Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) terkait untuk penanggulangan bencana di Indonesia ini masih perlu dukungan pemerintah, karena masih minimnya peralatan dan kurangnya pesawat pengoperasiannya. Padahal, manfaat TMC , selain menambah curah hujan di daerah kekeringan, juga dapat mengurangi intensitas curah hujan, sehingga menanggulangi banjir, meminimalkan hujan di daerah pertambangan, perkebunan tembakau dan lain-lain, termasuk dimanfaatkan untuk penipisan asap akibat kebakaran lahan dan hutan.
“ Saya berkeyakinan, kalau penerintah menganggap TMC perlu, pastinya akan dibiayai. TMC ini pertama kali dikembangkan untuk menambah curah hujan, lalu dikembangkan untuk mengatasi asap dan terakhir dikembangkan mengurangi curah hujan,” papar Kepala UPT Hujan Buatan BPPT Heru Widodo di Jakarta. Dibandingkan negara tetangga, Thailand, pelaksanaan TMC di Indonesia kurang optimal. Kemampuan teknologi dan kebijakan pemerintah kurang tersinkronisasi
Menurut Heru, BPPT kini hanya memiliki lima pesawat, tiga dapat digunakan, sementara dua lainnya kritis. “Untuk kerja optimal, setidaknya kita memiliki masing-masing lima unit pesawat di tiap bagian Indonesia, barat, tengah,dan timur. Seperti misalnya dalam operasi hujan buatan untuk penanggulangan asap, akibat kebakaran hutan di Riau yang dilaksanakan BPPT. Menurut Heru, dengan fasilitas yang ada, UPT-Hujan Buatan BPPT cenderung kewalahan.
Sejak 5 Maret 2014, BPPT dibantu Hercules milik TNI AU, telah melaksanakan 34 sorti penerbangan, dengan total 76 ton bahan seeding,dan hujan buatan masih akan dilaksanakan hingga 5 April 2014. Riau sendiri sedang mengalami penurunan potensi hujan dan diramalkan akan kembali membaik mulai 27 Maret 2014. Namun, diperkirakan pertengahan 2014 merupakan waktu El-Nino untuk sebagian wilayah Indonesia. (if/Bs/ju)














