ItWorks.id – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) memperkuat transformasi digital melalui pengembangan layanan perpustakaan digital, integrasi sistem informasi, serta penerapan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Upaya tersebut dipaparkan dalam wawancara penjurian TOP Digital Awards 2026 yang digelar secara daring melalui Zoom, Selasa (27/10/2026), bersama Majalah ItWorks.
Kepala Pusat Data dan Informasi Perpusnas, Wiratna Tritawirasta, S.Kom., M.Kom., memaparkan berbagai inisiatif digital yang diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap sumber pengetahuan sekaligus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan.
Dalam penjelasannya, Perpusnas menempatkan digitalisasi sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya baca dan kecakapan literasi masyarakat. Langkah tersebut sejalan dengan visi lembaga untuk menjadi perpustakaan yang transformatif menuju Indonesia Emas 2045.
Sejumlah layanan digital menjadi bagian dari ekosistem yang dikembangkan Perpusnas, antara lain iPusnas, Indonesia One Search, Khastara, e-Resources, OPAC, ISBN, dan BintangPusnas Edu. Layanan tersebut mendukung berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari membaca, menelusuri sumber informasi, mengakses sumber elektronik, hingga memperoleh bahan pembelajaran.
Perpusnas juga mengembangkan integrasi sistem informasi melalui Inlis Enterprise. Sistem ini mendukung operasional perpustakaan, mulai dari proses akuisisi dan katalogisasi hingga sirkulasi bahan pustaka kepada pemustaka.
Integrasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun layanan yang lebih terpadu. Dengan sistem yang saling mendukung, pengelolaan informasi dan operasional perpustakaan dapat dilakukan secara lebih terstruktur.
“Transformasi digital Perpusnas diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan melalui layanan yang terintegrasi. Pengembangan teknologi tidak hanya berfokus pada sistem, tetapi juga pada peningkatan kecepatan, kualitas, dan kemudahan layanan bagi pemustaka,” ujar Wiratna.
AI Dikembangkan untuk Mendukung Layanan
Perpusnas turut memaparkan penggunaan AI pada aplikasi Indonesia One Search dan Inlislite yang diimplementasikan pada 2026. Teknologi tersebut dikembangkan untuk mendukung peningkatan kecepatan dan kualitas layanan informasi kepada pengguna, termasuk Perpusnas dan perpustakaan mitra. Sumber pengetahuan yang digunakan AI berasal dari koleksi yang tersedia pada aplikasi terkait. Koleksi tersebut telah memperoleh izin dan validasi dari pemiliknya serta diperbarui secara berkala.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya menjaga relevansi dan keterpercayaan informasi yang digunakan dalam layanan berbasis AI. Perpusnas juga menekankan pentingnya perlindungan manusia, privasi, pengujian keamanan, pemeriksaan potensi bias, serta validasi oleh manusia dalam penerapan AI yang bertanggung jawab.
“Pemanfaatan AI harus disertai pengelolaan sumber informasi yang dapat dipercaya, perlindungan privasi, dan pengawasan manusia. Teknologi ini diharapkan membantu meningkatkan kualitas layanan tanpa mengabaikan aspek keamanan dan akuntabilitas,” terang Wiratna.
Tata Kelola dan Keamanan Siber Diperkuat
Selain mengembangkan layanan, Perpusnas memperkuat tata kelola teknologi informasi dan keamanan digital. Langkah tersebut antara lain didukung Arsitektur dan Peta Rencana Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Perpusnas 2025–2029, pedoman perlindungan data pribadi terkait layanan keanggotaan, serta kebijakan dan standar sistem manajemen keamanan informasi.
Perpusnas juga memaparkan penerapan Sistem Manajemen Keamanan Informasi dengan sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 pada ruang lingkup layanan aplikasi Inlis dan data center. Upaya lainnya meliputi penilaian Indeks Pemerintah Digital, pengukuran tingkat kematangan keamanan siber dan sandi (IKASANDI), serta pembentukan Computer Security Incident Response Team (CSIRT) untuk memperkuat koordinasi dan penanganan insiden keamanan siber.
Dalam pengelolaan risiko, Perpusnas telah memiliki IT Risk Register dan melaksanakan penilaian risiko digital. Mekanisme tersebut digunakan untuk mengidentifikasi, menganalisis, memantau, serta mengendalikan risiko yang dapat memengaruhi aset informasi, aplikasi, infrastruktur, dan keberlangsungan layanan.
Dari sisi kinerja layanan, materi presentasi mencatat pencapaian Service Level Agreement (SLA) sebesar 99,9 persen pada Januari–Juli 2026 untuk layanan yang dipantau. Pemantauan dilakukan melalui dashboard SLA pada layanan aplikasi Inlis dan jaringan.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator pemantauan kualitas layanan teknologi informasi. Pengelolaan ketersediaan layanan tetap perlu didukung pemantauan berkala, penanganan gangguan, dan evaluasi risiko agar layanan dapat berjalan sesuai kebutuhan pengguna.
Pengembangan ekosistem digital tersebut diarahkan untuk mendukung tugas Perpusnas dalam memperluas akses pengetahuan, meningkatkan budaya baca, dan memperkuat literasi masyarakat. Dengan tata kelola yang terukur serta teknologi yang digunakan secara bertanggung jawab, transformasi digital diharapkan memberikan manfaat nyata bagi pemustaka dan perpustakaan mitra.














