Jakarta, Itech- Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah ditugaskan oleh pemerintah bersama Kemenpupera dan Kemenperin untuk mengembangkan desain standar jembatan dalam rangka percepatan pembangunan insfrastruktur jembatan. Pasalnya, BPPT merupakan satu-satunya instansi di Indonesia yang memiliki laboratorium pengujian aerodinamika, aeroelastika, aeroakustika dan kekuatan struktur.
“Dalam hal desain ini, Kemenpupera sebagai leading sector-nya adalah Kemenpupera. Kemenetrian tesebut akan menjadi koordinator semuanya, karena mereka tupoksinya yang sama seperti pengadaan jembatan. Rencana mereka, tapi perencanaan ini tidak bisa jalan kalau tanpa ada desain yang detail. Inilah tugas kami,” ujar Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa, Erzi Agson Gani di Gedung BPPT, Jakarta, Senin (25/4).
Dikatakan, ada tiga unit BPPT yang telah intensif berkontribusi di kontruksi Jembatan Bentang Panjang yakni Balai Besar Teknologi Aerodinamika Aeroelastika dan Aeroakustika (BBTA3), Pusat Teknologi Sistem dan Prasarana Transportasi (PTSPT), dan Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur (B2TKS). “BPPT telah cukup lama berkontribusi dalam pembangunan jembatan bentang panjang, diantaranya pada uji aerodinamika Jembatan Suramadu di Jawa Timur, dan Jembatan Merah Putih yang baru-baru ini diresmikan Presiden Joko Widodo di Ambon, Maluku,” tambah Erzi.
Sementara itu, Kepala BBTA3- BPPT Fariduzzaman mengakui kalau jembatan bentang panjang adalah jembatan khusus yang cukup mahal dan berteknologi tinggi. Pada umumnya tidak dapat dibangun sebagai bentangan dengan dek (lantai jembatan) berpenumpu sederhana di kedua ujung jembatan (simply supported beam), tapi dek harus digantung pada penyangga vertikal (cable-stayed bridge), bentangan kabel (suspension bridge) atau struktur yang melengkung di atasnya (arch-bridge).
“Maka dek jembatan bentangan panjang, sekalipun dari struktur beton atau baja yang keras dan besar, struktur ini akan fleksible. Karenanya jembatan bentang panjang juga sering disebut sebagai jembatan fleksibel,” paparnya.
Ketika bekerja dengan jembatan bentang panjang, kata Fariduzzaman, para perencana jembatan harus mempertimbangkan tidak hanya faktor beban seismik juga faktor beban angin (aero), yakni aerodinamika dan aeroelastika. Faktor aerodinamika tampak sebagai gaya-gaya angkat, gaya dorong/hambat dan momen puntir. Faktor aeroelastika timbul dalam bentuk ketakstabilan struktur (flutter) dan getaran struktur pada kecepatan angin tertentu (induksi resonansi)./ red/ju














