Jakarta, Itech- Sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai basic dari teknologi, Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Kemenristekdikti menyelenggarakan Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) XI/2015 yang berlangsung Oktober mendatang.
Menurut Peneliti Senior LIPI, Siti Zuhro, negara harus mendengarkan dan membuktikan keberpihakan Indonesia terhadap Ilmu pengetahuan serta harus kongkrit dan dijadikan landasan. “Selama ini kan tidak jadi perhatian, kami selalu serius tapi hasilnya tidak untuk diseruskan pemerintah untuk jadi landasan. Kami juga berharap, hasil kongres tersebut digunakan pemerintah sebagai landasan dalam menghargai hasil-hasil ilmu pengetahuan yang sudah dibuat oleh ilmuwan-ilmuwan nasional,” kata Siti Zuhro di Jakarta .
Diperkirakan dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan, masalah-masalah strategis seperti pangan, energi, air dan “good governance” dapat menghalangi langkah menuju Indonesia yang lebih berdaya saing, mandiri dan berdaulat. “Faktor kunci keberhasilan untuk menuju ke arah itu adalah sumber daya manusia yang inovatif . Di sinilah letak pentingnya peran ilmuwan Indonesia agar Indonesia memiliki daya saing nasional khususnya menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN,” papar pengamat kebijakan publik ini.
Selain mengadakan KIPNAS, LIPI juga akan menyelenggarakan Sarwono Award ke-48 pada 23 Agustus mendatang. Gelaran award ini dilakukan sebagai kontribusi LIPI dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sekaligus sebagai bentuk penghormatan pada Bapak Ilmu Pengetahuan Indonesia Sarwono Prawirohardjo. “LIPI mulai memberikan Penghargaan Sarwono ini sejak 2001. LIPI menyadari pentingnya memberikan apresiasi terhadap individu yang memberikan kontribusi dan berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada bidangnya,” ujar Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain. GUH
————














