Jakarta, Itech – Pemerintah Singapura mencurigai adanya kecurangan dari penjualan Uber Asia Tenggara ke pesaingnya Grab.
Lembaga pengawas Competition Commission of Singapore (CCS) pun langsung melakukan memulai investigasi terhadap penjualan tersebut dan meminta Uber serta Grab untuk mempertahankan pola harga sebelum proses pembelian sepenuhnya rampung.
CCS juga mengingatkan Grab untuk tidak mengambil tindakan yang dapat merugikan Uber dalam hal meningkatkan profitabilitas setelah keluar dari Asia Tenggara. CSS ingin memastikan Grab tidak menyalahgunakan posisinya yang dominan untuk mempermainkan tarif.
“Kami berkomitmen untuk mempertahankan struktur tarif yang ada dan tidak akan menaikkannya. Ini adalah komitmen yang kami siapkan untuk CCS dan masyarakat luas,” kata Lim Kell Jay (Pimpinan Grab Singapura) kepada Reuters.
CSS melihat Grab berpotensi memonopoli tarif ojek online di Asia Tenggara, mengingat Grab menjadi penguasa pasar ojek online di Asia Tenggara.
Selain CSS, Otoritas Malaysia Land Public Transport Commission (LPTC) juga berencana memeriksa akuisisi Grab terhadap Uber. Datuk Seri Nancy Shukri (Kepala LPTC) menyatakan Grab menjamin tidak akan melakukan perubahan struktur tarif setelah membeli Uber.
“Tapi dengan adanya temuan di Singapura, kami akan memeriksa apakah ada pelanggaran kompetisi di sini,” katanya seperti dikutip Strait Times.
Grab baru saja mengakuisi operasional Uber di Asia Tenggara sekaligus menjadikan Grab layanan jasa transportasi online terbesar di regionalnya. Uber tidak benar-benar melepas perusahaannya karena akan diberi jatah saham 27,5 persem di Grab. Sedangkan, Dara akan bergabung ke dewan direksi Grab.
Sebelumnya, Uber juga telah menjual wilayah operasionalnya kepada kompetitornya yaitu Didi Chuxing di Tiongkok dan Yandex di Rusia.
Penjualan wilayah operasional Uber di Tiongkok dan Rusia terjadi pada masa Travis Kalanick (Pendiri dan Mantan CEO Uber) masih memimpin perusahaan yang berkantor pusat di California, AS.
Dara Khosrowshahi (CEO Uber) mengatakan Uber menghadapi terlalu banyak persaingan di Asia Tenggara sehingga kurang fokus dan perlu melepas bisnis di pasar tertentu.
“Salah satu bahaya potensial dari strategi global kita adalah kita terlibat di terlalu banyak pertempuran di berbagai medan dan dengan terlalu banyak kompetitor,” tulis Dara dalam email pada para karyawan Uber.














