ItWorks.id-PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) terus mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan. Melalui berbagai inovasi yang dikembangkan secara mandiri, mulai dari kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), otomatisasi, hingga sistem keamanan siber, PGE berhasil mempercepat sejumlah proses bisnis sekaligus menciptakan nilai efisiensi hingga puluhan miliar rupiah.
Manager Digital & IT Solution PGE, Toni Agusman, menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu upaya perusahaan untuk mengakselerasi pertumbuhan bisnis. Terlebih, PGE memiliki target pengembangan kapasitas panas bumi yang membutuhkan dukungan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efektivitas operasional.
“Kalau kita melihat roadmap, pertumbuhan yang ditargetkan cukup tinggi. Karena itu, manajemen menyadari perlunya upaya maksimal di berbagai lini, termasuk memanfaatkan digitalisasi dan AI untuk mengakselerasi pertumbuhan tersebut,” ujar Toni dalam presentasi
penjurian TOP Digital Awards 2026 yang dilakukan secara daring, Senin (26/10/2026).
Salah satu strategi yang dijalankan PGE adalah mengembangkan solusi digital secara in- house. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan operasional perusahaan, tetapi juga memperkuat kapabilitas teknologi internal, mengurangi ketergantungan terhadap vendor, dan menciptakan nilai tambah yang terukur bagi bisnis.Salah satu inovasi yang dikembangkan PGE adalah I-TECS (Intelligent Technology for integrated Governance System), platform pengelolaan dokumen terintegrasi yang mencakup seluruh siklus dokumen, mulai dari pembuatan, peninjauan, persetujuan, tanda tangan digital, penyimpanan, pencarian, hingga pemantauan.
Dikembangkan oleh tim Digital Solution PGE dan mulai diterapkan pada 2025, I-TECS mampu mempercepat proses pengelolaan dokumen dari 135 hari menjadi 50 hari, atau sekitar 63%. Implementasinya juga dilaporkan menghasilkan nilai dampak sekitar Rp 11,2 miliar
Selain mempercepat proses administrasi, platform ini membantu perusahaan menstandarkan pengelolaan dokumen, memperkuat kontrol, serta menyediakan repositori terpusat sebagai sumber informasi yang dapat diakses sesuai kewenangan.
PGE juga mengembangkan Microbot, platform orkestrasi infrastruktur berbasis Kubernetes dan agentic AI untuk mengelola server, klaster, aplikasi, serta model AI secara terpusat. Saat ini, Microbot mengelola lima klaster, 218 workload, dan 378 pod. Platform tersebut
mendukung otomatisasi penerapan aplikasi, pemantauan infrastruktur, serta penanganan gangguan. PGE mencatat penghematan riil sekitar Rp 1 miliar dan potensi penghindaran biaya (cost avoidance) lebih dari Rp 20 miliar per tahun dari solusi ini.
Inovasi lainnya adalah AutoCYD, sistem keamanan siber yang dirancang untuk mendeteksi, mencegah, dan merespons ancaman secara otomatis dan real-time. Sistem tersebut memiliki mekanisme respons ancaman dalam waktu kurang dari satu detik.
Pengembangan AutoCYD dilaporkan memberikan potensi efisiensi sekitar Rp 12 miliar per tahun sekaligus membuka peluang bisnis baru. Dengan kemampuan otomatisasi respons, perusahaan dapat memperkuat perlindungan infrastruktur digital dan mengurangi
ketergantungan pada penanganan ancaman secara manual.
Sementara itu, Kyra Cloud Platform yang mulai diterapkan pada 2026 mendukung pengelolaan server fisik, mesin virtual, dan kontainer secara terintegrasi. Platform ini dilengkapi kemampuan otomatisasi, pencadangan, dan integrasi dengan AutoCYD untuk mendukung pengelolaan infrastruktur serta keamanan digital.
Percepat Pengambilan Keputusan
Salah satu inovasi yang juga menjadi perhatian PGE adalah GENIUS, platform AI internal yang beroperasi secara on-premise. Platform ini dirancang untuk mengolah data dan dokumen perusahaan menjadi jawaban, grafik, serta wawasan yang dapat dimanfaatkan oleh
berbagai fungsi bisnis.
Melalui GENIUS, PGE berupaya memanfaatkan AI untuk membantu pekerja mengakses informasi dan melakukan analisis secara lebih cepat. Platform tersebut memiliki kemampuan menghasilkan jawaban berbasis bukti dan sitasi serta dirancang terintegrasi dengan data
operasional perusahaan.
Pendekatan ini juga memungkinkan PGE menjaga kendali atas data perusahaan karena platform dijalankan di lingkungan internal. Dengan demikian, pemanfaatan AI tidak hanya diarahkan pada peningkatan produktivitas, tetapi juga mempertimbangkan aspek keamanan
dan kedaulatan data.
Dalam sesi penjurian, Toni menjelaskan bahwa pengembangan teknologi secara internal menjadi salah satu pendekatan PGE dalam membangun solusi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
PGE melakukan pengembangan dengan mempelajari berbagai referensi teknologi, termasuk melalui riset dan pembelajaran dari sumber eksternal, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan bisnis internal.
Pendekatan tersebut memungkinkan tim Digital & IT Solution mengembangkan teknologi yang lebih spesifik untuk kebutuhan perusahaan, alih-alih hanya mengandalkan solusi siap pakai dari vendor.
Salah satu contoh pemanfaatan GENIUS adalah untuk membantu analisis aktivitas investor. Berdasarkan materi presentasi PGE, proses analisis yang sebelumnya membutuhkan sekitar dua jam dapat dipercepat menjadi tiga menit.
Percepatan tersebut memperlihatkan potensi AI dalam mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk mengolah informasi. Dengan dukungan teknologi, pekerja dapat memperoleh bahan analisis lebih cepat untuk mendukung penyusunan rekomendasi dan tindak lanjut bisnis.
Pemanfaatan AI juga menjadi bagian dari arah transformasi digital PGE untuk membangun organisasi yang semakin berbasis data. Teknologi diharapkan membantu pekerja mengurangi pekerjaan yang repetitif, mempercepat pencarian informasi, dan memberikan ruang lebih
besar bagi aktivitas yang membutuhkan analisis serta pertimbangan strategis.
Dukung Percepatan Proyek Panas Bumi
Toni menambahkan, transformasi digital PGE juga diarahkan untuk mendukung percepatan proyek pengembangan dan menjaga keandalan operasi panas bumi. Perusahaan mengelola 13 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang tersebar di enam area operasi, dengan kapasitas
terpasang yang dioperasikan sendiri sebesar 727 megawatt (MW).
PGE menargetkan kapasitas panas bumi mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2029 dan 1,8 GW pada 2033–2034. Untuk mencapai target tersebut, perusahaan perlu mengelola berbagai tantangan, mulai dari kesiapan lahan proyek, pengendalian kemajuan proyek, risiko
geohazard, hingga disiplin kinerja operasional.
PGE mengembangkan PGE Land untuk mendigitalisasi pengelolaan pembebasan lahan proyek. Sementara itu, PEDAS (Project Execution dashboard) digunakan untuk memantau kemajuan proyek pengembangan agar pelaksanaannya lebih terukur dan terkendali.
Perusahaan juga mengembangkan Geohazard Monitoring Tools untuk mendukung pemantauan risiko geohazard serta KPI Dashboard untuk memonitor kinerja dan produktivitas.
Berbagai solusi tersebut diharapkan dapat meningkatkan visibilitas proyek, mengurangi potensi keterlambatan, memperkuat mitigasi risiko, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Dengan demikian, digitalisasi berperan dalam membantu PGE menjalankan
proyek pengembangan sekaligus menjaga efisiensi operasional.
Perkuat Tata Kelola dan Keamanan Digital
Di samping inovasi dan manfaat bisnis, PGE memperkuat tata kelola teknologi informasi dan keamanan siber sebagai fondasi transformasi digital. Perusahaan telah memiliki kebijakan tata kelola TI yang mencakup perencanaan, pengembangan, pengoperasian, serta pengawasan
keamanan.
PGE juga telah memperoleh sertifikasi ISO 27001:2022 untuk sistem manajemen keamanan informasi dan ISO 20000-1:2018 untuk manajemen layanan teknologi informasi. Dalam aspek keamanan siber, PGE menerima apresiasi dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN)
untuk kategori tingkat kematangan keamanan siber Level 4 atau terkelola.
Dalam sesi penjurian, Toni menjelaskan bahwa peningkatan otomatisasi masih menjadi salah satu fokus perbaikan perusahaan, terutama pada proses pengawasan dan pengendalian keamanan siber yang sebelumnya masih dilakukan secara manual.“Kalau kita bicara penilaian BSSN, skornya dari satu sampai lima. Nilai minimumnya tiga,sedangkan kami sudah mencapai empat. Salah satu perbaikan yang diminta adalah penerapan otomatisasi pada beberapa proses yang sebelumnya masih dilakukan secara manual,” kata Toni.
Penguatan tata kelola tersebut berjalan seiring dengan upaya meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia digital. PGE menempatkan pengembangan kompetensi internal sebagai bagian dari strategi agar perusahaan mampu membangun, mengelola, dan mengoptimalkan
solusi teknologi sesuai kebutuhan bisnisnya.
Dalam penjurian TOP Digital Awards 2026, Toni hadir bersama tim Digital & IT Solution PGE yang terdiri atas Budyi Permono, Sr Analyst II Cyber Security; Rudi Nurhidayanto, Analyst I Solution Development; Syamsul Arifin, Jr Analyst II IT Planning & Governance;
Israyudi, Analyst II Geomatika; Kusnanto, Sr Analyst I Automation & Ops. Tech; Leo Cahya Dinendra, Analyst I Geo Data Management; Agung H, UI UX Designer; serta Fahri, GIS Developer. (Penulis:Nurdian)














