JAKARTA- Kemajuan teknologi dan peradaban manusia tidak lepas dari kemajuan pendidikan. Bagaimana persiapan Indonesia menghadapi Asean Economy Community (AEC) dalam mencetak generasi unggul dan terampil?
Berdasarkan data GCI, populasi Asean saat ini sekitar 600 juta jiwa. Dari 600 juta jiwa, 243 nya berada di Indonesia. Berdasarkan indeks tahun 2012 hingga 2013 daya saing, bangsa Indonesia masih berada pada urutan 50, menurun 4 level dibanding tahun 2011. Dikawasan Asean sendiri, Indonesia masih berada jauh di bawah Singapura di urutan ke 2, Malaysia urutan ke 25 dan Thailand ke 38.
Ketua Rektor Indonesia, Prof.Laode M Kamaluddin, Ph.D mengatakan. Indonesia masih harus bekerja keras untuk meningkatkan daya saingnya di kawasan Asean sendiri. Ada dua prasyarat utama sebuah negara maju di era Asia, pertama adalah karakter dan kedua adalah kompetisi.
“Karakter tentu sangat penting. Kita perlu belajar dari kebangkitan Korea Selatan, terpaan perdagangan bebas tentu tidak terlalu berdampak bagi negara tersebut. Pasalnya kekuatan produksi dan industry lokal lebih kuat dan rasa cinta terhadap produk dalam negeri pun juga kuat. Sehingga terpaan produk – produk luar tidak terlalu berdampak terhadap produk lokal. Kedua adalah kompetisi. Hal ini menyangkut langsung dengan kualitas baik SDM, produk maupun SDAnya. Peningkatan kualitas Sumber daya manusia tidak terlepas dari pendidikan. Sedangkan produktivitas berbanding lurus dengan SDM nya. Logikanya adalah ketika pendidikan mampu menghasilkan SDM unggul maka akan berpengaruh langsung dengan produktivitas, kreativitas dan inovasi,” ungkapnya.
Ia mengungkapkan, semua pimpinan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk menyiapkan lulusannya siap bersaing di era Asia. maka mau tidak mau dan siap atau tidak seluruh pimpinan perguruan tinggi di Indonesia harus membuka diri menjalin kerjasama dengan berbagai Perguraun Tinggi baik dalam dan luar negeri. Tujuannya adalah untuk membangun network seluas-luasnya untuk menciptakan lulusan lokal yang berpikir global.
“Lokal dan berpikir global hari ini, tidak mesti harus membuat seseorang mengelilingi dunia. Generasi cyber native punya kecendrungan yang berbeda. Dan perguruan tinggi (PT ) harus siap dengan kecendrungan ini. Menurut data, populasi anak muda-cyber native Indonesia masuk dalam ranking 4 di dunia. Yang harus dilakukan oleh PT adalah reformasi sistem pendidikan. Metoda konvensional face to face tidak mampu menjangkau generasi cyber native ini. Maka pengembangan pendidikan berbasis IT dibutuhkan. Internet user indonesia cukup besar, generasi muda terbiasa dengan realitas dunia maya, googling, twitter, facebook, dan media online lainnya adalah kehidupan keseharian dari generasi ini,” ujarnya.
Laode mengatakan, untuk mencetak generasi unggul perlu peranan berbagai pihak, salah satunya rektor. Oleh karena itu, dibentuk Forum Rektor Indonesia (FRI) yaitu forum tempat berkumpulnya seluruh pimpinan tertinggi Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta se-Indonesia. Ia menambahkan, saat ini ada 3200 perguruan tinggi berkumpul di FRI. Para rektor ini berkumpul, berdiskusi, manyampaikan gagasan-gagasannya dan gagasannya tersebut di sumbangkan baik untuk membantu menetapkan kebijakan strategis pemerintah maupun sebagai gerakan moral dan intelektual yang kemudian menggerakkan kaum intelektual di kampus masing –masing untuk menyelesaikan persoalan bangsa. (RET)














