Sebuah temuan terbaru Kaspersky Digital Footprint Intelligence memicu kekhawatiran mendalam mengenai tren rekrutmen di dark web. Dalam laporan berjudul “Inside the dark web job market: Their talent, our threat”, jumlah resume dan lowongan kerja yang diposting di forum gelap pada Q1 2024 meningkat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya—dan tren ini tetap berlanjut hingga Q1 2025.
Pada tahun 2025, ketidakseimbangan antara pencari kerja dan lowongan semakin mencolok: 55% resume melampaui 45% lowongan. Fenomena ini dipicu oleh gelombang PHK global serta masuknya pencari kerja yang lebih muda. Rata-rata usia pelamar hanya 24 tahun, menandakan keterlibatan signifikan dari remaja yang mencari peluang cepat—meski ilegal.
Mayoritas lowongan yang diposting berkaitan erat dengan tindak kejahatan siber. Pengembang perangkat serangan mengisi 17% permintaan, disusul penguji penetrasi 12%, pencuci uang 11%, carder 6%, dan traffer 5%. Struktur ini menunjukkan bagaimana dark web membentuk ekosistem kriminal yang semakin matang dan terorganisasi.
Pola gender juga muncul dalam proses perekrutan: pelamar perempuan lebih banyak mengincar posisi interpersonal seperti dukungan pelanggan dan asisten teknis, sementara laki-laki memilih peran teknis maupun aktivitas kriminal finansial seperti developer, kurir uang, atau carder.
Ekspektasi gaji di pasar gelap ini juga bervariasi drastis. Reverse engineer dapat memperoleh lebih dari USD 5.000 per bulan, disusul pentester dengan USD 4.000 dan developer sekitar USD 2.000. Sementara pelaku penipuan berbasis pendapatan tim memperoleh persentase tetap—money launderer 20%, carder 30%, dan traffer hingga 50%.
Alexandra Fedosimova, Analis Jejak Digital Kaspersky, menegaskan bahwa pasar kerja bayangan kini menyasar penganggur, anak di bawah umur, hingga talenta berkemampuan tinggi. Ia mengingatkan bahwa iming-iming gaji besar datang dengan konsekuensi hukum berat.
Kaspersky menyerukan tindakan pencegahan, baik bagi individu maupun organisasi. Remaja diminta melaporkan ajakan mencurigakan, sementara organisasi didorong meningkatkan pelatihan deteksi phishing dan memantau aktivitas dark web melalui layanan Digital Footprint Intelligence.














