Jakarta,ItWorks- Di tengah pandemi Covid-19, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) semakin serius menggarap layanan perbankan berbasis digital menuju banking everywhere, banking anytime. Tak tanggung-tanggung, belanja modal yang dibenamkan untuk digitalisasi terus diperkuat yang tahun ini mencapai Rp5,2 triliun di mana sebanyak Rp 2 triliun untuk investasi bidang information technology (IT).
Tekad untuk mengakselerasi transformasi digital dalam layanan perbankan semakin kuat seiring meningkatnya tren digitalisasi di tengah pandemi Covid-19. Wabah corona telah mendongkrak perilaku digital masyarakat dalam berbagai aktivitasnya. Mulai belanja yang banyak bergeser ke sistem online, transaksi keuangan, pembayaran dan juga layanan keuangan termasuk perbankan yang banyak beralih ke sistem online. Tuntutan adanya banking everywhere, banking anytime, kian dipercepat dengan adanya pandemi Covid -19 ini.
“Di tengah pandemi, masyarakat banyak mengandalkan sistem digital atau online. Hal ini juga dialami BCA dimana selama pandemi, transaksi digital lebih diminati nasabah, di antaranya ditunjukkan oleh dominasi transaksi m-banking dan internet banking. Dengan kecenderungan ini, kecanggihan teknologi dan keandalan aplikasi pendukung, sangat penting. Karena itu, BCA berkomitmen meningkatkan transformasi digital dengan inovasi teknologi yang lebih andal dengan mengalokasikan investasi lebih besar. Tahun ini belanja modal untuk peningkatan bidang information technology (IT) BCA mencapai Rp5 -5,2 Triliun, termasuk untuk mesin seperti ATM, di mana khusus investasi IT mencapai Rp2 triliun,” ungkap Wani Sabu, Kepala Divisi Sentra Layanan Digital BCA saat presentasi dan wawancara penjurian “Top Digital Awards 2020” yang berlangsung (05/11) secara virtual yang dihelat Majalah ItWorks bekerjasama dengan Konsultan Independent, dan didukung sejumlah Asosiasi TI & TELCO Indonesia, di Jakarta.
Pada tahun ini, BCA di antaranya fokus untuk penguatan infrastruktur dalam rangka implementasi kebijakan open banking dengan digitalisasi perbankan. Inti dari open banking tak lain untuk memberikan kemudahan layanan kepada para nasabah dengan menggunakan teknologi yang bisa diakses tanpa batas waktu tertentu dengan in your fingertip dari perangkat gadget. “Arahnya menuju layanan bank yang bisa dilakukan anywhere dan anytime, yang selama ini face to face atau tatap muka menjadi virtual menggunakan gadget,” tambah Wani Sabu di dampingi dua Tim IT BCA, (Andre dan Maria) yang juga ikut memaparkan transformasi digital di BCA.
Dihadapan Dewan Juri terdiri Nurul Yakin Setyabudi -Indonesia Telecommunication User Group -IDTUG, Garuda Sugardo (Dewan TIK Nasional/ WanTIKnas), Melani Harriman (Melani K Harriman Associate), Sofi Suryasnia (Akademisi), Nurul Yakin Setyabudi (Indonesia Telecommunication User Group/ IDTUG), Febrizal Effendi dan Ashari Abidin (Asosiasi Piranti Lunak Indonesia/ ASPILUKI), Wani Sabu juga memaparkan banyak hal tentang transformasi digital yang telah dan tengah dilakukan BCA saat ini.
Digitalisasi yang telah dilakukan BCA menawarkan kemudahan, kenyamanan, dan kecepatan bagi pelanggan atau nasabah, terlebih di situasi saat ini yang mengharuskan masyarakat untuk jaga jarak. BCA juga telah menghadirkan layanan digital yang memudahkan nasabah. Salah satu yang menonjol dari layanan terbaru yakni pembukaan rekening secara online. Dalam hal ini, nasabah tak perlu datang ke cabang BCA, namun bisa dilakukan melalui perangkat digital.
Selain itu penggunaan electronic channel yang ada di perbankan, mulai dari mesin ATM, internet banking, mobile banking hingga terbaru video banking dan chatbot yang memungkinkan nasabah bisa chatting dengan teknologi AI yang disediakan bank. Terdapat juga layanan MyBCA di mall yangn bisa digunakan nasabah buka rekening tanpa harus ke kantor cabang.
Dengan meningkatnya tren financial technology (fintech) di Indonesia yang disebut-sebut akan menjadi pesaing bank dalam menyediakan jasa sistem pembayaran, BCA juga tak tinggal diam dengan merangkul fintech-fintech dan e-commerce untuk bekerja sama.
Bahkan BCA juga memiliki uang elektronik berbasis kartu dan berbasis server yang bernama Sakuku. Diakui Sakuku belum terlalu banyak dan besar. Hal ini karena BCA memang belum fokus untuk menggenjot layanan Sakuku secara besar-besaran.
Masih terkait digitalaisasi, BCA juga telah menerapkan QR di BCA mobile yang bisa digunakan nasabah untuk bayar transaksi belanja di merchant dengan pembayaran QRIS. QRIS merupakan jaringan pembayaran yang menggunakan QR Code dari BCA mobile dan berbagai aplikasi pembayaran dimana BCA turut mendukung pemerintah dengan penerapan cashless payment via QRIS.Selain itu, QR di BCA mobile memudahkan nasabah untuk membayar belanja tanpa sentuhan di berbagai merchant yang telah bekerja sama dengan BCA. Selain itu juga ada fitur Tarik Tunai Tanpa Kartu (Cardless) di BCA mobile yang memungkinkan pengguna untuk menarik uang tunai tanpa kartu ATM.
Seiring dengan kebiasaan generasi muda di berbagai platform aplikasi chatting, BCA memiliki VIRA, Virtual Assistant di layanan Chat Banking BCA yang dapat diakses melalui beberapa aplikasi chat popular; saat ini Facebook Messenger, LINE, dan Google Assistant.
Diakui dengan tren layanan digital ini, trafik transaksi di kantor cabang dalam beberapa tahun belakangan cenderung terus turun, terlebih sejak terjadi pandemi ini. Bahkan transaksi nasabah BCA di cabang persentasenya makin kecil selama pandemi corona. Kendati demikian, transaksi di kantor cabang nilainya masih besar, berkontribusi hampir 50% dari nilai keseluruhan.
“Hal ini menunjukkan peran kantor cabang tak sepenuhnya digantikan oleh layanan digital. Sebab untuk transkasi tertentu, seperti setor tunai atau tarik tunai dalam jumlah besar, nasabah tetap harus datang ke kantor. Karena itu, digitalisasi juga dilakukan untuk peningkatan sistem manajemen dengan aplikasi pendukung, seperti Enterprise Resource Planning (ERP) untuk meningkatkan sistem integrasi proses bisnis dengan aplikassi agar makin efektif. Selain itu, terkait dengan hubungan pelanggan juga memperkuat aplikasi Customer Relationship Managemen (CRM).
Ditambahkan, aspek lain terkait dengan pengembangan digital banking yang juga tak kalah penting dan menjadi perhatian BCA adalah terkait IT security (sistem keamanan IT). Apalagi tren kejahatan dan penipuan melalui dunia maya, termasuk dalam transaksi yang melibatkan bank juga meningkat di saat pandemi Covid-19 ini.
“Dalam digitalisasi bank, keamanan paling penting. Sistem keamanan yang baik dan mumpuni merupakan faktor paling penting dalam digitalisasi layanan digital perbankan ini. Makanya kami juga menaruh perhatian besar terhadap aspek keamanan siber (cyber security) ini,” ujarnya.
Sebagai institusi bank, BCA juga tak luput dari ancaman kejahatan seperti dengan modus surat kuasa palsu, skimming, masalah sistem, penipuan, hingga fake account. Bahkan diakui BCA juga pernah kecolongan dalam kejahatan yang menggunakan surat kuasa palsu. Penjahat berusaha meyakinkan cabang BCA sedemikian rupa untuk memindahkan dana perusahaan tertentu dengan berbekal surat kuasa ke rekening bank lain. “Belajar dari pengalaman ini, kami juga serius untuk meningkatkan sistem keamanan IT (cyber security) ini,” tandasnya. (AC)














