Saat ini, menara seluler 4G yang sudah menyala (on air) berjumlah 1.900 lokasi, dari target total 4.200 lokasi pada tahap pertama. Menurut Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), kemajuan pembangunan BTS 4G tahap pertama, selain yang sudah “on air“, sudah mencapai 86 persen.
BAKTI Kominfo bertugas membangun menara BTS 4G di wilayah terluar, tertinggal dan terdepan, atau 3T. Sedangkan wilayah non-3T merupakan tugas operator seluler.
“Transformasi digital yang dicanangkan pemerintah tidak hanya berfokus pada wilayah-wilayah urban, tetapi juga di pelosok-pelosok desa berpermukiman di Indonesia, antara lain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif,” kata BAKTI Kominfo melalui keterangan pers, Kamis, 14/04/2022.
BAKTI akan melanjutkan pembangunan tahap dua di 3.704 titik, yang akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan ketersediaan fiskal. Tahun ini, anggaran yang ada akan dialokasikan untuk pembangunan BTS 4G di 2.300 titik. Percepatan pembangunan di daerah 3T ini didukung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Alokasi APBN untuk 4.200 BTS 4G sebesar Rp11 triliun.
Baca: Ribuan BTS 4G di Wilayah 3T akan Dibangun Telkomsel
BAKTI menjelaskan sejumlah kendala sehingga pembangunan BTS masih berada di bawah target.
Pertama, desa yang termasuk wilayah 3T kebanyakan sulit dijangkau dan belum memiliki infrastruktur dasar seperti jalan yang layak dan aliran listrik. Akibatnya, pengiriman material ke lokasi harus dilakukan dengan cara-cara yang sederhana seperti berjalan kaki, menggunakan gerobak dan perahu tradisional jika harus menyeberangi laut atau sungai.
Kedua, hambatan transportasi, misalnya untuk mengangkut material ke wilayah pegunungan Papua, BAKTI harus menggunakan transportasi udara. Kendaraan yang tersedia ada kalanya tidak cukup untuk mengangkut material dan peralatan.
Kendala ketiga, pandemi menyebabkan keterbatasan mobilitas orang dan barang terutama saat gelombang kedua tahun lalu, yang menyebabkan aktivitas rantai pasok terganggu. Sejumlah pekerja yang belum divaksin tidak bisa melakukan perjalanan dan ada juga pekerja yang terinfeksi virus corona sehingga pekerjaan pembangunan terpaksa ditunda.
Keempat, kelangkaan semikonduktor yang melanda industri secara global juga turut mempengaruhi pembangunan BTS 4G di Indonesia. Keterbatasan pasokan microchip untuk perangkat telekomunikasi membuat pembangunan tertunda.
Kelima, gangguan keamanan di beberapa lokasi di Papua dan Papua Barat. Sekitar 65 persen dari total BTS yang dibangun BAKTI berada di kedua provinsi tersebut. Insiden penembakan di Kabupaten Puncak, yang menewaskan delapan orang, menyebabkan pengerjaan BTS harus dihentikan hampir di seluruh Papua.














