Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Intan Banjar mengalami kendala teknis dan non-teknis yang menyebabkan Kehilangan air atau Non Revenue Water (NRW)/Air Tak Berekening (ATR).
Direktur PDAM Intan Banjar Syaiful Anwar menyebut kendala teknis kehilangan air umumnya disebabkan oleh kebocoran pipa dan limpahan tangki reservoir. Sementara kendala non teknis biasanya disebabkan oleh konsumsi tak resmi, ketidakakuratan meter air, dan kesalahan penanganan data.
“Terjadinya kehilangan air di jaringan pipa PDAM mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit mengingat pengolahan airnya pun memerlukan biaya mulai dari bahan kimia, listrik, dan lain-lain. Belum lagi jaringan perpipaan yang kehilangan tekanan. Selain itu, angka kehilangan air yang tinggi juga akan mempengaruhi suplai air bersih PDAM terhadap konsumen,” kata Syaiful dalam sesi Presentasi dan Wawancara Top Digital Awards 2019 di Jakarta, Kamis (10/10).
Syaiful menjelaskan PDAM Intan Banjar memiliki komitmen untuk terus menekan tingkat kehilangan air. Tercatat tingkat NRW PDAM sebesar 39 persen Di tahun 2017, lalu turun menjadi 38 persen di tahun 2018. Tingkat NRW kemudian meningkat tajam di hingga bulan Agustus 2019 menjadi 41 persen akibat kebakaran hutan. Tapi bisa diturunkan ke angka 33 persen di bulan September.
Untuk menekan tingkat NRW dan menangani permasalahan teknis yang terjadi pada jaringan pipa, Syaiful mengatakan PDAM Intan Banjar telah mengimplementasikan Sistem IoT Monitoring.
“Permasalahan yang terjadi di lapangan karena proses monitoring yang masih dilakukan secara manual untuk melakukan pengukuran dan pencatatan, lalu keterbatasan jumlah personel yang melakukan tugas monitoring, serta keterlambatan PDAM dalam menerima tingkat kebocoran. Dengan luasnya wilayah/jaringan perpipaan yang ada sehingga tidak memungkinkan pemantauan di semua wilayah pelayanan secara sekaligus dalam satu waktu,” papar Syaiful.
Penerapan Sistem IoT Monitoring, lanjut Saiful, mampu mengatasi masalah di atas. Sistem ini memiliki 3 manfaat yakni pertama, efisiensi SDM karena mengurangi jumlah personil di lapangan. Kedua, termonitor secara real time 24 jam, ketiga, mempermudah evaluasi jaringan perpipaan di PDAM.
“Implementasi Sistem IoT Monitoring PDAM Intan Banjar dilakukan dengan menggunakan perangkat VSD (Variable Speed Drive) dan sensor PLC yang mampu memonitor tekanan (pressure), aliran (flow), index dan level dari air yang ada di jaringan pipa PDAM,” tutur Syaiful.
“Untuk bisa memantau secara realtime 24 jam non-stop kita gunakan beberapa peralatan seperti panel surya dan baterai serta box-nya untuk melindungi dari cuaca, lalu kartu sim agar alat dapat mengirimkan data ke server secara continue ke jaringan GPRS, serta berbagai perangkat sensor untuk mendeteksi pressure, flow, index dan level dari air tadi,” sambungnya.
Syaiful berharap dengan penerapan sistem ini, bisa mengurangi tingkat kehilangan air sehingga masyarakat bisa terus menikmati layanan air bersih dari PDAM Intan Banjar.
Saat ini, PDAM Intan Banjar memiliki total cakupan layanan sebesar 64,34 persen dari total penduduk dengan jumlah pelanggan sebanyak 87.239 jiwa.
Penulis: Abi Abdul Jabar














