ItWorks.id – PT Media Telekomunikasi Mandiri (MTM) terus memperluas kiprahnya di industri teknologi informasi dan komunikasi (ICT) melalui transformasi bisnis dari penyedia solusi system integrator menjadi penyedia layanan ICT terintegrasi. Dengan mengandalkan inovasi digital, kecerdasan buatan (AI), dan penguatan keamanan siber (cybersecurity), MTM membidik peluang pertumbuhan baru sekaligus menjawab kebutuhan transformasi digital di berbagai sektor industri.
Sejak berdiri pada 2008, perusahaan yang awalnya berfokus sebagai system integrator bagi operator telekomunikasi dan penyedia layanan (service provider) ini secara bertahap memperluas cakupan bisnis ke berbagai sektor industri. Selain tetap menjadikan industri telekomunikasi sebagai kontributor utama, MTM mulai menggarap segmen enterprise, termasuk layanan keuangan dan sektor publik serta pemerintahan.
Technology & Operations Director PT Media Telekomunikasi Mandiri, Wisnu Prasetya, mengatakan perkembangan bisnis tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat posisinya dalam ekosistem ICT nasional. MTM tidak hanya berperan sebagai penghubung antara kebutuhan pelanggan dan teknologi dari prinsipal global, tetapi juga terus mengembangkan kapabilitas untuk menyediakan solusi dan layanan secara lebih menyeluruh.
“Media Telekomunikasi Mandiri, ini kalau kita bicara secara perusahaan, kami berdiri sejak tahun 2008, memang bergerak di industri ICT, di mana kami secara awalnya ini sebagai sistem integrator, fokusnya memang di operator-operator telko, ataupun service provider,” ujar Wisnu dalam paparannya di hadapan dewan juri TOP Digital Awards 2026, Jumat (6/11/2026).
Dalam perkembangannya, MTM juga memperluas jangkauan operasional. Perusahaan melayani berbagai proyek di tingkat nasional dan mendukung implementasi teknologi untuk sejumlah operator telekomunikasi Indonesia yang memiliki jaringan operasional di luar negeri.
Dari sisi portofolio, bisnis MTM mencakup penyediaan solusi ICT, konektivitas dan jaringan, managed service, cybersecurity, hingga layanan outsourcing. Perusahaan juga mengembangkan lini bisnis melalui entitas anak yang berfokus pada konektivitas dan layanan penyedia jaringan.
Transformasi Bisnis dan Penguatan Layanan ICT
Salah satu langkah penting dalam pengembangan MTM adalah transformasi model bisnis. Jika sebelumnya perusahaan lebih banyak menjalankan pekerjaan berbasis proyek, kini MTM juga mengembangkan layanan terkelola yang memungkinkan pelanggan menyerahkan pengelolaan kebutuhan ICT kepada perusahaan.
Model layanan tersebut menyasar perusahaan yang ingin mempercepat transformasi digital tanpa harus mengalihkan perhatian dan sumber daya dari kegiatan bisnis utamanya. Dengan dukungan MTM, pelanggan dapat lebih fokus pada kompetensi inti perusahaan, sementara kebutuhan pengelolaan teknologi informasi ditangani oleh penyedia layanan yang memiliki kapabilitas di bidang tersebut.
Wisnu menjelaskan, perubahan model bisnis ini menjadi bagian dari upaya MTM untuk memberikan nilai tambah yang lebih besar kepada pelanggan.
“Kita jalankan juga transformasi digital, dalam arti tidak hanya sekadar untuk kebutuhan di internal, termasuk juga layanan-layanan kami, yang tadinya mungkin hanya fokus di project base model, kemudian akhirnya kita beralih menjadi suatu juga penyedia layanan yang terkelola atau managed service,” katanya.
Menurut Wisnu, pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan pelanggan menjalankan transformasi digital secara lebih efektif, terutama bagi organisasi yang ingin berkonsentrasi pada bisnis inti dan tidak terbebani pengelolaan ICT secara mandiri.
Untuk mendukung strategi itu, MTM terus mengembangkan kapabilitas sumber daya manusia, teknologi, dan tata kelola. Penguatan kompetensi dilakukan melalui program pengembangan talenta serta sertifikasi profesional yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
Selain kompetensi jaringan yang selama ini menjadi salah satu kekuatan perusahaan, pengembangan keahlian juga diarahkan pada bidang keamanan siber, tata kelola teknologi, komputasi awan, serta teknologi pendukung lainnya. Langkah tersebut sekaligus memperluas kemampuan MTM dalam memberikan solusi yang tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga mencakup lapisan aplikasi dan keamanan.
AI dan Cybersecurity Jadi Fokus Inovasi
Sejalan dengan perkembangan teknologi, MTM mulai mengintegrasikan AI dalam pengembangan layanan, khususnya di bidang keamanan siber. Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah CyberKavaca, yakni layanan Security Operations Center as a Service (SOCaaS) berbasis AI.
Layanan ini dirancang untuk membantu proses pemantauan, pengelolaan, dan analisis insiden keamanan siber secara lebih efisien. Melalui pemanfaatan AI, sejumlah aktivitas operasional yang sebelumnya membutuhkan proses manual dapat diotomatisasi, sehingga tim keamanan dapat lebih fokus pada analisis dan penanganan insiden yang membutuhkan pertimbangan manusia.
Wisnu mengungkapkan, CyberKavaca telah melalui tahap proof of concept (POC) bersama salah satu pelanggan pada 2026. Implementasi awal tersebut menunjukkan potensi efisiensi yang signifikan dalam aktivitas operasional.
“Untuk yang AI, kita sudah coba implementasikan di layanan kita, namanya adalah CyberKavaca, ini berupa layanan SOC as a Service yang menggunakan AI. Tahun implementasi ini 2026, sudah kita POC-kan ke salah satu end customer kita. Dan kebermanfaatannya Alhamdulillah ini bisa nge-reduce operasional activities di kami, hampir sekitar 80-90 persen,” ungkap Wisnu yang pada sesi penjurian ini ditemani sejumlah rekan dari MTM, di antaranya Sri Tunjung Rianto sebagai Head of Product Lifecycle & Packaging; Teddy Ciptadi sebagai Head of Legal & Regulatory; Setyo Dwi Nugroho sebagai Head of Presales IT, Cloud & Security; dan Muhammad Mahrus Qusaeri sebagai Head of Cybersecurity.
Meski mengandalkan otomatisasi, MTM tetap menempatkan manusia sebagai bagian penting dalam pengawasan sistem AI. Proses analisis dan penanganan insiden tetap melibatkan personel keamanan siber sesuai dengan tingkat kompleksitas dan kebutuhan penanganan.
Pendekatan tersebut mencerminkan prinsip human oversight yang diterapkan perusahaan agar pemanfaatan AI tetap berada dalam kendali manusia. Sistem AI digunakan untuk membantu mempercepat pekerjaan, sementara tim operasional tetap memiliki peran dalam mengintervensi, memvalidasi, dan mengambil keputusan yang diperlukan.
Selain CyberKavaca, MTM juga mengembangkan CyberXatria, sebuah platform untuk kebutuhan cyber drill atau simulasi penanganan insiden keamanan siber. Platform ini mendukung berbagai skenario latihan, termasuk tabletop exercise, red team, dan blue team, untuk meningkatkan kesiapan organisasi menghadapi ancaman digital.
Pengembangan CyberXatria juga membawa MTM terlibat dalam ekosistem peningkatan kesadaran keamanan siber nasional. Perusahaan dipercaya mendukung Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam sejumlah program peningkatan kesadaran bagi pengguna dan pemangku kepentingan di berbagai sektor.
Wisnu menyebut keterlibatan tersebut menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap kapabilitas dan inovasi perusahaan di bidang keamanan siber.
“Harapannya kita menjadi bagian dari digital innovation ecosystem, khususnya ataupun spesifik di cybersecurity,” ujarnya.
Tata Kelola dan Kapabilitas sebagai Fondasi Pertumbuhan
Di tengah pengembangan teknologi dan layanan, MTM juga menempatkan tata kelola sebagai fondasi penting dalam menjalankan bisnis. Perusahaan mengintegrasikan perencanaan teknologi informasi dengan arah pengembangan bisnis melalui Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) dan IT Master Plan.
Kerangka tata kelola tersebut mencakup kebijakan teknologi informasi, manajemen keamanan informasi, perlindungan data pribadi, manajemen risiko, hingga pengelolaan data. MTM juga tengah memformalkan kebijakan penggunaan AI sebagai bagian dari kesiapan perusahaan dalam mengadopsi teknologi tersebut secara bertanggung jawab.
Dalam aspek standar dan kepatuhan, MTM telah mengantongi sejumlah sertifikasi ISO, antara lain ISO 27001 untuk sistem manajemen keamanan informasi, ISO 9001 untuk manajemen mutu, ISO 14001 untuk manajemen lingkungan, ISO 45001 untuk kesehatan dan keselamatan kerja, serta ISO 37001 untuk sistem manajemen anti-penyuapan.
Perusahaan juga telah terdaftar sebagai Computer Security Incident Response Team (CSIRT) pada BSSN sejak 2023 dan telah memperpanjang registrasinya untuk periode 2026–2029. Selain itu, tingkat kematangan keamanan siber perusahaan telah mencapai level 4 atau kategori terkelola.
Berbagai upaya tersebut menjadi bagian dari strategi MTM dalam membangun kepercayaan pelanggan, terutama ketika perusahaan semakin banyak menangani kebutuhan infrastruktur, konektivitas, dan keamanan digital yang memiliki peran penting dalam operasional bisnis.
Wisnu menilai kekuatan MTM terletak pada kelengkapan portofolio layanan yang memungkinkan perusahaan memenuhi kebutuhan pelanggan secara menyeluruh. Mulai dari penyediaan infrastruktur jaringan, pengelolaan layanan ICT, hingga solusi keamanan siber, seluruhnya dikembangkan untuk memberikan dukungan terintegrasi.
“Sehingga harapannya ini menjadi suatu hal yang dinilai lebih oleh mungkin para end-user-nya kami, bahwa solusi MTM bisa meng-cover kebutuhan ataupun requirement mereka secara end-to-end. Baik yang layer 1 infrastruktur, kemudian mungkin di layer atasnya, di aplikasi, termasuk juga mungkin di security-nya,” tuturnya.
Ke depan, MTM akan terus memperluas pemanfaatan teknologi digital dan AI untuk memperkuat daya saing perusahaan sekaligus mengembangkan peluang bisnis baru. Penguatan ekosistem kemitraan, pengembangan talenta, serta inovasi layanan cybersecurity dan managed service menjadi bagian dari agenda pertumbuhan perusahaan.
Melalui strategi tersebut, MTM berupaya memperkuat posisinya sebagai penyedia solusi ICT terintegrasi yang tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga memberikan dukungan terhadap keberlanjutan transformasi digital pelanggan.














