PT LRT Jakarta merupakan penyedia layanan moda transportasi Light Trail Transit yang menghubungkan Kelapa Gading – Velodrome Rawamangun. Beroperasi sejak tahun 2018, untuk menjalankan operasinya LRT Jakarta tentunya memerlukan dukungan teknologi informasi. Ini seperti dikatakan Sahurdi, Direktur Keuangan dan Dukungan Bisnis PT LRT Jakarta pada sesi penjurian TOP Digital Awards 2023 yang diselenggarakan Majalah It Works.
“Terus terang untuk kebutuhan penerapan teknologi informasi sangat-sangat banyak yang perlu kami implementasikan dalam 4-5 tahun kami beroperasi ini. Karena hal-hal yang terkait dengan operasi hampir sebagian besar bersinggungan dengan IT. Mulai dari sistem operasi, sistem operasional control, sistem ticketing, dan lain-lain semuanya berbasis IT,” ujar Sahurdi, pada Rabu (11/10/2023) lalu.
Adapun sesuai dengan tema paparan yang diangkap ‘Inovasi LTRJ dalam Transformasi Digital’, di tahun 2023 ini LRT Jakarta mengusung strategi perusahaan, yakni ‘Transform’.
”Jadi, untuk IT sendiri itu kita berkontribusi di sisi transformasi Business Process, Accelerate Leveraging Assets, Operation Excellence, dan Maintaining Service Excellence,” ujar Rangga Dharmasetiawan, Kepala Divisi Teknologi Informasi yang turut memberikan paparan pada sesi penjurian kali ini.
Dikatakan Rangga, LRT Jakarta memiliki IT Master Plan yang terdiri dari dua tema besar, yakni Infrastruktur dan Pengembangan Sistem.
“Untuk infrastruktur, rencana LRTJ untuk infrastruktur adalah untuk memvirtualisasikan server-server yang ada di on premis dan sebagian dialihkan kepada cloud. Jadi, lebih tepatnya di hybrid infrastructure. Untuk pengembangan sistemnya sendiri itu dilakukan menggunakan metode microservice. Jadi sistem-sistem yang silo-silo itu dapat diintegrasikan menggunakan API,” ungkapnya.
Inovasi
Sebagaimana telah disebut, dalam menjalankan operasinya LRT Jakarta bersinggungan atau memerlukan dukungan teknologi informasi. Dan dalam hal ini, ada sejumlah inovasi produk yang dimiliki dan telah dijalankan LRT Jakarta dalam mendukung operasional dan layanannya.
Pertama, LRT Jakarta memiliki inovasi yang disebut sebagai Train Monitoring System (TMS). Seperti dikatakan Gunadya Nugraha, Head Of Information Technology LRT Jakarta, Train Monitoring System ini digunakan untuk memonitoring kereta yang ada di jalur sepanjang dari Pegangsaan 2 sampai ke Velodrome.
“Fungsinya untuk monitoring kecepatan kereta. Karena kita punya standar kecepatan kereta itu tidak boleh melebihi 80 km/jam. Di mana ketika kereta itu melebihi kecepatan yang seharusnya, sistem ini akan memberikan alert ke bagian OCC,” jelas Gunadya.
Tidak hanya itu, TMS juga berfungsi untuk membantu OCC mendapatkan schedule kedatangan dan keberangkan kereta di setiap stasiun. Jadi, fitur unggulan TMS ini selain untuk monitoring ini juga bisa yang diunggulkan adalah alert notification.
“Manfaat utama dari TMS adalah meningkatkan keselematan pelayanan penumpang. Jadi di mana aplikasi ini bisa meng-capture atau memberi alert ketika kereta tersebut sudah di luar batas kecepatan maka akan diberi alert dari pusat OCC. Sehingga dari penumpang yang ada di kereta itu juga bisa lebih aman,” lanjut Gunadya.
Tidak berhenti di TMS saja, LRT Jakarta juga memiliki aplikasi lain yang digunakan untuk meningkatkan layanan internal. Aplikasi ini disebut sebagai Aplikasi Kedinasan (AKDA). Dijelaskan Gunadya, aplikasi Kedinasan ini merupakan sebuah sistem yang dibuat untuk memonitoring seluruh kegiatan perencanaan teman-teman di operasional perkeretaapian, seperti masinis, awak sarana pelayanan, semua yang ada di stasiun.
“Jadi, sebelum jam operasional dimulai teman-teman, salah satu contohnya masinis ketika akan memulai pekerjaannya, masinis ini mesti dilakukan pengecekan kesehatan. Jadi si fitur AKDA ini bisa melakukan historical petugas pelayanan di mana si petugas pelayanan benar-benar fit ketika melakukan pelayanan kepada masyarakat. Di luar untuk monitoring si pelayanan, aplikasi ini juga bisa memonitoring jadwal kedinasan dari yang bekerja di stasiun tersebut. Kemudian manfaat dari aplikasi AKDA ini memastikan petugas pelayanan siap untuk menjalankan tugas. Jadi, yang saya sampaikan secara alur proses aplikasi AKDA ini digunakan untuk petugas-petugas pelayanan di stasiun,” kata Gunadya.
Turut menambahkan, Rangga mengatakan bahwa aplikasi AKDA terintegrasi dengan TMS. “Jadi, (jika) TMS maju melebihi batas kecepatan, itu bisa terlihat langsung siapa masinisnya. Karena masinis yang bertugas itu sudah di-record oleh AKDA, bertugas di LRT berapa, pada jam berapa. Di TMS sendiri itu dia meng-capture siapa yang bertugas saat itu,” ujar Rangga.
Lalu selanjutnya terkait dengan solusi bisnis untuk operasional perusahaan, LRT Jakarta juga menerapkan Document Management System yang disebut M-Files yang memiliki fungsi untuk mendigitalisasi proses persuratan yang bergerak di perusahaan sehingga dokumen-dokumen yang bergerak itu bisa lebih mudah untuk ditracing.
“Fitur unggulan dari document management system ini kita bisa melakukan realtime approvel by system kemudian otomasi alur kerja, kemudian pengelolaan versi dokumen, kita bisa men-tracking historical dokumen, yang merubahnya siapa, kemudian dirubah oleh siapa, sehingga finalnya seperti apa,” jelas Gunadya.
“Kemudian manfaat dari document management system ini adalah untuk kita melakukan pengendalian dokumen secara terpusat, kemudian tracking proses sirkulasi, dan historical perusahaan. Jadi kita bisa melakukan tracking atau tracing dokumen tersebut yang diajukan itu posisinya ada di mana,” sambungnya.
Tidak ketinggalan, untuk memonitoring penumpang tiap harinya, LRT Jakarta juga memiliki dashboard realtime yang bisa digunakan untuk mengambil keputusan bagi para manajemen. ”Jadi, dashboard ini menunjukkan penumpang per harinya, per jamnya ada berapa, di mana data ini yang nantinya digunakan para level manajemen untuk mengambil keputusan,” jelas Gunadya.
Sementara untuk lebih meng-engagement pelanggan, LRT Jakarta memiliki aplikasi mobile bernama LRTJ Apps. Sebagai aplikasi yang ditujukan untuk engagement dan loyalitas pelanggan, ketika ada pelaanggan yang aplikasi LRTJ dan menggunakan kartu yang diregister di aplikasi LRTJ dan mereka mereka menggunakan kartu tersebut, maka pelanggan akan mendapat poin. “Jadi, poin-poin itu dikumpulkan dan bisa ditukar langsung dengan mercendise-mercendise yang bisa LRTJ berikan, seperti gelas kaos, dan lain-lain. Nah aplikasi ini juga bisa mengecek jadwal kereta, untuk info-info terkait LRTJ nya sendiri,” ujar Gunadya.
Security
Adapun berkaitan dengan security, seperti dikatakan Rizal Zaelani, IT System Operation & Service Manager di LRT Jakarta menegaskan bahwa banyak sekali proses-proses terkait dengan keamanan IT yang baru kita mulai untuk kerjakan.
“Terkait keamanan IT ini kita sudah memiliki kebijakan prosedur, formulir, dan instruksi kerja yang dirancang untuk melindungi sistem, melindungi data, sumber daya informasi dari ancaman serangan risiko yang dapat mengancam kerahasiaan, integritas, serta ketersediaan informasi,” ujar Rizal.
Lebih lanjut dikatakan Rizal, dari sisi People Process dan teknologinya sendiri LRTJ saat ini sudah memiliki karyawan yang tersertifikasi di bidang IT Security, antara lain Tersertifikasi NSE 1, 2, 3 dari Fortinet. Kemudian sertifikasi JNCIA-Junos dari Juniper, dan juga CEH.
“Kemudian kita juga saat ini sudah menjalankan awareness program kepada karyawan LRT Jakarta terkait bagaimana pentingnya keamanan IT dalam melaksanakan pekerjaan, utamanya karena kita merupakan perusahaan yang bekerja di bidang pelayanan public maka keamanan ini menjadi poin yang sangat penting juga dalam pelaksanaan pekerjaan,” ungkapnya.
Kemudian dari sisi proses, PT LRT Jakarta sudah melaksanakan IT Security Assessment, Penetration Testing untuk seluruh aplikasi yang digunakan di internal LRT Jakarta, serta Vulnerability Assessment, baik itu dari jaringan wired dan wireless.
“Kemudian dari proses assessment dan penetration testing itu harapannya kami dapat melkaukan banyak peningkatan terkait dengan keamanan aplikasi dan juga layanan di perusahaan,” tandas Rizal.
Beralih ke sisi teknologi, disebutkan bahwa saat ini LRT Jakarta sudah mengaplikasikan End Point Antivirus di seluruh perangkat kerja milik karyawan. Kemudian untuk aplikasi yang dipublish ke publik itu LRT Jakarta sudah melakukan pengamanan dengan Web Application Firewall (WAF). Selanjut perusahaan juga memiliki Firewall untuk trafik keluar-masuk jaringan untuk akses internet.
“Terakhir juga ada tambahan Web Isolation di perangkat kerja karyawan sebagai proxy untuk mengamankan aktivitas browsing di internet. Karena seperti yang sudah banyak kita ketahui bahwa internet itu merupakan salah satu jalur masuk untuk serangan, bisa jadi salah satu gerbang masuknya serangan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” pungkas Rizal.














