ItWorks.id-Popularitas AI dinilai bisa menjadi tantangan dan berisiko tumpulkan daya belajar bagi mahasiswa. Dengan AI, generasi sekarang sebenarnya berpeluang mengetahui lebih banyak dan lebih jauh. Tetapi ada bahaya ketika semua dipermudah, mahasiswa justru tidak belajar sama sekali.
Perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) yang kian masif dinilai membawa dua sisi bagi generasi muda. Di satu sisi, teknologi ini membuka akses pengetahuan yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya. Namun di sisi lain, kemudahan yang ditawarkan AI berpotensi membuat mahasiswa kehilangan semangat belajar dan berpikir kritis.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PRKAKS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Hilman Ferdinandus Pardede, menegaskan tantangan tersebut di hadapan 97 mahasiswa Program Studi Sistem Informasi dan Elektro, Fakultas Teknik dan Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), saat kunjungan ilmiah di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun belum lama ini. “Dengan AI, generasi sekarang sebenarnya berpeluang mengetahui lebih banyak dan lebih jauh. Tetapi ada bahaya ketika semua dipermudah, mahasiswa justru tidak belajar sama sekali,” ujar Hilman yang dirlilis Humas BRIN (09/01/2026).
Menurutnya, penguasaan teknologi harus tetap diimbangi dengan penguatan skill dan pengetahuan dasar. Tanpa itu, lulusan berisiko kalah bersaing saat memasuki dunia kerja yang semakin kompetitif dan berbasis teknologi.
Hilman menambahkan, BRIN secara aktif melibatkan mahasiswa dalam berbagai kegiatan riset, mulai dari pemagangan riset dan non-riset, pembimbingan tugas akhir, asisten riset, hingga program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). “Sebagai peneliti BRIN, saya telah banyak menerima mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, khususnya untuk riset di bidang kecerdasan artifisial dan keamanan siber. Keterlibatan mahasiswa ini memberi kontribusi nyata bagi pengembangan riset,” katanya.
Senada, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Telekomunikasi (PRT) BRIN, Galih Nugraha Nurkahfi, menilai popularitas AI kerap membuat orang lupa pada fondasi teknologi yang menopangnya.“AI tidak berdiri sendiri. Ada komputer, internet, server, data center, hingga pasokan listrik yang membuat AI bisa berjalan. Hal-hal ini justru sering dilupakan,” ujarnya.
Padahal, lanjut Galih, sektor pendukung tersebut menyimpan peluang besar bagi karier dan bisnis, terutama bagi mahasiswa Sistem Informasi dan Teknik Elektro. Ia menekankan pentingnya positioning keilmuan yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi digunakan untuk mendukung bisnis dan perekonomian.“Bukan hanya belajar bendanya, tetapi juga bagaimana teknologi itu dipakai untuk mendorong nilai tambah ekonomi,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Sistem Informasi UBSI, Sriyadi, menilai BRIN sebagai ruang belajar yang sangat relevan bagi mahasiswa teknik dan informatika. Menurutnya, pengalaman langsung di lingkungan riset penting untuk menjembatani teori di kampus dengan kebutuhan nyata masyarakat dan industri.“Mahasiswa perlu melihat langsung bagaimana riset dikembangkan, diuji, hingga siap dimanfaatkan. Itu tidak bisa didapat hanya dari ruang kelas,” ujarnya.
Berkaca pada keberhasilan mahasiswa UBSI dalam program Bantuan Riset Talenta Riset dan Inovasi (BARISTA) serta Pemagangan Riset BRIN sebelumnya, Sriyadi berharap kunjungan ini memotivasi mahasiswa untuk mengikuti berbagai skema program riset BRIN ke depan.
Dalam kunjungan tersebut, mahasiswa juga meninjau sejumlah fasilitas laboratorium di KST Samaun Samadikun, di antaranya laboratorium ergonomi dan kesehatan, laboratorium autonomous, laboratorium robotika, serta laboratorium imersif dan interaktif.














