ItWorks- Pesatnya transformasi digital mengakibatkan implementasi infrastruktur jaringan meningkat tajam, baik yang diketahui maupun tidak. Tren peningkatan ini pun turut mendorong kompleksitas lingkungan keamanan siber.
Perusahaan keamanan siber global Palo Alto Networks baru-baru ini merilis laporan “Unit 42 Attach Surface Threat Report 2023” yang mengungkapkan sejumlah ancaman yang dihadapi oleh organisasi terkait paparan yang bisa diakses di internet, khususnya di dalam layanan cloud. Melalui rilis pers (29/09/2023) disebutkan adanya beberapa temuan penting dari laporan tersebut yang patut diperhatikan di antaranya adalah:
- 80% dari bentuk attack surface eksternal menargetkan layanan cloud, presentasenya jauh lebih tinggi dari ancaman di lingkup on-premise yang hanya 19%. Hal ini menunjukkan bahwa infrastruktur IT berbasis cloud lebih rentan terhadap serangan siber.
- Kecepatan tinggi penyerang modern dalam beroperasi dengan kemampuan untuk memindai seluruh ruang lingkup area alamat IPv4 dalam hitungan menit untuk menemukan kerentanan pada target penyerangan. Selain itu, sejumlah kerentanan berhasil dieksploitasi hanya dalam beberapa jam setelah diumumkan ke publik.
- Ancaman terhadap sistem akses jarak jauh yang semakin meningkat dengan lebih dari 85% organisasi yang disurvei memiliki alat Remote Desktop Protocol (RDP) yang terhubung dengan internet setidaknya selama 25% dalam sebulan–menunjukkan kerawanan dalam hal akses jarak jauh dan risiko serangan brute-force.
- Infrastruktur IT, keamanan, dan jaringan industri manufaktur menempati peringkat teratas dengan kemungkinan serangan sebesar 48%. Diantaranya adalah lembaga keuangan rentan mengalami serangan melalui layanan file-sharing, sementara pemerintah pusat rentan pada manajemen file-sharing dan pusat penyimpanan data yang tidak aman.
- Layanan kesehatan seringkali didapatkan belum memiliki ekosistem pengembangan yang terkonfigurasi dengan baik sehingga rentan terhadap serangan. Sementara sektor utilitas dan energi menghadapi ancaman pada pusat kendali infrastruktur IT yang terhubung dengan internet.
Temuan penting lainnya dari laporan ini meliputi:
Cloud Merupakan Sasaran Empuk Serangan Permukaan
• Sebagian besar risiko ancaman keamanan yang ditemukan di lingkup layanan cloud mencapai 80%, berbanding jauh dengan ancaman yang terjadi di lingkup on-premise (hanya sebesar 19%).
• Infrastruktur IT berbasis cloud selalu terus berkembang, mengalami tingkat perubahan lebih dari 20% pada setiap industri, setiap bulannya.
• Bagi sebagian besar organisasi, terdapat lebih dari 45% ancaman berisiko tinggi berbasis cloud setiap bulannya, yang disebabkan oleh (1) adanya perubahan terus-menerus pada layanan berbasis cloud yang baru beroperasi secara online dan/atau (2) perubahan pada model layanan lama.
• Lebih dari 75% paparan ancaman terhadap infrastruktur sofrware development yang dapat diakses oleh umum ditemukan di cloud.
Pelaku Penyerangan Bergerak dengan Kecepatan Tinggi
• Penyerang modern memiliki kemampuan untuk memindai seluruh ruang lingkup area alamat IPv4 (berisi lebih dari 4 miliar alamat IP) untuk menemukan target yang rentan dalam hitungan menit.
• Dari 30 Kerentanan dan Ancaman Umum (Common Vulnerabilities and Exposrues / CVE) yang dianalisis, tiga di antaranya berhasil ditembus dalam waktu beberapa jam setelah diekspos ke publik, dan sebanyak 63% berhasil ditembus dalam waktu 12 minggu (sekitar 3 bulan) setelah dipublikasikan.
Ancaman pada Sistem Akses Kendali Jarak Jauh Semakin Luas
• Lebih dari 85% organisasi yang kami survei memiliki alat Remote Desktop Protocol (RDP) yang terhubung dengan internet setidaknya selama 25% dalam sebulan.
• Delapan dari sembilan industri yang disurvei oleh Unit 42 memiliki RDP yang dapat diakses melalui internet yang rawan terhadap serangan brute-force selama setidaknya 25% dalam sebulan.
• Rata-rata industri jasa keuangan dan organisasi pemerintahan pusat maupun daerah memiliki ancaman RDP di sepanjang bulan..
Industri Strategis yang Terancam
• Dalam hal potensi kemungkinan terhadap ancaman, infrastruktur IT, keamanan, dan jaringan industri manufaktur menempati peringkat pertama (48%), yang dapat mengakibatkan risiko penurunan produksi dan pendapatan.
• Lembaga keuangan paling rentan terpapar melalui layanan file-sharing (38%).
• Bagi pemerintah pusat, sistem manajemen file-sharing dan pusat penyimpanan data yang tidak aman merupakan salah satu risiko ancaman serangan permukaan yang paling signifikan. Metode ini menyumbang lebih dari 46% dari seluruh risiko ancaman yang ada pada organisasi pemerintah pusat pada umumnya.
• Di organisasi kesehatan, sekitar 56% dari ekosistem pengembangan yang terpapar ke publik sering kali tidak terkonfigurasi dengan baik dan rawan mengalami serangan.
• Sedangkan untuk sektor utilitas dan energi, pusat kendali infrastruktur IT yang terhubung dengan internet menyumbang 47% dari total ancaman paparan.
Berdasarkan laporan dan data yang disebutkan di atas, Palo Alto Networks menganjurkan sejumlah rekomendasi bagi pemain industri, antara lain:
Guna mengatasi risiko ini, Palo Alto Networks merekomendasikan beberapa langkah yang bisa diambil oleh pemain industri. Rekomendasi ini meliputi:
- Memperoleh visibilitas penuh pada seluruh aset yang bisa diakses melalui internet, termasuk sistem dan layanan berbasis cloud.
- Mengutamakan pemulihan kerentanan dan mengatasi ancaman serangan yang paling kritis berdasarkan penilaian yang tepat.
- Menerapkan autentikasi multifaktor (MFA) dan memantau aktivitas akses yang mencurigakan untukmeningkatkan keamanan layanan akses jarak jauh.
- Melakukan tinjauan dan pembaruan berkala untuk menangani kesalahan konfigurasi cloud. Mengatasi kesalahan konfigurasi cloud: Meninjau dan melakukan pembaruan secara berkala terhadap miskonfigurasi cloud yang tak terhindarkan untuk memastikan hal tersebut telah selaras dengan praktik keamanan terbaik. (AC)














