Jakarta-Teknoprener merupakan salah satu pilar dalam penguatan sistem inovasi yang harus terus dikembangkan agar Indonesia memiliki sistem industri yang kuat dan inovatif. Ajang Technopreneurship Camp, sebagai upaya untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan berbasis teknologi tersebut.
BPPT membidik potensi-potensi calon teknoprener atau pengusaha pemula berbasis TI dari kalangan mahasiswa, pemuda, dan masyarakat bisnis yang berusia kurang dari 35 tahun. Mengingat saat ini terus meningkatnya jumlah pengangguran intelektual (terdidik) di Indonesia. Hal itu diakibatkan banyak lulusan perguruan tinggi yang berorientasi mencari kerja, bukan menciptakan pekerjaan. Kondisi itu tentu menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“ Melalui technopreneurship Camp ini, kami ingin membangun karakter teknoprener di anak-anak muda Indonesia, sekaligus mencari bibit-bibit muda Indonesia dalam meningkatkan perekonomian di tahun 2025 mendatang,” kata Marzan Aziz Iskandar, Kepala BPPT kepada wartawan di Puspiptek Serpong.
Di Technopreneurship Camp tahun ini, ada sekitar 105 peserta yang terbagi dari beberapa universitas di Indonesia dan kalangan umum. Para peserta menjalani tiga bagian pelatihan. Pertama, pelatihan bisnis dan teknologi, kedua, penyusunan rencana bisnis dan mentoring. Selanjutnya pada hari ketiga masing-masing peserta diminta untuk memaparkan proposal rencana bisnis berbasis teknologi.
Kegiatan ini serupa dengan ajang pencari talenta muda yang berbakat sebagai pengusaha berbasis TI. Pastinya technopreneur potensial ini tentu masih memerlukan tahapan inkubasi dan pendampingan lain di Inkubator Teknologi. Program ini merupakan hasil kerjasama BPPT dengan Kementerian Perekonomian, Kementerian Ristek dan Teknologi, serta beberapa instansi pendidikan dan pemerintah terkait.
Hal senada juga dikatakan Staf Ahli Menristek Bidang Energi dan Materian Maju, Idhwan Suhardi. Dia mengakui begitu pentingnya technopreneurship ini , bagaimana kita menjadi mencipta juga bisa menjual. Kalau ahli pencipta dan menjual jadi Steve Jobs. Apalagi, generasi muda sangat berpotensi menghasilkan ide dan produk kreatif berbasis teknologi. Namun perlu ada wadah dan pengakuan karya. “Idealnya generasi pemuda, berkreasi menjual berbasis technopreneur. Kita lihat Black Innovation itu kreasi nggak komplek. Tapi di dalam dunia global harus dilindungi,” sebutnya. (ju/ant)














