Di usianya yang menginjak 73 tahun, bisnis Kalla Group kini semakin berkibar dan merambah berbagai sektor usaha. Kelompok usaha yang didirikan H. Kalla dan Hj. Athirah, orang tua mantan wakil presiden RI, Jusuf Kalla pada 1952 saat ini mengelola bisnis dari otomotif, transportasi, logistik, konstruksi, properti, mineral & energi, pendidikan, serta sektor terbaru adalah rumah sakit.
“Tahun ini Kalla berusia 73 tahun. Berawal dari perdagangan tekstil dan transportasi antar kota, bisnis berkembang pesat ketika kepemimpinan beralih ke Pak Yusuf Kalla pada 1967. Dari situlah sektor-sektor baru terus tumbuh,” ujar Indra Permana, Chief of Process & Digitalization Kalla Group, saat presentasi penjurian TOP Digital Awards 2025 yang dilakukan secara daring, Kamis (13/11/2025).
Dalam sesi presentasi ini, Indra Permana didampingi Razmal Djamal selaku ICT Division Head Kalla Group.
Menurut Indra, keragaman sektor usaha tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi divisi IT untuk membangun fondasi digital yang mampu melayani kebutuhan yang sangat beragam.
“IT di Kalla Group terpusat di holding dengan 52 personel yang bekerja untuk seluruh SBU. Peran kami adalah memastikan infrastruktur, aplikasi, keamanan, dan proses bisnis berjalan dengan standar yang scalable, secure, dan sustainable,” jelasnya.
Menurut Indra, tim IT di Kalla tersentralisasi di Holding. Setiap SBU (Strategic Bisnis Unit) memiliki resource dengan role digital analyst yang bertanggung jawab untuk berkoordinasi dengan tim IT di Holding terkait semua inisiatif Digital di setiap SBU.
Secara struktur, Tim IT dipimpin Razmal Djamal selaku ICT Division Head yang membawahi empat bagian yakni operasional, keamanan, project management, business intelligence & analytics, serta software development & integration. Pada level SBU, setiap unit memiliki digital analyst untuk memetakan kebutuhan digital dan prioritas tahunan.
Indra menegaskan bahwa seluruh inisiatif digital dibangun berdasarkan lima strategi utama, yakni pengembangan aplikasi bisnis, penguatan keamanan, pemanfaatan data menjadi insight, riset dan adopsi teknologi baru, serta review strategi dan kapabilitas SDM IT.
“IT dan bisnis adalah partnership. Semua inisiatif membutuhkan kolaborasi intensif, mekanisme prioritas, serta standar yang sama untuk seluruh grup,” ujarnya.
Tata Kelola yang Ketat
ICT Division Head Kalla Group, Razmal Djamal, menguraikan bahwa seluruh aktivitas IT berada dalam kerangka tata kelola yang sangat ketat. Dasarnya adalah RKMS (Rumah Kalla Management System) yang telah dibangun sejak 2008. “Kami punya 13 kebijakan dan prosedur terkait IT di RKMS. Lalu di SKK ada 26 SOP yang kami update setiap tahun, bahkan bisa di-update di luar siklus bila diperlukan,” tutur Razmal.
Selain itu, terdapat 15 blueprint yang menjadi panduan strategis, mulai dari software development life cycle, risk management, hingga change management. Seluruhnya membentuk kerangka kerja untuk menyelaraskan arah IT dengan strategi bisnis korporat.
Razmal menjelaskan bahwa mekanisme investasi digital Kalla Group menggunakan framework project IT tahunan, yang dirumuskan melalui forum perencanaan strategis bernama Kosmo. Untuk belanja IT di Kalla Group terbagi dua, yakni belanja pusat (holding) yang berfokus pada keamanan dan infrastruktur bersama, serta belanja IT SBU untuk infrastruktur dan aplikasi spesifik kebutuhan unit.
“Ada beberapa perspektif yang menjadi dasar prioritas: ICT, risk management, audit, permintaan SBU dan holding, serta strategic direction dari corporate. Semua pengadaan atau pengembangan aplikasi harus melalui framework tersebut,” kata Razmal.
SDM IT Tumbuh 26 Kali Lipat
Salah satu kekuatan utama transformasi digital Kalla Group adalah kualitas sumber daya manusia. Dari hanya dua orang pada 2007, divisi IT kini memiliki 52 personel, dengan komposisi 70% milenial, 16% Gen Z, dan 14% Gen X.
“Kami mengelola kompetensi melalui tiga cara: pengembangan lewat individual development plan (IDP), peningkatan soft skill termasuk komunikasi dan presentasi, serta leadership melalui rotasi dan penugasan proyek-proyek kritis,” ungkap Razmal.
Pertumbuhan SDM tersebut juga selaras dengan perjalanan digital Kalla Group, dari fase Awal Organisasi (2007–2010), kemudian fase 1 dengan Digitalisasi dan Otomatisasi (2011–2015), Fase 2 dengan Digitalisasi dan Implementasi ERP secara Enterprise (2015–2022), hingga fase tiga yaitu Governance & Strengthen termasuk di dalamnya pembentukan departemen cyber dan data analytic pada 2023 hingga 2026.
Sejalan dengan perluasan bisnis, kata Razmal, penguatan keamanan siber menjadi prioritas utama. Sejak 2023, Kalla Group telah meraih sertifikasi ISO 27001:2022 untuk SBU terbesar, yakni Haji Kalla Automotif.
“Framework yang kami pakai adalah versi 2 yang sudah mencakup governance. Aktivitas cyber security dilakukan berlapis, mulai follow-up temuan ISO, pentest tahunan, tim SMKI, PDP, tim emergency response, asesmen risiko regulasi, hingga memasukkan keamanan sebagai KPI,” papar Razmal.
Kini, landscape aplikasi di Kalla Group terdiri atas tiga lapisan: aplikasi holding (termasuk Oracle), ERP di empat business unit, serta lebih dari 40 legacy operation application business unit.
Aplikasi Unggulan
Razmal juga menjelaskan, beberapa aplikasi unggulan yang dikembangkan internal IT Kalla Group.
Pertama adalah HRIS (Human Resources Integrated System) yang dikembangkan pada 2021 dan diperbaru pada 2022 dan 2024. Ini merupakan Integrated Human Capital and Resources Management System, terdiri atas beberapa modul unggulan seperti ESS, K-Learning, Talent Hunt dan lainnya. “Manfaat untuk perusahaan adalah manajemen Human Capital, Integrasi SSO, Enterprise Employee Self Service,” ujar Razmal.
Solusi bisnis atau aplikasi lainnya adalah Dealer Management System Toyota, salah satu yang paling lengkap di seluruh jaringan dealer Toyota. Aplikasi yang diimplementasikan sejak 2024 ini merupakan patform terintegrasi untuk dealer otomotif khususnya After Sales (Services), berupa layanan Booking Service, Serices Berkala, pengerjaan Body, Mobile Services, dan lainnya.
Beberapa fitur unggulan aplikasi ini antara lain chatbot, integrated SSO, integrasi dengan layanan email, WhatsApp, dan Telegram.
Aplikasi lainnya adalah MaccAI (Helpdesk, Ticketing, ITSM platform dengan integrasi kepada chatbot LLM untuk automatisasi) yang diimplementasikan sejak 2024. Ini merupakan platform ITSM yang terintegrasi dengan chatbot LLM, dengan model AI yang pintar dan responsive.
“Hal ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan ITSM kepada seluruh anak perusahaan Kalla yang berjumlah lebih dari 10 orang dan mampu melayani 3.000 lebih karyawan diseluruh Indonesia,” uajr Razmal.
Dengan memanfaatkan aplikasi MaccAI, respon layanan menjadi lebih cepat, waktu operasional ITSM 24/7, knowledge base lebih luas, kemudahan layanan bagi pengguna, metadata yang lebih lengkap untuk analisa lebih lanjut terhadap permasalah berulang dan penanganannya.
Razmal juga menegaskan bahwa komitmen manajemen puncak menjadi faktor kunci keberhasilan transformasi digital di Kalla Group. Solihin Jusuf Kalla selaku Presiden Direktur Kalla Group adalah inisiator pertama IT di Kalla Group.
Banyak inisiatif yang dilakukan oleh Solihin Jusuf Kalla antara lain investasi data center pertama beserta modernisasi ruangan , rack dan server bekerjasama dengan IBM pada 2013. ”Dalam dua tahun terakhir kami mendapat dukungan penuh dari manajemen untuk modernisasi arsitektur, security, PDP, hingga pembangunan data center standar nasional,” pungkas Razmal.
Editor: Fauzi














