Tangerang,Itech- Setelah resmi mengantongi izin dari Bank Indonesia (BI) pada 22 Mei 2018, PT Veritra Sentosa Internasional (Paytren) kembali me-launching Paytren. Produk layanan e-money besutan Kyai H. Yusuf Mansur ini optimistis bisa mengelola dana hingga Rp30 Triliun per bulan.
Sempat dibekukan Oktober 2017 oleh Bank Indonesia karena masalah perizinan, setelah berhasil memperbarui berbagai aspek kelayakan bisnis, sistem informasi, manajemen risiko sesuai dengan peraturan BI mengenai uang elektronik, PT Veritra Sentosa Internasional akhirnya berhasil mengantongi kembali izin untuk layana e-money-Paytren pada 22 Mei 2018. Bank Indonesia resmi mengeluarkan izin dengan nomor 20/307/DKSP/Srt/B perihal persetujuan izin sebagai penerbit uang elektronik server based. Peluncuran kembali Paytren akhir pada (1/6), dilakukan di lingkungan Pesantren Tahfidz Daarul Quran, Tangerang berlangsung lebih semarak yang dihadiri para pejabat penting.
“Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan yang luar biasa dari semuanya. Teman, sahabat dan juga para senior yang menyempatkan hadir di acara ini. Mudahkan-mudahan di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, menjadi pertanda baik untuk Paytren ke depan. Saya optimistis prospek e-money ini akan cepat berkembang,” ungkap Founder dan Owner Paytren, Ustad Yusuf Mansur.
Beberapa pejabat yang ikut memeriahkan acara peluncuran uang elektronik ini, di antaranya Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Sosial Idrus Marham, Menteri Desa dan PDTT Eko Putro Sandjojo, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, serta Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharam. Selain itu juga dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin, Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, serta beberapa pejabat lain. Acara ini juga dihadiri komunitas dari lintas agama, hingga artis Syahrini yang juga ikut bicara saat jumpa pers.
Menurut Ustad Yusuf Mansur, dengan pertumbuhan dan tren penggunaan e-money di kalangan masyarakat yang semakin tinggi, pihaknya optimistis Paytren akan cepat berkembang pesat. Perusahaan teknologi finansial atau fintech yang sudah mengajukan izin sejak 2014, memiliki hampir 2,2 juta mitra yang tersebar di dalam negeri, bahkan juga di 35 negara lain. Dengan layanan e-money ini, pengguna dapat melakukan banyak transaksi, seperti membayar pulsa telepon, pembayaran rekening listrik, belanja dan transaksi lainya. Bahkan, pengguna layanan ini di luar negeri, Malaysia dan Hong Kong bisa membeli pulsa lewat Paytren serta bisa mengirim uang ke kampung halamannya.
“Setelah resmi mengantongi izin ini, kami optimitis bisa mengumpulkan 10 juta pengguna dengan memasang target dana yang dikelola mencapai Rp 30 triliun per bulan. Kalau sampai berhasil mengumpulkan 60 juta orang di Paytren, kita bisa kelola sampai Rp120 triliun,” ujar Yusuf Mansur.
Dari usaha ini, dia berambisi bisa membeli saham bank lagi dan unicorn (sebutan untuk perusahaan startup yang nilainya di atas US$1 miliar). Tekad itu karena dengan beroperasinya Paytren telah membuka jalan untuk pengumpulan dana dari masyarakat (crowdfunding). Dari sistem inilah Paytren, kata Yusuf Mansur, punya potensi bisa mengumpulkan dan mengelola dana hinga Rp30 triliun sebulan.
“Dengan model pengumpulan dana gotong royong, peluang untuk membeli bank lagi dan unicorn, bukan hal mustahil. Bulan lalu kami sudah membeli saham bank BRI Syariah, dan ini akan bisa berlanjut ke bank lain. Insya Allah, kami siap beli-beli (startup) unicorn. Kami juga siap membeli 15 bank dalam kurang dari tiga tahun ke depan,” katanya.
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dalam sambutananya mengatakan, layanan uang elektronik Paytren dapat menjadi sarana percepatan inklusi keuangan di Indonesia. “Inklusi keuangan di Indonesia tahun 2014 hanya 36% atau 96 juta orang. Pada tahun 2017 sudah meningkat menjadi 130 juta jiwa, tapi itu jumlah itu belum mencakup setengah dari penduduk Indonesia. Artinya ini bisa menjadi peluang dan sarana untuk membantu dalam meningkatkan tingkat inkulusi keuangan di kalangan masyarakat seiring meningkatnya penetrasi penggunaan smart phone yang juga makin tinggi,” ujarnya.
Ditambahkan dengan target inklusi keuangan yang mencapi 75% di tahun 2019 mendatang, pihanya juga terus mempersiapkan dari segi dukungan infrastruktur. Namun, diakui untuk mencapai target tersebut, perlu dukungan dari elemen lain, seperti pengembangan layanan keuangan elektronik (fintech) seperti Paytren. “Dari sisi infrastruktur nggak masalah, karena jaringan ponsel dan 4G saat ini terus diperkuat. Nah, teknologi baru model Paytren ini tentu akan sangat membantu untuk mendorong penetrasi inklusi keuangan informal,” ujarnya. (red-AC)














