ItWorks.id – Kyndryl baru-baru ini merilis Modernization Report global pertamanya, khusus untuk temuan di kawasan Asia Pasifik. Laporan tersebut menemukan bahwa seiring organisasi memperluas investasi mereka di berbagai platform legacy (platform lama) dan modern, modernisasi semakin menuntut orkestrasi bisnis, bukan sekadar konsolidasi teknologi.
“Di kawasan Asia-Pasifik, modernisasi bukan lagi soal memilih antara berinvestasi pada AI atau memperkuat infrastruktur teknologi yang mendasarinya,” ujar Megawaty Khie, Vice President & Managing Director untuk ASEAN & Korea, Kyndryl, dalam siaran pers yang diterima redaksi ItWorks, Selasa (27/10/2026).
“Organisasi membutuhkan keduanya. Seiring dengan semakin terdistribusinya lingkungan teknologi, tantangannya adalah menentukan ke mana harus berinvestasi, apa yang perlu dimodernisasi, serta bagaimana menjaga lingkungan tersebut agar tetap aman, tangguh, dan siap menghadapi masa depan,” lanjutnya.
Berdasarkan insight dari 2.000 pemimpin bisnis dan teknologi di lima benua dan 12 industri, dengan 30% responden berasal dari kawasan Asia-Pasifik, riset ini menunjukkan bagaimana AI mengubah prioritas investasi pada infrastruktur dan aplikasi, sekaligus menciptakan tantangan bagi model operasional organisasi.
Di kawasan Asia-Pasifik, AI merupakan salah satu dari beberapa prioritas modernisasi yang posisinya saling berdekatan. Peningkatan kinerja, keamanan, dan integrasi; peningkatan kelincahan, inovasi, dan skalabilitas bisnis; serta peningkatan kendali, prediktabilitas, dan tata kelola masing-masing berada di angka 36%, dibandingkan dengan 34% untuk penerapan kapabilitas AI yang lebih canggih.
AI menjadi pendorong utama peningkatan penggunaan mainframe dan komputasi edge, pendorong terbesar kedua untuk ekspansi SaaS dan private cloud, serta alasan utama organisasi melakukan upgrade jaringan dan portofolio aplikasi mereka. Setiap organisasi yang memiliki mainframe kini berencana untuk menerapkan AI pada platform tersebut.
Di Asia-Pasifik, 49% organisasi terlambat mencapai target modernisasi mereka. Di antara organisasi yang menunda proyek modernisasinya, 44% melaporkan biaya jangka panjang yang lebih besar, 43% melaporkan kegagalan mengadopsi kapabilitas baru dengan cepat, dan 38% melaporkan munculnya kerentanan baru dalam keamanan atau kepatuhan.
Agentic AI, yang dapat merencanakan dan mengeksekusi tugas secara mandiri, kini muncul sebagai salah satu cara untuk mempercepat modernisasi. Tingkat adopsinya masih berada di tahap awal. Sebanyak 10% organisasi di Asia-Pasifik telah menggunakan agentic AI pada fase produksi untuk modernisasi mereka, dan angka ini sejalan dengan rata-rata global. Organisasi menerapkan teknologi ini untuk tugas-tugas yang biasanya membutuhkan banyak waktu dan keahlian, seperti pemetaan dependensi, konversi kode, dan pembuatan dokumentasi.
Di antara temuan lainnya, studi Kyndryl menunjukkan bahwa:
● Modernisasi telah menjadi prioritas seluruh lini bisnis, bukan sekadar urusan teknis
Temuan ini menyoroti meningkatnya tuntutan terhadap CIO, yang harus memajukan beberapa prioritas sekaligus: adopsi AI, ketahanan siber, kepatuhan terhadap regulasi, efisiensi operasional, dan pertumbuhan bisnis. Responden menyebutkan sembilan kelompok pemangku kepentingan yang berbeda yang memegang kendali atas modernisasi, mulai dari CIO dan CTO hingga jajaran dewan direksi serta tim keuangan dan kepatuhan. Modernisasi kini telah berkembang melampaui lingkup departemen IT dan menjadi keputusan bisnis di tingkat dewan direksi. Dengan semakin pentingnya modernisasi, organisasi harus mengoordinasikan pengambilan keputusan di antara lebih banyak pemangku kepentingan tanpa mengorbankan kecepatan.
● Peristiwa global turut membentuk keputusan teknologi, selain faktor biaya dan kinerja
Pertimbangan kedaulatan (sovereignty) semakin menjadi faktor penting dalam strategi modernisasi. Di kawasan Asia-Pasifik, 37% organisasi menangani kedaulatan secara selektif saat ada tuntutan eksternal, sementara 26% memandangnya terutama dari sudut pandang kepatuhan. Hanya 7% yang menjadikan prinsip kedaulatan sebagai landasan transformasi perusahaan sejak awal, meskipun 65% memperkirakan akan meningkatkan penggunaan wilayah sovereign cloud atau zona khusus dalam satu tahun ke depan. Temuan ini menunjukkan bahwa lokasi geografis tempat teknologi beroperasi semakin dipengaruhi oleh pertimbangan tata kelola dan geopolitik, selain faktor kinerja, cost, dan inovasi.
● Kompleksitas terus meningkat
Temuan ini menantang asumsi lama bahwa transformasi digital akan membuat organisasi secara bertahap bermigrasi menuju satu lingkungan teknologi tunggal yang jadi pilihan mereka. Seiring luasnya jangkauan transformasi digital di seluruh lini bisnis, upaya ini harus didukung oleh koordinasi strategis, tata kelola, dan operasional, termasuk pendekatan yang lebih terintegrasi terhadap ketahanan siber seiring dengan meningkatnya dan meluasnya ancaman berbasis AI.














