Risiko pencurian identitas yang signifikan memperlihatkan pentingnya memprioritaskan manajemen identitas dan keamanan informasi pribadi.
Menanggapi hal ini, Palo Alto Networks, pakar keamanan siber global, membagikan beberapa praktik terbaik untuk menghindari eksploitasi identitas pribadi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
“Pencurian identitas merupakan salah satu dampak utama dari peretasan data. Hal ini sangat memprihatinkan, terutama karena berdasarkan laporan BSSN kasus peretasan data merupakan serangan siber kedua yang paling umum terjadi di Indonesia pada tahun 2022, menurut BSSN,” pungkas Ian Lim, field chief security officer, APJ, Palo Alto Networks, dalam siaran pers, di Jakarta, 12/04/2023.
“Baik organisasi maupun individu memiliki peran dalam menghindari kebocoran data, serta melawan pencurian identitas untuk memastikan keamanan data pribadi,” tambahnya.
Menurut Palo Alto Networks, organisasi perlu menerapkan pendekatan manajemen identitas yang terintegrasi, yang mencakup beberapa aspek:
Menerapkan kerangka kerja Zero Trust yang efektif: Hal ini berarti melakukan proses validasi dan verifikasi untuk semua hal, sehingga meningkatkan kontrol dan visibilitas di seluruh ekosistem digital organisasi. Organisasi juga perlu waspada dalam menetapkan autentikasi multi-faktor untuk semua akun keuangan, email, dan media sosial yang penting serta mengaktifkan notifikasi untuk semua transaksi penting.
Langkah-langkah kebersihan siber di seluruh organisasi: Dalam laporan State of Cybersecurity Report tahun 2022, sebanyak 79% dari organisasi di Indonesia (tertinggi di antara negara-negara ASEAN lainnya) tengah meningkatkan fokus tim kepemimpinan mereka pada keamanan siber. Organisasi perlu menangani keamanan siber dan perlindungan data dengan serius di semua tingkatan termasuk anggota dewan, tim eksekutif, manajer, dan karyawan. Hal ini mencakup evaluasi sistem keamanan dan mengidentifikasi kelemahan dalam sistem tersebut, memprioritaskan sumber daya untuk mengurangi kerentanan tersebut, serta membangun budaya kewaspadaan yang meningkatkan keamanan siber secara progresif dengan mengerahkan tenaga individu, proses, dan teknologi yang tepat.
Edukasi dan Pelatihan: Keyakinan yang umumnya dipercayai dalam aspek keamanan adalah bahwa ancaman datang dari luar organisasi. Namun, ketika sistem keamanan menjadi lebih sulit ditembus, para peretas akan mulai menargetkan orang-orang di dalam organisasi tersebut, sehingga menimbulkan dua tipe bahaya utama: Ancaman identitas dan ancaman tim internal. Karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran keamanan siber dalam organisasi melalui edukasi, terutama yang berkaitan dengan phishing, kata sandi, privasi, dan kewargaan digital. Selain itu, melatih organisasi untuk menanggapi insiden keamanan siber dengan cepat sangat penting untuk meminimalkan dampak serangan dan memulihkannya dengan cepat.
“Yang terpenting, baik organisasi maupun individu perlu mengembangkan pola pikir zero trust, yang menjadi dasar bagi seluruh tindakan manajemen identitas. Validasi dan verifikasi yang berkelanjutan sebelum memberikan akses terhadap akun digital harus dipraktikkan untuk semua akun dan aktivitas online,” tutup Ian.














