ItWorks.id- Perilaku generasi muda Indonesia dalam memilih hunian mengalami pergeseran signifikan sepanjang 2025. Jika sebelumnya kepemilikan rumah kerap dipandang sebagai target cepat dan simbol pencapaian, kini kaum muda lebih rasional dan strategis.
Kini pencarian hunian tidak lagi dilakukan secara impulsif, melainkan menjadi bagian dari perencanaan hidup jangka menengah yang disesuaikan dengan kondisi finansial dan fase kehidupan.
Tren perubahan tersebut tercermin dalam laporan 123 Property Recap 2025: The Youth Move yang dirilis Rumah123, belum lama ini. Laporan ini disusun berdasarkan data agregat non-personal dari aktivitas pencarian hunian di portal Rumah123 sepanjang 2025.
Rumah123 mencatat, generasi muda kini memosisikan pencarian hunian sebagai proses eksplorasi. Keputusan membeli kerap ditunda hingga terdapat kesesuaian antara kebutuhan hidup, stabilitas pendapatan, dan kesiapan finansial. Hunian tak lagi dianggap sebagai keputusan sekali seumur hidup, melainkan pilihan yang dapat berubah seiring perjalanan hidup.
Data Rumah123 menunjukkan, 63,5% pencarian hunian sepanjang 2025 berasal dari kelompok usia produktif 18–44 tahun. Rinciannya, usia 18–24 tahun menyumbang 19,9%, usia 25–34 tahun sebesar 25,6%, dan usia 35–44 tahun mencapai 18%.
Namun tingginya aktivitas pencarian ini tidak serta-merta mencerminkan kesiapan membeli. Bagi Gen Z, khususnya kelompok usia 18–24 tahun, pencarian rumah lebih berfungsi sebagai sarana memahami pasar. Mereka aktif membandingkan harga, lokasi, dan tipe hunian, tanpa tekanan untuk segera berkomitmen.
Pola ini menunjukkan perubahan cara pandang: rumah bukan lagi tujuan yang harus segera dimiliki, melainkan opsi yang dipertimbangkan matang sesuai kondisi masing-masing individu.
Hunian Lebih Kecil, Fungsional, dan Realistis
Perubahan perilaku juga tercermin dari preferensi ukuran hunian. Sepanjang 2025, sebanyak 62,4% pencarian hunian terkonsentrasi pada rumah berukuran hingga 150 meter persegi. Hunian kecil hingga menengah menjadi pilihan utama, menggantikan tren rumah besar yang sebelumnya identik dengan kesuksesan.
Menurut Rumah123, generasi muda kini memilih hunian yang “cukup”—cukup untuk ditinggali, cukup untuk dikelola secara finansial, serta cukup fleksibel untuk menghadapi perubahan hidup di masa depan. Hunian tidak lagi menjadi simbol status, melainkan ruang hidup yang praktis dan berkelanjutan.
Lokasi Strategis dan Akses Jadi Penentu
Dari sisi lokasi, kawasan dengan konektivitas tinggi menjadi incaran utama. Tangerang mencatat minat pencarian tertinggi dengan porsi 13,9%, disusul Jakarta Selatan (11,4%), Jakarta Barat (9,7%), Bandung (7,9%), dan Jakarta Utara (7,1%).
Rumah123 menilai, generasi muda kini lebih mengutamakan efisiensi mobilitas ketimbang kedekatan dengan pusat kota. Waktu tempuh, akses transportasi, serta kemudahan mobilitas harian menjadi faktor kunci dalam menentukan lokasi hunian.
Perbedaan orientasi juga terlihat pada jenis hunian. Apartemen lebih banyak dipilih untuk disewa, dengan porsi mencapai 71,6%. Sementara itu, rumah tapak menunjukkan keseimbangan antara opsi sewa dan beli, mencerminkan orientasi jangka panjang dan stabilitas.
Rumah123 menyimpulkan, pola ini menunjukkan tingkat kematangan generasi muda dalam mengambil keputusan hunian. Pilihan tempat tinggal kini disesuaikan dengan fase kehidupan—fleksibel di awal, lebih stabil saat kondisi finansial menguat.
Laporan ini menjadi sinyal kuat bahwa generasi muda tidak hanya menjadi pasar utama properti nasional, tetapi juga aktor kunci yang mengarahkan dinamika dan arah perubahan pasar hunian menuju 2026.














