ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Mengurangi ‘Biaya Koordinasi’ untuk Implementasi Private AI yang Lebih Efektif

Fauzi
29 June 2026 | 16:31
rubrik: Expert
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia, Cloudera

Private AI sering dipahami sebagai pendekatan yang menjaga data dan model tetap berada di dalam lingkup perusahaan. Pendekatan ini sangat relevan bagi industri yang sangat diawasi ketat regulasi, seperti sektor keuangan di Indonesia. Laporan dari Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) menunjukkan bahwa sektor keuangan termasuk yang paling maju dalam mengadopsi AI, karena melihat potensinya untuk meningkatkan layanan nasabah sekaligus mengembangkan produk dan layanan baru.

Pada saat yang sama, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan pedoman tata kelola penggunaan AI di sektor perbankan. Pedoman ini menekankan bahwa pengelolaan data untuk sistem AI harus mematuhi ketentuan dalam Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) dan mewajibkan organisasi untuk mengimplementasikan sistem AI yang mengintegrasikan perlindungan privasi di setiap tahap pengembangan dan operasional.

Dalam praktiknya, bagian yang paling sulit dan mahal adalah memastikan sistem dapat dikendalikan dengan baik saat sudah berjalan di lingkungan produksi. Hal ini menuntut adanya keputusan yang jelas mengenai bagaimana sistem diizinkan beroperasi serta bagaimana perilakunya diatur. Tantangannya, keputusan-keputusan tersebut jarang berada di tangan satu tim saja.

Inilah yang membuat private AI terasa berbeda dibandingkan banyak implementasi managed GenAI (GenAI terkelola). GenAI terkelola tetap dapat diatur dan diawasi, tetapi layanan terkelola umumnya sudah menyerap sebagian besar pekerjaan di balik operasi platform dan keamanan. Sementara itu, dalam private AI, organisasi memegang kendali operasional secara menyeluruh sekaligus tanggung jawab yang lebih besar untuk membuktikan bahwa kontrol yang diterapkan benar-benar bekerja secara efektif. Hasilnya adalah kemajuan implementasi tidak lagi semata ditentukan oleh kapabilitas model, melainkan lebih pada seberapa baik koordinasi di dalam organisasi dapat dijalankan.

BACA JUGA:  Eufy Rilis Kamera Pintar untuk Pantau Hewan Peliharaan

Karena itu, adopsi private AI sering kali justru mengungkap persoalan koordinasi yang sebelumnya tersembunyi. Bahkan untuk satu use case saja, organisasi harus mengambil keputusan bersama terkait data apa yang boleh diakses, bagaimana izin ditegakkan, apa yang harus dicatat, apa yang dianggap sebagai perilaku yang dapat diterima, hingga siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi kesalahan.

Mengapa private AI menjadi tantangan konvergensi keahlian
Private AI memberi organisasi akses penuh terhadap seluruh data mereka. Sebagai konsekuensinya, dibutuhkan kolaborasi yang jauh lebih erat karena pendekatan ini secara alami melibatkan berbagai tim, mulai dari data engineer, pengembang AI, tim keamanan, hingga pemangku kepentingan di bidang kepatuhan. Hal ini karena private AI pada dasarnya adalah tentang bagaimana menjalankan kemampuan AI secara aman di lingkungan produksi, dengan kontrol yang terjaga dari saat data diakses hingga outcome-nya dihasilkan dan terus dimonitor.

Hambatan paling sering muncul terkait dengan penyelarasan. Setiap tim perlu menyepakati data apa yang boleh digunakan, bagaimana kebijakan diinterpretasikan, serta persyaratan operasional apa yang harus dipenuhi sebelum sistem benar-benar dijalankan. Hal ini menjadi lebih sulit ketika alur kerja GenAI melibatkan konten sensitif atau terhubung dengan berbagai tools enterprise, karena satu kesalahan kecil dapat berdampak luas. Konteks ini semakin penting di Indonesia, di mana perusahaan wajib mematuhi regulasi perlindungan data sensitif, seperti Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP). Kegagalan dalam memenuhi ketentuan ini dapat membuat organisasi menghadapi sanksi yang signifikan serta merusak reputasi di mata pelanggan. Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memperlakukan tata kelola dan keamanan sebagai tahap akhir. Ketika kontrol dilakukan belakangan, organisasi kerap menemukan celah yang memaksa mereka melakukan desain ulang dan menyebabkan penundaan implementasi.

BACA JUGA:  Knowledge Power Up, Inisiatif Telkom Akselerasi Budaya Belajar dan Inovasi Karyawan

Tim yang berhasil mengembangkan Private AI biasanya tidak menempatkan pertanyaan-pertanyaan ini sebagai tahap validasi setelah implementasi, melainkan sebagai bagian dari proses delivery itu sendiri. Mereka membangun kesepakatan melalui bahasa bersama dan pola yang dapat digunakan ulang sehingga setiap use case baru tidak perlu mengulang perdebatan yang sama dari awal. Mereka juga menetapkan secara jelas bukti apa yang harus tersedia untuk setiap rilis, tahapan persetujuan yang harus dilalui, dan apa definisi “siap untuk diterapkan” secara terukur.

Bagaimana organisasi membuat konvergensi keahlian dapat berjalan efektif

Konvergensi keahlian pada dasarnya adalah tentang membuat Private AI benar-benar dapat dieksekusi. Pendekatan ini menciptakan model operasional bersama lintas fungsi sehingga keputusan terkait keamanan dan kualitas diambil secara sengaja, bukan sekadar mengikuti pengaturan default. Kejelasan dalam pembagian wewenang pengambilan keputusan juga membantu mengurangi ambiguitas serta mencegah terjadinya celah dalam akuntabilitas.

Organisasi yang mampu melangkah lebih jauh biasanya memformalkan delivery lintas fungsi untuk setiap use case prioritas. Hal ini tidak selalu memerlukan tata kelola yang kompleks, melainkan cukup dengan sejumlah kecil peran yang memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan trade-off dengan cepat, didukung oleh jalur eskalasi yang jelas ketika kebutuhan kecepatan dan risiko saling berbenturan. Di banyak lingkungan, koordinasi sering gagal karena dianggap bukan tanggung jawab siapa pun secara spesifik. Dengan menetapkan kepemilikan yang jelas, koordinasi pun berubah menjadi ritme operasional yang dapat diulang dan dijalankan secara konsisten.

Prinsip yang sama juga berlaku setelah sistem diimplementasikan. Private AI bukan sekadar sistem yang “dirilis lalu selesai”. Sistem ini memerlukan disiplin ‘day-2’ agar kinerja dan keamanan tetap terjaga seiring perubahan sistem dari waktu ke waktu. Hal ini menjadi semakin penting seiring berkembangnya agentic AI, di mana sistem mulai mengambil langkah yang lebih otonom. Ketika AI tidak lagi hanya merespons, tetapi juga bertindak, celah kecil dalam kontrol dan pengawasan dapat dengan cepat berkembang menjadi masalah operasional yang besar.

BACA JUGA:  BSSN Dorong Penguatan Sandiman Tanggulangi Rantai Kejahatan Siber

Pilihan teknologi menjadi krusial karena akan menentukan seberapa besar koordinasi yang dibutuhkan. Koordinasi memang tidak akan sepenuhnya hilang, tetapi platform seperti Cloudera dapat membantu mengurangi “biaya koordinasi” dengan membuat kontrol dan operasional menjadi lebih konsisten di berbagai use case dan lingkungan. Lapisan tata kelola dan operasional yang terstandarisasi akan mengurangi kebutuhan rework sekaligus membuat proses delivery lebih dapat diulang dan diprediksi. Inilah pendekatan yang kami tekankan saat berdiskusi dengan perusahaan mengenai private AI, yaitu pentingnya fondasi data yang terkelola dengan baik serta kemampuan private model serving yang skalabel.

Apa yang perlu menjadi perhatian para pemimpin
Adopsi private AI tidak semata bergantung pada penambahan talenta spesialis AI, melainkan pada kemampuan eksekusi lintas fungsi. Di sinilah koordinasi menjadi fondasi utama dalam membangun kapabilitas yang berkelanjutan. Tanpa koordinasi yang kuat, private AI akan tetap terfragmentasi dalam bentuk berbagai pilot project yang terpisah, masing-masing terhambat oleh rework, penemuan risiko di tahap akhir, serta ketidakjelasan kepemilikan dan akuntabilitas risiko. Sebaliknya, ketika tim memiliki keselarasan dalam bahasa bersama, playbook yang terstandarisasi, serta kepemilikan yang jelas, private AI dapat berkembang secara lebih terstruktur dan skalabel.

Tags: Agentic AIAICloud ComputingClouderaHybrid Cloud
Previous Post

Alibaba Cloud Diakui Omdia Pemimpin Agentic AI Cloud di Asia-Oseania

Next Post

Tri H3RO Series 2026 Buka Jalan Gamer Muda Naik Level

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

TOP Digital Awards 2026: PA Metro Kelas IA Perkuat Transformasi Digital untuk Perluas Akses Layanan Peradilan

TOP Digital Awards 2026: PA Metro Kelas IA Perkuat Transformasi Digital untuk Perluas Akses Layanan Peradilan

Mi’roji
28 September 2026 | 15:49

TOP Digital Awards 2026: Aplikasi SITUNTAS, Inovasi Andalan PA Jakpus Tingkatkan Layanan Masyarakat

TOP Digital Awards 2026: Aplikasi SITUNTAS, Inovasi Andalan PA Jakpus Tingkatkan Layanan Masyarakat

Ahmad Churi
22 September 2026 | 16:46

TOP Digital Awards 2026: Angkasa Pura Dorong Penerapan AI Efektif & Efisien Selaras Prinsip GCG

TOP Digital Awards 2026: Angkasa Pura Dorong Penerapan AI Efektif & Efisien Selaras Prinsip GCG

Fauzi
17 September 2026 | 23:06

TOP Digital Awards 2026: Transformasi Digital Pengadilan Agama Soreang, Permudah Akses Layanan bagi Pencari Keadilan

TOP Digital Awards 2026: Transformasi Digital Pengadilan Agama Soreang, Permudah Akses Layanan bagi Pencari Keadilan

Fauzi
11 September 2026 | 22:31

TOP Digital Awards 2026: Transformasi Digital Mitra Tours Dorong Efisiensi dan Pertumbuhan Bisnis

TOP Digital Awards 2026: Transformasi Digital Mitra Tours Dorong Efisiensi dan Pertumbuhan Bisnis

Ahmad Churi
11 September 2026 | 22:27

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rimini Street Dorong Perusahaan Hadapi Era Post-Quantum Tanpa Ganti Seluruh Sistem

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Acer Indonesia Hadirkan Program Perlindungan #5TahunSiapTempur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Melalui Future Ready, XLSMART & Mitra Rekrut 850 Talenta Muda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berkolaborasi, Ini Solusi yang Ditawarkan Mitra Integrasi Informatika dan Cloudera

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni

ICT PROFILE

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Google Cloud Tunjuk Karim Siregar Jadi Country Director untuk Indonesia

Fauzi
23 June 2026 | 14:43

Google Cloud menunjuk Karim Siregar sebagai Country Director untuk Indonesia. Karim akan memimpin operasional dan strategi pasar Google Cloud di...

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

EXPERT

Survei: 80% Perusahaan Nyatakan AI Masih Terhambat oleh Tantangan Akses Data

Agen AI Menguji Asumsi Keamanan Perusahaan

Fauzi
2 October 2026 | 15:36

Oleh: Carolyn Duby, Field CTO dan Cybersecurity Lead, Cloudera ItWorks.id - Pembahasan keamanan siber seputar AI sering kali berpusat pada...

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Adopsi AI Makin Tinggi, Keamanan Siber Harus Diperkuat

Ahmad Churi
24 September 2026 | 16:30

Oleh: Sheila S. Fauzi Regional Marketing Manager, Concentrix. Dewasa ini perkembangan penggunaan atau adopsi teknologi kecerdasan artifisial (AI) di Indonesia...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto