ItWorks.id– Huawei Cloud resmi meluncurkan layanan Model-as-a-Service (MaaS) di Indonesia sebagai langkah mempercepat adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor bisnis nasional. Peluncuran tersebut diumumkan dalam ajang Huawei Cloud AI Boost Day bertema Agentic AI Practice yang digelar (16/04/2026, di Jakarta.
Kehadiran MaaS menjadi tonggak baru transformasi digital di Indonesia, dengan membawa perusahaan dari tahap uji coba AI menuju implementasi luas berbasis teknologi AI agentik, yakni AI yang mampu bertindak sebagai “pekerja digital” dan menjalankan tugas kompleks secara mandiri dalam alur kerja perusahaan.
CEO Huawei Cloud Indonesia Leon Fang mengatakan, dunia usaha saat ini tengah mengalami perubahan besar, dari penggunaan AI sekadar alat bantu menjadi teknologi yang dapat berperan aktif dalam operasional bisnis.
“Dengan menghadirkan Model-as-a-Service di Indonesia, kami menyediakan fondasi berperforma tinggi yang dibutuhkan pelaku bisnis untuk beranjak dari proyek percontohan menuju dampak bisnis nyata. Tujuan kami adalah menjadikan AI semudah dan seandal layanan listrik,” ujar Fang dalam rilis pers, baru-baru ini.
Menurutnya, platform MaaS memungkinkan perusahaan mengakses model AI siap pakai hanya dengan satu klik, tanpa harus membangun infrastruktur rumit. Sistem ini juga menyediakan layanan hosting model sehingga hambatan teknis dalam adopsi AI skala besar dapat ditekan.
Huawei Cloud telah mengintegrasikan enam model sumber terbuka kelas dunia dari keluarga GLM, DeepSeek, dan Qwen yang difokuskan pada dua kebutuhan industri utama, yakni Intelligent Q&A dan AI Coding.
Melalui sistem tersebut, pengembang dapat mengelola seluruh siklus hidup model AI, mulai dari penerapan, inferensi, penyempurnaan respons (fine-tuning), hingga evaluasi. Dengan demikian, perusahaan dapat lebih fokus menciptakan inovasi layanan tanpa terbebani pengelolaan infrastruktur teknologi.
Huawei menilai, inovasi ini akan mendorong efisiensi dan percepatan transformasi bisnis karena didukung sumber daya komputasi elastis serta sistem pembayaran berbasis penggunaan (pay-per-use). Skema ini memungkinkan perusahaan meningkatkan kapasitas AI sesuai kebutuhan dengan biaya lebih terukur.
Selain itu, peluncuran MaaS juga memperkuat ekosistem AI Huawei yang telah mencakup CloudMatrix AI Infra, ModelArts, dan DataArts. Perusahaan berencana menghadirkan CodeArts dan AgentArts di kawasan Asia Pasifik pada semester II 2026.
Teknologi ini ditopang jaringan cloud Huawei di Asia Pasifik yang memiliki lima region dan 18 Availability Zones, dengan jaminan latensi akses hingga 50 milidetik. Infrastruktur tersebut dinilai penting untuk mendukung kebutuhan AI real-time di berbagai sektor industri.
Huawei mencontohkan penerapan sukses teknologi serupa di kawasan. Di Singapura, perusahaan teknologi iFLYTEK mampu melakukan pelatihan model bahasa besar hanya dalam dua pekan dengan stabilitas layanan selama 60 hari tanpa gangguan. Sementara di Vietnam, Green and Smart Mobility memanfaatkan teknologi Huawei untuk sistem peringatan risiko secara real-time demi meningkatkan keselamatan penumpang.
Fang menegaskan, inovasi AI membutuhkan investasi besar pada fondasi teknologi. Karena itu, Huawei secara konsisten mengalokasikan 20 persen pendapatannya untuk riset dan pengembangan (R&D).
Dengan hadirnya MaaS di Indonesia, Huawei Cloud menargetkan semakin banyak perusahaan nasional mampu memanfaatkan AI secara praktis, aman, dan berkelanjutan untuk meningkatkan daya saing di era ekonomi digital.














