Reli pasar saham Amerika Serikat yang menembus rekor tertinggi sepanjang masa melahirkan fenomena baru di dunia bisnis global. Sejumlah perusahaan teknologi dan investasi kini mendapat julukan “pabrik miliarder” karena kemampuannya mencetak orang-orang terkaya dunia dalam waktu relatif singkat.
Hingga akhir 2025, tercatat 54 miliarder self-made di Amerika Serikat yang sumber kekayaannya berasal dari delapan perusahaan raksasa. Kekayaan mereka tidak hanya datang dari pendiri, tetapi juga investor awal hingga jajaran eksekutif puncak.
Fenomena ini didorong oleh kombinasi ledakan kecerdasan buatan (AI), kekuatan compound interest, serta kedekatan strategis dengan kebijakan pemerintah AS.
Dominasi Teknologi dan AI sebagai Mesin Kekayaan
Sektor teknologi kembali menjadi penggerak utama penciptaan kekayaan global. Berdasarkan data hingga 22 Desember 2025, Alphabet (Google) menempati posisi teratas sebagai perusahaan pencetak miliarder terbanyak.
Didirikan pada 1998, Alphabet telah melahirkan 10 miliarder dengan total kekayaan kolektif mencapai US$ 618,2 miliar. Selain pendiri Larry Page dan Sergey Brin, kekayaan ini juga dinikmati investor awal, mantan CEO Eric Schmidt, serta CEO saat ini Sundar Pichai.
Kekuatan finansial Google bertumpu pada dominasi iklan digital global dan investasi masif pada infrastruktur AI yang kini menjadi fondasi utama ekonomi digital dunia.
Daftar 8 Perusahaan “Pabrik Miliarder” Versi Forbes 2025
Mengutip laporan Forbes, berikut rincian delapan perusahaan yang menjadi mesin pencetak miliarder dunia:
- Alphabet (Google): 10 miliarder – Total kekayaan US$ 618,2 miliar
- Meta (Facebook): 8 miliarder – Total kekayaan US$ 314 miliar
- AppLovin: 8 miliarder – Total kekayaan US$ 76,6 miliar
- Anthropic: 7 miliarder – Total kekayaan US$ 25,9 miliar
- Blackstone: 6 miliarder – Total kekayaan US$ 68,5 miliar
- Microsoft: 5 miliarder – Total kekayaan US$ 290,5 miliar
- Thoma Bravo: 5 miliarder – Total kekayaan US$ 33,2 miliar
- Snowflake: 5 miliarder – Total kekayaan US$ 9,2 miliar
Lonjakan Valuasi Startup AI: Anthropic Jadi Sorotan
Salah satu kejutan terbesar tahun 2025 datang dari Anthropic, startup AI yang baru berusia empat tahun. Perusahaan ini sukses mencetak tujuh miliarder sekaligus setelah valuasinya melonjak ekstrem.
Anthropic memulai 2025 dengan valuasi US$ 18 miliar, namun pada September 2025 nilainya meroket menjadi US$ 183 miliar setelah memperoleh pendanaan baru senilai US$ 13 miliar. Ketujuh pendirinya—alumni OpenAI—kini resmi masuk klub miliarder.
Lonjakan ini menegaskan bahwa AI mampu menciptakan kekayaan dalam waktu singkat, jauh melampaui sektor industri tradisional.
Investasi dan Private Equity Ikut Mencetak Miliarder
Tidak hanya teknologi konsumen, sektor private equity juga berperan besar. Blackstone dan Thoma Bravo membuktikan bahwa strategi investasi pada pusat data, software, dan startup AI mampu mengerek kekayaan mitra mereka ke level miliarder.
Pengelolaan aset berskala raksasa dan fokus pada ekonomi digital menjadi kunci sukses kedua perusahaan investasi tersebut.
Faktor Pendukung: Politik, Kebijakan, dan Pasar Saham
Pertumbuhan kekayaan para taipan ini turut didukung oleh stabilitas makroekonomi dan pasar saham AS yang berada di level tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi ini menjadi katalis positif bagi valuasi perusahaan publik maupun privat.
Selain itu, hubungan erat antara bos-bos teknologi dengan pemerintah Washington juga memberi pengaruh signifikan. Forbes mencatat sejumlah konglomerat teknologi kerap berdiskusi langsung dengan Gedung Putih terkait arah kebijakan teknologi nasional di era Presiden Donald Trump.
Status Pabrik Miliarder Bisa Berubah
Meski begitu, status sebagai “pabrik miliarder” bersifat dinamis. Nvidia, yang sempat menyentuh kapitalisasi pasar US$ 5 triliun pada Oktober 2025, sempat melahirkan miliarder baru. Namun koreksi saham sebesar 10% membuat beberapa di antaranya kembali turun kelas menjadi centi-millionaire.
Keberhasilan delapan perusahaan ini menegaskan bahwa penguasaan teknologi mutakhir, akses modal besar, dan timing pasar menjadi faktor pembeda utama dalam peta kekayaan global saat ini.
Bagi investor, pergerakan saham dan valuasi perusahaan-perusahaan “pabrik miliarder” ini layak menjadi indikator penting untuk membaca arah pertumbuhan ekonomi digital dunia.













