ItWorks.id- Di tengah tekanan ekonomi global dan dinamika rantai pasok internasional, IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) justru mencatatkan pertumbuhan kinerja operasional yang positif pada awal Triwulan II/2026.
Tercatat hingga April 2026, perusahaan berhasil membukukan throughput muatan peti kemas sebesar 1.159.575 Twenty-foot Equivalent Unit.s (TEUs) atau tumbuh 6,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 1.086.766 TEUs.
Kinerja positif tersebut diraih di tengah tantangan industri logistik global, mulai dari meningkatnya biaya logistik hingga ketidakpastian jalur pelayaran internasional akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Kondisi itu turut memengaruhi aktivitas pengiriman laut global dan memaksa sejumlah perusahaan pelayaran melakukan penyesuaian rute maritim internasional. Meski demikian, IPC Terminal Pertikemas (TPK) bisa terus menjaga keandalan layanan dan efisiensi operasional guna memastikan kelancaran distribusi barang nasional tetap terjaga.
Senior Manager Sekretariat Perusahaan IPC TPK, Daniel Setiawan, mengatakan, perusahaan terus berupaya menjaga optimalisasi layanan di seluruh terminal operasionalnya. “Optimalisasi dan efisiensi layanan terus kami pertahankan guna mendukung kelancaran arus barang serta menjaga daya saing logistik nasional,” ujar Daniel dalam rilis prs yang dilansir (19/05/2026), di Jakarta.
Pertumbuhan throughput IPC TPK juga sejalan dengan tren perdagangan nasional yang masih menunjukkan penguatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor Indonesia pada periode Januari–Maret 2026 tumbuh 10,05 persen secara tahunan, sementara neraca perdagangan nasional tetap mencatat surplus sebesar US$5,55 miliar.
Secara tahunan, peningkatan kinerja pada April 2026 tercatat sangat signifikan. IPC TPK membukukan throughput sebesar 308.810 TEUs atau naik 26,78 persen dibanding April 2025 yang mencapai 243.579 TEUs.
Peningkatan tertinggi terjadi di wilayah Tanjung Priok. IPC TPK Area Tanjung Priok 2 mencatat pertumbuhan sebesar 36,7 persen, sementara Area Tanjung Priok 1 tumbuh 24,3 persen. Lonjakan tersebut didorong tambahan layanan ad hoc serta peningkatan volume dari sejumlah perusahaan pelayaran internasional.
Tak Hanya Jakarta
Tak hanya di Jakarta, pertumbuhan juga terjadi di wilayah Sumatera. IPC TPK Area Palembang mencatat kenaikan throughput sebesar 18,7 persen seiring meningkatnya aktivitas ekspor dan impor sejumlah komoditas unggulan seperti rubber, wood product, coconut, hingga metal box.
Selain mencatat pertumbuhan arus petikemas, IPC TPK juga memperkuat langkah strategis di berbagai daerah operasional. Pada April 2026, IPC TPK Teluk Bayur bersama PTP Nonpetikemas Cabang Teluk Bayur menjalin sinergi pemanfaatan dermaga dan peralatan bongkar muat untuk meningkatkan kelancaran layanan logistik di Sumatera Barat.
Sementara itu, IPC TPK Area Jambi turut mendukung kelancaran ekspor kayu manis melalui optimalisasi layanan di Terminal Petikemas Pelabuhan Talang Duku guna memperluas akses pasar internasional bagi komoditas unggulan daerah.
Daniel menegaskan, perusahaan akan terus memperkuat kesiapan infrastruktur dan standardisasi layanan untuk menghadapi dinamika industri logistik global yang terus berkembang. “Kami terus memperkuat kesiapan infrastruktur dan standardisasi layanan di seluruh terminal agar tetap mampu menjaga kelancaran arus barang di tengah dinamika logistik global yang terus berkembang,” pugkasnya.














