Jakarta, Itech- Hingga saat ini penanganan masalah sampah di kota-kota besar seperti Jakarta dengan penggunaan sentuhan teknologi, masih terbilang rendah. Padahal dengan kemajuan teknologi serta era informasi internet yang kian berkembang pesat, peran teknologi bisa lebih dioptimalkan sebagai solusi dalam menagani masalah sampah ini.
Sampah telah menjadi salah satu masalah besar yang dialami kota-kota besar di Indonesia seperi Jakarta, dan kota-kota lainnya. Belum terselesaikannya permasalahan ini, bukan semata-mata karena belum adanya kebijakan tegas dan berani, namun juga karena sistem penanganan dan dukungan teknologi yang masih kurang memadai. Padahal permasalahan sampah perkotaan seperti Jakarta, banyak yang mengatakan sudah memasuki tahap darurat sampah, yang perlu segera diatasi. Terutama mengurangi terus menumpuknya timbunan sampah yang selama ini selalu bermuara di lokasi TPA. Padahal sebagian sampah bisa diproses dengan dukungan teknologi, agar bisa bernilai ekonomi.
“Pola penanganan sampah yang bertumpu pengelolaan sampah dengan dukungan teknologi masih rendah. Sehingga penumpukan sampah di TPA terus bertambah. Pola seperti ini harus dikurangi dengan pendekatan baru bahwa sampah bisa menjadi sumber daya yang bisa dikelola agar mempunyai nilai ekonomi. Dalam hal ini peran dan penggunaan teknologi harusn lebih dioptimalkan yang mengarah pada waste management system secara terpadu,” ujar Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Ali Maulana Hakim, pada acara peluncuran PRAISE “100 Dropping Box” (8/8), di Jakarta.
Hal senada diungkapkan Mohamad Bijaksana Junerosano – Pendiri Waste4Change. Menurutnya, selain perlu dukungan teknologi untuk pengelolaanya, dengan teknologi informasi juga bisa diimplementasikan untuk proses penanganan sampah dari hulu hingga hilir agar lebis efisien. Misalnya penggunaan system informasi berbasis e-waste untuk program bank sampah, di mana dengan dukungan internet dan teknologi online, di mana bisa dilakukan dengan memasang alat di setiap titik atau bak penampungan dengan teknologi terintegrasi, sehingga sampah bisa diangkut sesuai informasi dari sistem tersebut. Hal ini sejalan dengan upaya memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung konsep smart city.
“Saya kira kemajuan teknologi informasi (TI) bisa diimplementasikan dalam banyak bidang, termasuk untuk menangani masalah sampah ini. Misalnya dengan mengembangkan aplikasi berbasis teknologi informasi yang terintegrasi untuk menguatkan sistem pengelolaan sampah secara terpadu, yang juga bisa diakses masyarakat luas. Sehingga ini bisa membantu memudahkan alur koordinasi dan informasi tiap pihak yang terlibat, termasuk dengan masyarakat laus,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu Sinta Kaniawati selaku perwakilan PRAISE mengatakan, program program “100 unit Dropping Box” merupakan kelanjutan dari kepedulian masyarakat, terutama untuk membantu dalam menyediakan fasilitas pengumpulan sampah kemasan. Melalui kerja sama dengan Waste4Change, inisiatif penempatan Dropping Box sampah kemasan yang saat ini sebagian sudah terdistribusi akan dilakjukan di 100 titik di berbagai wilayah Jakarta, seperti di kawasan pertokoan, fasilitas publik, perkantoran, hingga institusi pendidikan. “Kami harap program ini bisa diikuti pihak lain untuk sama-sama berpartisipasi menangani masalah sampah demi mendukung usaha daur ulang sampah,” ujarnya.
Dr. Novrizal Tahar, Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (KLKH RI) yuang hadir dalam acara ini menyampaikan apresiasi adanya program “100 Dropping Box” dari PRAISE ini. Menurutnya, terkait sampah, pemerintah telah mengaturnya, dalam Peraturan Presiden No.97 tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Pemerintah juga telah menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah nasional atau Jakstranas.
“Melalui kebijakan tersebut, kami menargetkan bisa mengurangi sampah sebesar 30% di tahun 2025 dan dapat menangani tumpukan sampah sebesar 70% pada 2025. Tentu untuk menuju ke sana, perlu dukungan semua pihak, baik masyarakat maupun pelaku dunia usaha,” ungkapnya.
Disebutkan, Jakstranas merupakan terobosan baru dalam pengelolaan sampah yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pengelolaan sampah terintegrasi, mulai dari sumber sampai ke pemrosesan akhir. Hal ini juga dalam upaya mendorong tumbuhnya circular economy yang komprehensif, salah satunya adalah meningkatkan collecting system dengan perubahan perilaku publik sebagai salah satu mata rantai yang sangat penting dalam tumbuhnya circular economy.
Diakaui, persoalan pengelolaan sampah, terutama di kota-kota besar di Indonesia, masih menjadi tantangan besar. Seiring meningkatnya jumlah masyarakat urban, volume sampah juga terus meningkat setiap tahun. Saat ini, setiap orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 0,7 kg sampah per hari. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat volume timbulan sampah di seluruh Indonesia tahun 2017 mencapai 65,8 juta ton.
Sedangkan di Jakarta sendiri, tercatat bahwa volume sampah telah mencapai 6.500 -7.000 ton per hari, seiring dengan semakin meningkatnya populasi penduduk dan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Sayangnya, perilaku memilah sampah pada masyarakat Indonesia masih rendah, menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2014, tingkat perilaku memilah sampah di rumah tangga baru mencapai 18,84%.
“Perlu disadari bersama bahwa kunci dari bernilai atau tidaknya sampah terletak pada pemilahan sampah yang tepat. Sayangnya, perilaku memilah sampah pada masyarakat Indonesia masih rendah. Karena itu, usaha untuk memperbaiki kondisi ini perlu kita galakkan bersama,” ujarnya. (Red-AC)














