 responden pengguna aplikasi kesehatan digital di Indonesia, penelitian ini menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) untuk menganalisis hubungan antara persepsi kemudahan, kegunaan, dan tingkat penerimaan teknologi.
Hasil riset menunjukkan bahwa semua fitur digital tersebut berpengaruh positif dan signifikan terhadap efisiensi serta aksesibilitas layanan kesehatan, dengan telehealth dan konsultasi virtual sebagai faktor paling dominan. “Teknologi digital di sektor kesehatan telah membuka peluang besar untuk pemerataan akses layanan, terutama bagi masyarakat di wilayah yang sulit dijangkau fasilitas kesehatan,” tambahnya.
Melalui berbagai pemaparan riset tersebut, terlihat semangat dan kontribusi generasi muda Indonesia dalam menghadirkan inovasi berbasis sains dan teknologi di kancah internasional. BRIN terus mendorong kolaborasi riset lintas disiplin dan lintas negara untuk memperkuat ekosistem penelitian nasional, sekaligus menumbuhkan talenta peneliti masa depan yang mampu memberikan solusi nyata bagi tantangan global.














