Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan pemerintah Indonesia telah mempersiapkan diri menghadapi era Revolusi Industri 4.0 yang disebut-sebut akan berdampak pada segala bidang, termasuk pertanian. Di bidang pertanian ditandai dengan munculnya penggunaan mesin-mesin otomatis yang terintegrasi dengan jaringan internet atau mekanisasi pertanian. Mekanisasi pertanian merupakan salah satu komponen penting untuk pertanian modern dalam mencapai target swasembada pangan berkelanjutan.
“Untuk menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 ini, Kementan beberapa waktu lalu di Serpong bereksperimen dengan model dan inovasi bisnis baru, yaitu pertanian presisi (Precision Agriculture) dan pertanian pintar (smart farming). Kami menyebutnya sebagai Internet of Things (IoT) Agriculture 4.0,” kata Kepala Subbagian Protokol Kementerian, Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian, Eko Nugroho di sesi Presentasi dan Wawancara dengan Dewan Juri TOP DIGITAL Awards 2019 di Jakarta, 21 Oktober 2019.
Dalam prakteknya di lapangan metode smart farming ini menggabungkan antara platform berbasis IoT dengan alat dan mesin pertanian (alsintan). Jadi, alat produksi pertanian tidak lagi dioperasikan secara konvensional namun dikendalikan dengan teknologi sehingga alsintan harus ditingkatkan atau di-upgrade.
“Untuk itu, anggaran Kementerian Pertanian untuk mekanisasi dan bantuan Alsintan sudah dinaikan. Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) juga sudah melakukan upgrade di beberapa alat-alat pertanian. Harapannya ke depan smart farming ini bisa meningkatkan kualitas maupun kuantitas produksi dalam industri agrikultur,” papar Eko.
Konsep Internet of Things (IoT) Agriculture 4.0 yang dicanangkan Kementan memiliki 2 garis besar yakni Smart Farming dan Precision Agriculture.
Pertama, Smart Farming atau pertanian pintar yaitu penggunaan platform yang dikonektivitaskan dengan perangkat teknologi. Contohnya seperti penggunaan tablet dan handphone dalam pengumpulkan informasi seperti status hara tanah, kelembaban udara dan kondisi cuaca yang diperoleh dari perangkat yang ditanamkan pada lahan pertanian.
Kedua, Precision Agriculture atau pertanian presisi mengarah lebih kepada penggunaan input berupa pestisida dan pupuk sesuai kebutuhan berdasarkan informasi olahan data pada perangkat teknologi sehingga tidak ada kelebihan dalam dosis pengaplikasiannya karena dipenuhi berdasarkan kekurangannya. Dampak baik yang ditimbulkan pada pengaplikasian pupuk atau pestisida sesuai kebutuhan akan menjaga kesehatan dan kelestarian tanah, optimalisasi penggunaan input dan saving cost.
Inovasi Mekanisasi Pertanian Berbasis TI dari Kementan
Kementerian Pertanian melalui Balitbangtan telah mendukung pengembangan Industri 4.0 di Bidang Pertanian dengan memanfaatkan teknologi-teknologi cloud computing, mobile internet dan mesin cerdas (artificial intelligence), kemudian digabung menjadi generasi baru yang dimanfaatkan untuk menggerakkan traktor sehingga mampu beroperasi tanpa operator (autonomous tractor), pesawat drone untuk deteksi unsur hara, dan robot grafting.
Kementan juga telah meluncurkan teknologi yang dikembangkan dengan kombinasi antara teknologi cloud computing dengan mobile internet, seperti UPJA Smart Mobile yaitu aplikasi android yang digunakan untuk melakukan usaha jasa pengolahan tanah, jasa irigasi, jasa penanaman padi, jasa panen padi, jasa penggilingan padi, jasa jual benih, jasa jual gabah, jasa pelatihan untuk operator alsintan, perawatan dan perbaikan alsintan, dan jasa penjualan suku cadang alsintan
Ada juga SAPA MEKTAN, aplikasi administrasi pengujian alsintan online berbasis android dan berbasis web yang digunakan di Laboratorium Penguji BBP Mektan.
Inovasi teknologi mekanisasi lain yang sudah diluncurkan seperti Smart irrigation, smart green house, telescoping boom sprayer, mobile dryer, rice Upland Seeder by Farm Dozer, jarwo riding transplanter, penanam benih padi, alsin penanam tebu dan pemasang drip line irigasi, dan kandang ayam close system untuk mendukung Program Bekerja (Bedah Kemiskinan, Rakyat Sejahtera).
Penulis: Abi Abdul Jabar














