PT Prima Layanan Nasional Enjiniring (PLN Enjiniring/PLNE), anak usaha PT PLN (Persero), terus memperkuat langkah transformasi digital sebagai bagian dari upaya menjadi center of excellence atau pusat keunggulan di ekosistem PLN Group.
Melalui penguatan operasional dan digitalisasi menyeluruh, PLNE menegaskan komitmennya menghadirkan efisiensi, transparansi, dan keunggulan dalam setiap layanan perusahaan.
“Transformasi digital bagi PLN Enjiniring bukan sekadar implementasi teknologi, tetapi perubahan budaya kerja dan proses bisnis yang membuat setiap aktivitas menjadi lebih efisien, terukur, dan terintegrasi,” ujar Yehuda Bayu Kristiawan, VP Power System, Digital dan Teknologi Informasi PLNE dalam presentasi penjurian TOP Digital Awards 2025 yang dilakukan secara daring, Senin (10/11/2025).
Hadir pula dalam penjurian ini, Ervin Hermawan (Manajer Teknologi Informasi) dan Adi Nugroho (Manager Produk Digital dan Analisis Data). Tim PLNE dalam presentasinya memaparkan materi berjudul Towards the PLN Enjiniring Excellence Center: Strengthening Operations through Intelligent Digital Transformation.
PLN Enjiniring telah beroperasi selama 23 tahun, dengan lebih dari 250 engineer tersertifikasi dan lebih dari 3.000 proyek yang berhasil diselesaikan di seluruh Indonesia. Visi besarnya adalah menjadi perusahaan global nomor 1 pilihan pelanggan untuk solusi engineering terintegrasi dan terpercaya.
Sebagai bagian dari PLN Group dan BUMN, PLNE menjunjung tinggi tata nilai AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif) serta menjalankan tiga misi utama yang sejalan dengan visi PLN menuju “Electricity for a Better Life”.
Dalam menjalankan bisnisnya, PLNE menerapkan strategi market development, market penetration, dan product development. Produk yang dikembangkan pun semakin beragam—mulai dari engineering design dan feasibility study, hingga engineering for innovative technology untuk industri hijau, power solution, startup incubation, serta penerapan smart grid.
Dari strategi tersebut, PLN Engineering memiliki produk awal berupa engineering design dan feasibility study. Kemudian berkembang dengan menyediakan engineering for innovative technology untuk mendukung pelaksanaan engineering di industri hijau, power solution, CEMS, inkubasi startup, dan implementasi smart grid.
“Kami juga telah merambah digitalisasi sebagai bagian dari service engineering. Contohnya, pengembangan Transmission Health Index Dashboard, Engineering Database and Analytic Center, serta Power System Digital Center.
Selain itu, PLN Enjiniring memiliki pengalaman sebagai EPC project contractor dan juga mengelola engineering asset optimization seperti kontrak O&M di PLTMG, CNG Plant, dan pengelolaan aset transmisi.
“Kami ingin menjadi mitra strategis PLN Group, bukan sekadar kontraktor engineering, tapi juga penggerak inovasi dan efisiensi berbasis data,” kata Yehuda menegaskan.
Struktur Organisasi dan Tata Kelola Digital
Transformasi digital di PLNE tidak berjalan spontan, tetapi melalui fondasi organisasi yang kuat. Di bawah jajaran direksi, terdapat unit khusus VP Power System Digitalisasi dan Information Technology yang mengelola seluruh aspek teknologi informasi dan digital perusahaan.
PLNE telah menyusun Information Technology Master Plan (ITMP) yang terintegrasi dengan rencana jangka panjang perusahaan. Roadmap ini dibangun dalam tiga fase besar, yakni Digital and Security Foundation (2024–2025), Maximizing IT Capabilities (2026–2027), serta Advanced Technology Integration (2028).
Dalam periode lima tahun tersebut, PLNE menyiapkan 54 inisiatif TI yang mencakup pengembangan aplikasi, pengelolaan data, infrastruktur, serta tata kelola TI dan keamanan. Visi pengembangan TI PLNE adalah menjadi enabler transformasi digital dalam mendukung visi perusahaan melalui solusi Teknologi Informasi yang terintegrasi, secure, dan scalabe.
“Kami ingin setiap sistem mendukung efisiensi proses, pengambilan keputusan berbasis data, dan optimalisasi kinerja,” ujarnya.
Untuk memastikan setiap investasi tepat guna, PLNE menerapkan sistem tata Kelola yang ketat mulai dari penyusunan inisiatif Program TI, kajian kelayakan proyek, analisis risiko (GRC), hingga endorsement anggaran investasi oleh Tim PLN Holding.
Selain itu, kebijakan digital juga diintegrasikan dengan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) dan penguatan kesetaraan gender melalui Women Talent Program dan Millennial Talent, Program yang mendorong regenerasi dan partisipasi talenta muda digital.
Maturity Level Meningkat
Sejak tahun 2021, kata Yehuda, PLNE secara rutin mengukur tingkat kematangan (maturity level) pengelolaan TI. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun ke tahun. Tahun 2021, tingkat IT Maturity Level COBIT 5 berada di 2,96, kemudian naik menjadi 3,09 pada 2022 dan 4,00 pada 2023.
“Untuk pengukuran tahun 2025 tengah berlangsung dan diharapkan mencatat skor yang lebih baik seiring dengan implementasi sistem digital yang semakin massif,” kata dia.
Untuk menjaga keamanan sistem, PLNE telah memiliki sertifikat ISO/IEC 27001:2022, security monitoring system, serta melakukan self-assessment ke Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dengan skor 3.12. .
“Kami membangun infrastruktur keamanan yang lengkap, termasuk backup server di beberapa lokasi, firewall, penetration test, dan otomasi keamanan, agar operasi tetap berjalan tanpa gangguan,” terang Yehuda.
Berbagai pelatihan dan sertifikasi SDM juga dilakukan agar tim TI mampu mengelola sistem keamanan sesuai standar global.
Inovasi Digital Unggulan
Memahami kompleksitas proyek yang semakin besar dan peran PLNE sebagai PLN Guardian Spending sehingga membutuhkan peningkatan produktivitas dan perbaikan kualitas produk. Solusinya adalah digitalisasi menuju SSoT atau Single Source of Truth, yaitu sistem terpadu yang mengintegrasikan seluruh proses bisnis dan data ke dalam satu platform.
Digitalisasi di PLNE ini mengintegrasikan Aplikasi Virtual Cubicle sebagai aplikasi utama dengan aplikasi lainnya yang didukung kebijakan keamanan infrastruktur TI yang terkonsolidasi dengan PLN Holding. Platform digital ini mengelola seluruh tahapan proyek secara end-to-end, mulai dari perencanaan, pemasaran, realisasi, pengadaan hingga monitoring secara real-time dan paperless.
Aplikasi Virtual Cubicle ini terintegrasi dengan aplikasi pendukung seperti sistem Kepegawaian, Keuangan, dan Document Management. “Seluruh proses berjalan lebih terhubung, terdokumentasi, dan terukur, sehingga mendukung terwujudnya pengelolaan proyek yang efektif, kolaboratif, dan berbasis data,” ujar Yehuda.
Beberapa fitur unggulan Aplikasi Virtual Cubicle antara lain Proposal and Contract Awarding, Project Control & Monitoring, Timesheet & Workload, Project and Contract Administration, Project Budget Controlling, Procurement Process Monitoring, Dashboard & Monitoring, serta Quality Assurance & Quality Control.
Aplikasi lainnya yang juga diimplementasikan PLNE adalah Dashboard Management System yang dikembangkan untuk untuk memantau progres proyek strategis, termasuk proyek yang bersumber dari RUPTL PLN, proyek enjiniring jaringan, pembangkit, dan konstruksi, serta pengembangan enjiniring, pendapatan perusahaan, dan pengadaan.
Aplikasi ini menyajikan data real-time dan terintegrasi dari berbagai sistem internal, sehingga memudahkan pimpinan dan tim operasional dalam melakukan monitoring kinerja, analisis capaian, serta pengambilan keputusan berbasis data.
PLNE juga menggunakan Microsoft Teams sebagai sarana koordinasi proyek lintas lokasi dan dokumen digitalisasi, yang terbukti meningkatkan efisiensi penyelesaian ratusan proyek dalam waktu singkat.
Untuk meningkatkan efisiensi perhitungan biaya, PLNE mengimplementasikan Robotic Process Automation (RPA) dalam menghitung Harga Perkiraan Engineering (HPE). Proses otomatis ini meningkatkan kecepatan, akurasi, serta mengurangi potensi human error.
RPA digunakan dalam estimasi HPE untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU), yang mencakup aspek civil, elektrikal, dan mekanika. “Dengan RPA, efisiensi meningkat signifikan. Proses yang sebelumnya memakan waktu berhari-hari kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit,” ujar Yehuda.
Integrasi Data dan Pengelolaan Aset Berbasis Analitik
PLNE juga menerapkan Manajemen Aset Transmisi (TRAMA) untuk data aset transmisi PT PLN (Persero) secara terpusat berbasis digital baik web based maupun mobile apps. TRAMA memanfaatkan data analytics untuk memantau health index aset transmisi secara real time.
Melalui pendekatan prediktif, sistem ini membantu memperpanjang umur aset, menurunkan biaya perawatan (OPEX), serta mengoptimalkan CAPEX perusahaan.
Selain TRAMA, PLNE juga menggunakan Continuous Emission Monitoring System (CEMS) yang terhubung langsung dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk memastikan kepatuhan lingkungan.
Sistem lain yang tak kalah penting adalah Geographical Information System (GIS), yang memetakan aset PLN secara digital guna mendukung perencanaan proyek baru dan asset expansion plan.
Pada proyek Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), integrasi data lokasi dan analitiknya kini telah terhubung dengan aplikasi PLN Mobile, sehingga memperkuat transformasi layanan publik berbasis digital.
Sebagai bagian dari transformasi proses keuangan, PLNE mengembangkan Aplikasi Vendor Invoicing System, sebuah sistem yang memungkinkan pemantauan tagihan vendor secara transparan dan real time.
“Sistem ini mempercepat proses verifikasi dan pembayaran, meningkatkan transparansi, serta mengurangi potensi kesalahan administrasi,” jelas Yehuda.
Sistem ini juga menjadi salah satu dari tiga inovasi unggulan PLNE yang direkomendasikan untuk direplikasi oleh unit lain di PLN Group, bersama dengan Aplikasi Virtual Cubicle dan Robotic Process Automation (RPA).
Komitmen Kepemimpinan dan Penghargaan
Menurut Yehuda, transformasi digital di PLNE tidak lepas dari dukungan manajemen puncak. Komitmen CEO terhadap digitalisasi dituangkan dalam kebijakan perusahaan serta dukungan penuh terhadap inisiatif transformasi teknologi di setiap lini.
“Dukungan pimpinan menjadi faktor kunci. Transformasi tidak akan berhasil jika hanya dilakukan di level teknis tanpa komitmen strategis dari top management,” tegas Yehuda.
Ke depan, PLNE berkomitmen untuk terus mengembangkan sistem berbasis AI (Artificial Intelligence), IoT (Internet of Things), serta digitalisasi untuk meningkatkan efisiensi desain dan pengelolaan proyek.
“Kami sedang menyiapkan fase berikutnya, di mana seluruh proses engineering akan terintegrasi secara digital, dari desain hingga evaluasi performa aset. Tujuannya satu, menjadi center of excellence PLN Group,” tutur Yehuda.
Atas berbagai inovasi dan capaian tersebut, PLN Enjiniring berhasil meraih sejumlah penghargaan nasional di bidang digitalisasi dan inovasi proses bisnis, antara lain TOP Digital implementation # 5 Stars dan TOP Leader on Digital Implementation dalam ajang TOP Digital Awards 2024. Tahun ini, PLNE juga kembali menjadi kandidat peraih penghargaan TOP Digital Awards 2025.
Editor: Fauzi














