ItWorks.id- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat riset strategis di sektor energi dengan mengembangkan material inovatif untuk pemurnian uranium. Terobosan ini dinilai menjadi langkah penting dalam mendukung pengembangan energi nuklir sekaligus memanfaatkan sumber daya mineral domestik secara optimal.
Penelitian tersebut dilakukan oleh tim Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif BRIN yang dipimpin Ade Saputra. Fokus utama riset adalah menciptakan material adsorben yang mampu memisahkan uranium dari campuran mineral lain, khususnya dari pasir monasit—limbah hasil penambangan timah yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Ade menjelaskan, Indonesia memiliki potensi besar bahan baku nuklir dari sumber lokal. Namun, tantangan utama terletak pada proses pemisahan uranium dan thorium yang masih bercampur dengan logam tanah jarang. “Jika pemisahan ini berhasil, kita tidak hanya menyelesaikan masalah limbah radioaktif, tetapi juga memperoleh logam tanah jarang bersih serta bahan bakar nuklir dari sumber domestik,” ujarnya dilansir Humas BRIN melalui portal web (06/05/2026), di Jakarta.
Dalam konteks meningkatnya kebutuhan energi dan target net zero emission, energi nuklir dipandang sebagai opsi strategis. Karena itu, penguasaan teknologi hulu, khususnya pemurnian bahan bakar, menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan operasional pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di masa depan.
Inovasi utama riset ini terletak pada pengembangan material Covalent Organic Framework (COF) tersulfonasi. Material ini dikenal memiliki struktur kristalin yang stabil dalam kondisi ekstrem, seperti tingkat keasaman tinggi dan paparan radiasi. Melalui pendekatan tersebut, tim berhasil menghasilkan COF-SO₃H yang memiliki selektivitas tinggi terhadap uranium, bahkan dalam kondisi larutan sangat asam yang menyerupai proses pengolahan nyata.
Tak hanya unggul dari sisi performa, material ini juga menunjukkan ketahanan untuk digunakan berulang kali dalam beberapa siklus. Hal ini membuka peluang efisiensi biaya operasional dalam penerapan skala industri. Selain material, tim juga mengembangkan metode sintesis baru berbasis pendekatan dissolution-precipitation yang lebih efisien dibandingkan metode konvensional. Metode ini dinilai lebih cepat serta menggunakan pelarut yang lebih ramah lingkungan, sehingga berpotensi dikembangkan dalam skala besar.
Meski sempat menghadapi berbagai kegagalan dalam proses sintesis, tim peneliti terus melakukan modifikasi hingga menemukan metode yang optimal. Upaya tersebut menghasilkan teknologi yang tidak hanya efektif, tetapi juga mendukung prinsip keberlanjutan.
Secara strategis, riset ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi pemurnian uranium sekaligus mengurangi limbah cair radioaktif. Pendekatan berbasis adsorpsi yang dikembangkan juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan metode konvensional.
Lebih jauh, penguasaan teknologi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi juga sebagai negara yang mampu mengolah sumber daya mineral menjadi energi bernilai tinggi.
Ke depan, tantangan masih dihadapi, mulai dari keterbatasan bahan baku prekursor hingga fasilitas karakterisasi material radioaktif. Untuk itu, BRIN menargetkan pengembangan skala produksi yang lebih besar serta pengujian berkelanjutan di tingkat pilot project.
Kolaborasi dengan industri dan mitra internasional juga akan diperkuat guna mempercepat hilirisasi teknologi. Dengan langkah tersebut, riset ini diharapkan menjadi fondasi menuju kemandirian teknologi bahan bakar nuklir di Indonesia.“Harapannya, teknologi ini dapat menjadi bagian dari solusi dalam mendukung kemandirian energi nasional,” pungkas Ade.














