Jakarta, Itech – Symantec Internet Security Threat Report (ISTR) mengungkapkan kini penjahat siber menggunakan modus baru cryptojacking untuk mendapatkan keuntungan, menyusul modus tren ransomware terlalu mahal dan penuh sesak.
David Rajoo (Director, Systems Engineering, Malaysia & Indonesia) mengatakan ISTR Symantec memberikan pandangan menyeluruh tentang lanskap ancaman, termasuk informasi tentang aktivitas ancaman global, tren kejahatan siber dan motivasi penyerang. Indonesia sendiri berada diperingkat ke-5 di wilayah Asia Pasifik dan Jepang (APJ) dan diurutan ke-23 secara global untuk aktivitas penambangan crypto.
“Cryptojacking adalah ancaman berkembang terhadap keamanan siber dan pribadi,” katanya di Jakarta, Jumat.
Tren mata uang digital mendorong penambang koin ilegal yang akan menyedot sumber daya dari sistem mereka. Hal itu akan mendorong penjahat untuk menginfiltrasi apa saja, mulai dari PC di rumah hingga pusat data raksasa.
“Pengguna perlu meningkatkan pertahanan mereka atau mereka akan membayar akibat dari orang lain yang menggunakan perangkat mereka,” ujar Andris Masengi (Country Manager Indonesia).
Laporan ISTR Symantec menganalisa data dari Symantec Global Intelligence Network yang mencatat aktivitas dari 126,5 juta sensor serangan di dunia dan memantau aktivitas ancaman di lebih dari 157 negara dan wilayah.
Fakta lainnya, Symantec menemukan peningkatan sebesar 600 persen dalam serangan IoT pada 2017 dan penjahat siber dapat memanfaatkan sifat terhubung dari perangkat untuk menambang keuntungan secara masal. Symantec mendeteksi peningkatan jumlah serangan penambangan koin sebesar 80 persen terhadap OS Mac.
Symantec pun mengidentifikasi peningkatan sebesar 200 persen dari penyerang yang membenamkan malware ke dalam rantai pasokan software sejak 2017. Indonesia juga termasuk salah satu dari 10 negara yang paling sering memblokir mobile malware pada 2017.
Symantec memblokir rata-rata 24.000 aplikasi mobile berbahaya setiap hari pada tahun lalu.














