Ada satu kalimat yang berkali-kali diulang oleh Rosa Triashadi Wibowo dalam setiap langkah transformasi digital LMI: “Ini semua tentang amanah.”
Di balik layar, jauh dari sorotan, tim TI Lembaga Manajemen Infaq (LMI) bekerja seperti para penjaga malam—senyap, tekun, memastikan setiap rupiah donasi yang dititipkan masyarakat berjalan melalui jalur yang aman, cepat, dan transparan. Hari itu, Jumat, 21 November 2025, mereka akhirnya menceritakan perjalanan itu dalam sesi penjurian TOP Digital Awards 2025.
Ketika kamera Zoom menyala, Rosa tidak hanya membawa slide presentasi. Ia membawa cerita tentang bagaimana teknologi bisa menjadi jembatan keberkahan. Ia menjelaskan bahwa digitalisasi di LMI bukan proyek jeda-pendek, tetapi strategi keberlanjutan. Setiap sistem, setiap aplikasi, setiap baris kode—semuanya lahir dari satu kebutuhan: melayani umat dengan lebih baik.
Salah satu kisah paling berkesan adalah lahirnya SiAmil, aplikasi yang diam-diam mengubah cara kerja internal lembaga. Dulu, proses manual menyita waktu dan kertas. Kini, pekerjaan yang memakan berjam-jam bisa selesai dalam hitungan menit. Lebih dari 1,5 rim kertas tak lagi dipakai. Kesalahan manusia berkurang drastis. Setiap orang bekerja lebih ringan, lebih fokus, lebih manusiawi.
Begitu pula dengan kisah efisiensi qurban. BAP yang dulunya memerlukan biaya Rp10.000 untuk dicetak dan dikirim, kini cukup Rp650 dalam bentuk notifikasi digital. Hemat? Ya. Tapi yang lebih penting: prosesnya lebih cepat sampai kepada donatur—lebih tepat waktu, lebih menghangatkan hati.
Di sisi lain, ada cerita tentang Infak.in—platform donasi yang awalnya dibangun untuk memenuhi satu pertanyaan sederhana dari masyarakat: “Bisakah kami melihat sendiri bagaimana donasi kami bekerja?”
Infak.in tidak hanya menjawab pertanyaan itu, tetapi membuka lembaran baru dalam dunia filantropi digital: histori donasi, dokumentasi, e-kwitansi, hingga rencana besar 2026 untuk menjadi aplikasi crowdfunding syariah yang bisa digunakan siapa pun untuk membuat kampanye kebaikan.
Di balik semua itu, ada juga angka-angka evaluasi sistem yang menunjukkan tingkat keberhasilan yang menguatkan: SiAcc, SiAmil, SiMus, DPK Apps—semuanya mencatat nilai yang kuat. Tetapi, yang paling menggerakkan bukanlah angka, melainkan dampak yang lahir dari sana: proses lebih cepat, donatur lebih percaya, bantuan lebih luas menjangkau mereka yang membutuhkan.
Ketika presentasi hampir selesai, Rosa menutup dengan satu kalimat yang membuat seisi ruangan Zoom terdiam sejenak: “Lembaga yang tidak bertransformasi akan tertinggal. Tetapi lembaga yang berani berubah akan menjadi rujukan. Dan kami memilih menjadi yang kedua.”
Itulah perjalanan LMI hari ini—sebuah lembaga yang memahami bahwa teknologi bukanlah tujuan, melainkan alat untuk menyebarkan lebih banyak kebaikan.
Jejak digital mereka bukan sekadar data, sistem, atau aplikasi.
Jejak itu adalah cerita tentang harapan. Tentang amanah. Tentang umat yang terus bergerak maju.
Editor: Teguh IS.














