ItWorks
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto
No Result
View All Result
ItWorks
No Result
View All Result

Riset Cisco: Hanya 20% Organisasi di Indonesia Siap Terapkan dan Manfaatkan AI

Fauzi
16 November 2023 | 14:00
rubrik: Research
Riset Cisco: Hanya 20% Organisasi di Indonesia Siap Terapkan dan Manfaatkan AI
Share on FacebookShare on Twitter

Hasil riset bertajuk AI Readiness Index pertama Cisco mengungkap hanya 20% dari organisasi di Indonesia yang sepenuhnya siap untuk menerapkan dan memanfaatkan teknologi yang didukung oleh Artificial Intelligence (AI). Penelitian yang mensurvei lebih dari 8.000 perusahaan dunia ini dikembangkan sebagai respon terhadap percepatan pengadopsian AI, pergantian generasi yang berdampak kepada hampir semua bidang bisnis dan kehidupan sehari-hari. Laporan ini menyoroti kesiapan perusahaan untuk menggunakan dan menerapkan AI, menunjukkan kesenjangan kritis di semua pilar bisnis utama dan infrastruktur yang memberikan risiko serius dalam waktu dekat.

Penelitian baru ini menemukan bahwa pengadopsian AI berkembang secara lambat selama puluhan tahun, namun kemajuan Generative AI, yang tersedia untuk umum pada tahun lalu, mendorong perhatian lebih besar terhadap tantangan, perubahan dan peluang baru yang dimunculkan oleh teknologi ini. Meskipun 89% responden yakin bahwa AI akan memiliki dampak signifikan terhadap operasional bisnis mereka, AI juga akan menimbulkan masalah baru dalam hal privasi dan keamanan data. Hasil temuan dari Index ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan menghadapi tantangan paling besar dalam pemanfaatan AI bersama dengan data mereka. Bahkan, 76% responden mengakui bahwa hal ini terjadi karena data terkotak-kotak di dalam organisasi mereka.

Namun, ada juga berita positif. Penemuan dari Index ini mengungkap bahwa perusahaan-perusahaan di Indonesia mengambil banyak langkah proaktif untuk bersiap menghadapi masa depan yang terpusat pada AI. Ketika berbicara tentang pengembangan strategi AI, 99% dari organisasi sudah memiliki strategi AI yang kuat atau dalam proses untuk mengembangkan strategi tersebut.
Lebih dari dua pertiga (86%) organisasi diklasifikasikan sebagai Pacesetter atau Chasser (sepenuhnya siap /cukup siap), dan tidak ada yang masuk dalam kategori Laggards (tidak siap). Ini mengindikasikan level fokus yang signifikan dari eksekutif di tingkat direksi (C-Suite) dan pemimpin IT. Hal ini mungkin didorong oleh fakta bahwa semua responden menyatakan bahwa urgensi untuk menerapkan teknologi AI di dalam organisasi mereka telah meningkat dalam enam bulan terakhir, dengan infrastruktur IT dan keamanan siber dilaporkan sebagai bidang yang menjadi prioritas utama untuk penerapan AI.

BACA JUGA:  Survei Facebook: 74,59% Orang Indonesia Bersedia Divaksin COVID-19

“Ketika perusahaan bergegas menerapkan solusi-solusi AI, mereka harus menilai di mana investasi dibutuhkan untuk memastikan infrastruktur mereka bisa mendukung permintaan dari beban kerja AI,” kata Liz Centoni, Executive Vice President dan General Manager, Applications and Chief Strategy Officer, Cisco.

“Organisasi juga harus bisa mengobservasi dengan konteks bagaimana AI digunakan untuk memastikan ROI, keamanan dan terutama tanggung jawab,” sambung Liz Centoni.

Hasil Temuan Utama
Di samping hasil temuan nyata bahwa secara keseluruhan, hanya 20% perusahaan yang merupakan Pacesetters (sepenuhnya siap), penelitian ini juga mengungkapkan bahwa 29% perusahaan di Indonesia dianggap Laggards (tidak siap) dengan tingkat kesiapan hanya 1%, atau Followers (kesiapan terbatas) di 28%. Beberapa dari penemuan yang paling signifikan termasuk:

• URGENSI: Maksimal satu tahun sebelum perusahaan mulai melihat dampak negatif bisnis. 68% dari responden di Indonesia yakin bahwa mereka memiliki maksimal satu tahun untuk mengimplementasikan strategi AI sebelum organisasi mereka mulai merasakan dampak negatif bisnis yang signifikan

• STRATEGI: langkah pertama adalah strategi, dan organisasi-organisasi berada di jalan yang tepat. Lebih dari tiga perempat (86%) organisasi dikategorikan sebagai Pacesetters atau Chasers, dan tidak ada yang berada di kategori Laggards. Selain itu, 99% organisasi sudah memiliki strategi AI yang sangat jelas, atau sedang dalam proses untuk mengembangkan strategi tersebut, yang merupakan sinyal positif, namun menunjukkan ada lebih banyak hal yang harus dilakukan.

• INFRASTRUKTUR: Jaringan tidak siap untuk memenuhi beban kerja AI. 95% bisnis di dunia sadar bahwa AI akan meningkatkan beban kerja infrastruktur, namun di Indonesia 47% organisasi menganggap infrastruktur mereka sangat skalabel. Sementara (35%) mengindikasikan bahwa mereka memiliki skalabilitas terbatas atau tidak skalabel sama sekali dalam menjawab tantangan AI baru dalam infrastruktur IT mereka. Untuk mengakomodasi permintaan meningkat akan daya dan komputasi AI, lebih dari enam dari 10 (65%) perusahaan akan membutuhkan data center graphics processing units (GPU) lebih besar untuk mendukung beban kerja AI saat ini dan di masa datang.

BACA JUGA:  Indosat, Cisco dan Komdigi Berkolaborasi Siapkan Talenta Keamanan Siber Indonesia

• DATA: Organisasi tidak bisa mengabaikan pentingnya memiliki data yang ‘siap AI.’ Meskipun data berfungsi sebagai tulang punggung yang dibutuhkan untuk operasional AI, data juga merupakan area dengan kesiapan paling lemah, yakni memiliki jumlah Laggards terbesar (5%) dibandingkan dengan pilar-pilar lain. Sebanyak 78% dari semua responden mengklaim sampai batas tertentu data mereka terkotak-kotak (siloed) atau terfragmentasi dalam organisasi mereka. Hal ini memberikan tantangan sangat besar karena kompleksitas integrasi data yang ada di berbagai sumber dan menjadikannya tersedia untuk implikasi AI bisa memberikan dampak pada kemampuan untuk memanfaatkan potensi penuh dari aplikasi ini.

• TENAGA KERJA: Kebutuhan akan keterampilan AI menunjukkan adanya kesenjangan digital era baru. Dewan Direksi dan Tim Kepemimpinan adalah yang paling mungkin merangkul perubahan yang dibawa oleh AI, dengan masing-masing 80% menunjukkan penerimaan yang tinggi atau sedang. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk melibatkan manajemen tingkat menengah di mana 16% memiliki penerimaan yang terbatas atau tidak sama sekali terhadap AI, dan di antara karyawan karena hampir sepertiga (31%) organisasi melaporkan bahwa kesediaan karyawan untuk mengadopsi AI terbatas atau bahkan menolaknya. Meskipun 95% responden mengatakan bahwa mereka telah berinvestasi dalam meningkatkan keterampilan karyawan yang ada, hanya sedikit (3%) yang menyinggung kesenjangan AI yang muncul, yang mengungkapkan keraguan tentang ketersediaan talenta yang cukup untuk meningkatkan keterampilan.

• TATA KELOLA: Awal yang lambat dalam pengadopsian kebijakan AI. Sebanyak 67% dari organisasi melaporkan bahwa mereka tidak memiliki kebijakan AI menyeluruh, area yang harus ditangani saat perusahaan mempertimbangkan dan menentukan semua faktor yang memberikan risiko yang menggerus keyakinan dan kepercayaan. Faktor-faktor ini termasuk privasi data dan kedaulatan data, dan pemahaman dan kepatuhan dengan peraturan dunia. Selain itu, perhatian besar harus diberikan kepada konsep bias, keadilan, dan transparansi baik di data maupun algoritma.

BACA JUGA:  Cisco Secure AI Factory with NVIDIA, Bikin AI Lebih Mudah Diterapkan dan Diamankan

• BUDAYA: Sedikit persiapan, namun bermotivasi tinggi untuk menjadikannya prioritas. Pilar ini memiliki jumlah Pacesetter terendah (7%) dibandingkan dengan kategori lainnya yang sebagian besar didorong oleh fakta bahwa 7% perusahaan belum membuat rencana manajemen perubahan dan dari mereka yang telah melakukannya, 69% masih dalam proses. Eksekutif level direksi adalah yang paling mudah menerima perubahan AI internal dan harus memimpin dalam mengembangkan rencana komprehensif dan mengkomunikasikannya dengan jelas kepada manajemen menengah dan karyawan yang memiliki tingkat penerimaan yang relatif lebih rendah. Kabar baiknya adalah adanya motivasi yang tinggi. Lebih dari delapan dari 10 (86%) mengatakan bahwa organisasi mereka merangkul AI dengan tingkat urgensi yang sedang hingga tinggi. Hanya 1% yang mengatakan bahwa mereka menolak perubahan.

Tags: Cisco
Previous Post

ManageEngine Rilis Solusi Remote Monitoring Management Berbasis Cloud untuk Endpoint

Next Post

TOP Digital Awards 2023: BRIN Sukses Lakukan Integrasi dan Digitalitasi Seluruh Proses Bisnis

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TOP DIGITAL AWARDS

hanwha-life-top-digital-awards-2025-level-stars-5

Hanwha Life Raih TOP Digital Awards 2025 Level Stars 5

Teguh Imam Suyudi
23 December 2025 | 16:00

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen TOP Digital Awards 2025

Rumah Pendidikan Kemendikdasmen Raih Penghargaan Bergengsi TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
7 December 2025 | 09:00

Moratelindo TOP Digital Awards

Moratelindo Perkuat Kepemimpinan Transformasi Digital Lewat Dua Penghargaan Nasional TOP Digital Awards 2025

Teguh Imam Suyudi
6 December 2025 | 09:00

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Ilham Habibie: Digital adalah Instrumen Strategis Daya Saing Global, Kedaulatan, dan Ketahanan Ekonomi Bangsa

Fauzi
5 December 2025 | 13:58

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

PT Pertamina International Shipping (PIS) Raih Penghargaan TOP Digital Awards 2025 Bintang 5

Ahmad Churi
5 December 2025 | 11:14

Load More

TERPOPULER

  • Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    Amar Bank: “Layanan Bank Digital Bukan Hanya untuk Menambah Jumlah Nasabah, yang Terpenting untuk Edukasi Keuangan”

    1 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Infinix Siap Luncurkan Ponsel Gaming Flagship Terbaru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebih Dari Satu Juta Insiden Backdoor Terdeteksi di 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perkuat Literasi Keuangan, OJK Bahas Peluang dan Risiko Pembiayaan Digital di UNRI

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cara Mudah Mengurus Surat Pindah Domisili secara Online

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
iklan bni
cover it works
cover it works

ICT PROFILE

Transformasi Digital Kian Gencar, Akamai Luncurkan Akamai Connected Cloud dan Layanan Baru

Tunjuk Fiona Zhang, Akamai Perkuat Strategi Channel-First Kawasan APJ

Fauzi
8 April 2026 | 16:26

Akamai menunjuk Fiona Zhang sebagai Wakil Presiden Regional Bidang Penjualan dan Program Saluran untuk kawasan Asia-Pasifik dan Jepang. Penunjukan Fiona...

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Intel Tunjuk Pimpinan Baru untuk Kawasan APJ

Fauzi
7 April 2026 | 11:46

Intel Corporation mengumumkan penunjukan Santhosh Viswanathan sebagai Vice President and Managing Director untuk kawasan Asia Pasifik dan Jepang (APJ). Dengan...

EXPERT

Adopsi AI Dorong Perubahan Pola Konsumsi Data, 5G Jadi Fondasi Pengalaman Digital

Adopsi AI Dorong Perubahan Pola Konsumsi Data, 5G Jadi Fondasi Pengalaman Digital

Ahmad Churi
2 April 2026 | 21:21

ItWorks.id- Laporan Ericsson ConsumerLab 2026 mengungkap meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah pola konsumsi data seluler, terutama pada kebutuhan...

Pencadangan Data (Backup) dan Keamanan Kini Menjadi Persoalan Ekonomi AI

Fauzi
30 March 2026 | 14:36

Oleh: Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia, Cloudera IDC dalam Global DataSphere Forecast memproyeksikan bahwa volume data global akan melonjak hingga...

TIK TALKS

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

Stephanus Oscar – Data Center dengan Kapasitas 6 Megawatt di Jakarta | It Works Podcast #5

redaksi
16 August 2022 | 15:30

Di masa akan datang banyak aplikasi yang akan membutuhkan low latency connectivity. Lalu apa kaitannya dengan Edge DC yang hadir...

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

Edward Samual – Memproses Data dari Hulu Sampai Hilir | It Works Podcast #4

redaksi
15 August 2022 | 12:30

Bagaimana cara mengolah Big Data sehingga dapat divisualisasikan, serta bagaimana dapat melakukan analitik dan dapat memprediksikan apa yang harus dilakukan...

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Info Iklan
  • Disclaimer
  • Email

Itworks - Inspire Great & Telco for Business Performance | All Rights Reserved

  • Home
  • TOP Digital Awards
  • Business Solution
  • Telco
  • Digital
  • E-Gov
  • Product
  • Forti
  • TIK Talks
  • More
    • Expert
    • ICT Profile
    • Fintech
    • Research
    • Tips & Trick
    • Event
    • Foto